'Paketan Kaleng' Bertuliskan HTI Menebar Ajaran Khilafah ke Santri Pamekasan

Oleh Musthofa Aldo pada 17 Des 2019, 16:00 WIB
Diperbarui 17 Des 2019, 16:00 WIB
HTI

Liputan6.com, Pamekasan Meski sebuah organisasi dibubarkan, tetapi sebuah ideologi tak bisa mati begitu saja. Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI oleh pemerintah indonesia pada 19 Juli 2017 hanya membatasi aktivitas di muka publik. Di bawah tanah, organisasi yang berbasis di Inggris ini bergerak lewat internet dan 'paketan kaleng'.

Sarana internet, dipakai HTI untuk menjangkau penduduk kota yang melek teknologi. Di aplikasi berbagi pesan WhatsApp, muncul banyak grup berjudul khilafah dengan jumlah unggahan konten khilafah lebih dari 500 konten sehari semalam.

Sementara untuk menjangkau kaum pelajar desa, khususnya santri yang dilarang memegang handphone, HTI memakai taktik 'paketan kaleng', disebut begitu karena tak tertera alamat pengirim pada sampul luar.

Mereka mengirim paket buku bacaan bertema Al-Qur'an, tetapi pada sebagian eksemplar diselipkan buku saku berisi penjelasan apa itu khilafah dan dasar negara khilafah versi HTI.

Dua bulan lalu, paketan kaleng itu sampai ke Yayasan Wakaf Taufiqus Sibyan (Yastafiq), yayasan ini mengelola lembaga pendidikan mulai dari Ibtidaiyah hingga Aliyah, di Desa Tlangoh, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.

Akh Fakih, Ketua Yastafiq, membuka paketan berisi 8 buku dan menemukan buku tentang HTI itu terselip di salah satu buku.

"Iya, ada kata HTI di sampul buku itu, isinya memang bahas khilafah dengan detil, tentang negara Islam dan hukum-hukum fatwa," kata Fakih, Senin (16/12/2019). 

2 dari 2 halaman

Paketan Kaleng Lain Kecamatan

HTI
Hasil tangkapan layar grup pendukung khilafah dalam whatsaap

Pengiriman paketan kaleng ke lembaga pendidikan ini agaknya telah terencana. Selain Yastafiq, kata Fakih, di Kecamatan Palengaan dan Pagantenan ada lembaga lain juga menerima paketan serupa.

Dan meski tahu HTI dilarang, Fakih tak membuang buku saku itu melainkan malah membacanya. Ia Juga tak melapor ke polisi atau lembaga lain karena baginya bukan hal yang subtansial.

"Saya tak pernah baca buku HTI, karena ada kiriman itu jadi saya baca, untuk menambah khazanah keilmuan saja. Tapi tidak untuk diajarkan ke murid dan santri," ucapnya.

Dia pun baru menceritakan pengalamannya ini setelah belakangan ramai temuan soal materi ujian tentang khilafah di sejumlah sekolah di Jawa Timur.

"Ini membuktikan bahwa meski HTI dilarang, mereka tetap bergerilya," ungkap dia.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓