Tabuhlah, Pagi Go Green ala SMA di Banjarnegara

Oleh Muhamad Ridlo pada 15 Des 2019, 06:00 WIB
Diperbarui 15 Des 2019, 06:16 WIB
Program Tabuhlah, penerapan go green di SMA Negeri 1 Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Heny untuk Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banjarnegara - Ratusan bibit pohon berjejer di halaman SMA Negeri 1 Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Tengah pagi itu. Ini lah bibit tanaman yang hendak ditanam di sekolah untuk menerapkan konsep go green di sekolah ini.

Konsepnya menarik. Tiap siswa akan menanam dan merawat satu tanaman dalam program tanam buah di sekolah atau Rabuhlah.

Tabuhlah adalah upaya sekolah untuk menyadarkan siswa mengenai pemanasan global yang sulit dicegah. Satu-satunya jalan adalah dengan memperlambatnya dengan menerapkan go green.

Misalnya, dengan gerakan menanam dan merawat pohon sebagai bagian dari go green atau budaya ramah lingkungan. Di tahap awal program Tabuhlah, sebanyak 140 pohon buah-buahan akan ditanam. Tanaman buah ini adalah bantuan dari BPDAS Serayu Opak Progo.

"Menyadarkan anak-anak tentang go green, kemudian bagaimana pemanasan global yang sulit dihindari. Tujuannya biar suka menanam dan merawat pohon," kata Kepala SMA Negeri 1 Sigaluh, Ibnu Rohmadi, Rabu 11 Desember 2019.

Dia bilang sebenarnya di SMA Negeri 1 Sigaluh sudah apa pepohonan hijau. Tetapi, kondisinya sudah tak produktif dan terlampau tinggi sehingga membahayakan.

2 of 3

1 Siswa Merawat 1 Tanaman

Program Tabuhlah, penerapan go green di SMA Negeri 1 Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Heny untuk Muhamad Ridlo)
Program Tabuhlah, penerapan go green di SMA Negeri 1 Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Heny untuk Muhamad Ridlo)

Rencananya, sebagian pohon bakal ditebang dan diganti dengan tanaman buah yang lebih produktif. Lainnya akan ditanam di pekarangan kosong sekolah.

Awal penerapan go green di ini, hanya kelas 10 atau kelas 1 SMA Negeri Sigaluh yang wajib menanam dan merawat pohon. Hal ini mempertimbangkan ketersediaan bibit tanaman dan lahan yang ada. Jenis tanamannya yakni jeruk, mangga, durian, dan pete.

Ke depan, jika lahan sekolah habis, bibit tanaman akan dibawa ke rumah oleh masing-masing siswa. Selanjutnya, tanaman itu harus dirawat selama tiga tahun menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Sigaluh.

"Ini kan masih ada sekitar 1.000 meter persegi lebih yang kosong. Jadi ya masih terbuka kalau hanya sekitar 140 pohon. Tapi nanti kalau memang rumahnya mencukupi ya ditanam di rumah dibawa ulang," dia menjelaskan.

Sebagai bagian dari kampanye Go Green, program satu siswa merawat satu pohon ini akan difoto pada awal penanaman. Foto itu akan didokumentasikan di website sekolah. Tiga tahun kemudian, sebelum lulus, siswa akan kembali difoto dengan tanaman yang ia rawat selama tiga tahun.

Program Tabuhlah ini merupakan program penguat SMA N 1 Sigaluh yang menerapkan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL). Ini karena Kecamatan Sigaluh dikenal sebagai kawasan agro industri, terutama dengan komoditas buah salak dan durian.

3 of 3

Makanan Tambahan

Program Tabuhlah, penerapan go green di SMA Negeri 1 Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Heny untuk Muhamad Ridlo)
Program Tabuhlah, penerapan go green di SMA Negeri 1 Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Heny untuk Muhamad Ridlo)

Selain ramah lingkungan dan membuat sekolah jadi sejuk, program tabuhlah ini juga menjadi program makanan tambahan untuk siswa. Anak sekolah bisa menikmati buahnya.

Program pendukungnya, anggota pramuka SMAN 1 Sigaluh juga akan dilatih dengan kemampuan pembibitan buah, pengolahan buah, hingga pemasaran. Terlebih, sebagian siswa SMA Negeri Sigaluh juga kerap membantu orang tuanya di kebun maupun memanen buah.

"Diharapkan sekolah ini menjadi sekolah double track, jalur ganda, siswa yang lulus sekolah bisa melanjutkan kuliah, juga bisa berwirausaha, utamanya di bidang agroteknologi," kata Ibnu.

Koordinator Program Tabuhlah SMAN 1 Sigaluh Sobar Hidayat mengatakan, program ini sebenarnya berlatar dari ide sederhana, bahwa di sekolahnya banyak juga anak-anak yang tidak memiliki uang jajan dan terkadang memetik buah mangga milik sekolah yang sudah lama ditanam.

Penanaman pohon buah-buahan sekaligus menjadi asupan gizi dari pohon yang ditanam dan dirawat siswa.

"Mereka kadang sekelas rujakan bersama. Karenanya, kita tanam lebih banyak tanaman buah, minimal bisa dinikmati siswa kita ketika berbuah," kata Sobar.

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓