Bus Rapid Transit Beroperasi di Cirebon, Solusi Atasi Macet?

Oleh Panji Prayitno pada 13 Des 2019, 20:00 WIB
Diperbarui 15 Des 2019, 19:13 WIB
Bus Rapid Transit Beroperasi di Cirebon, Solusi Atasi Macet?

Liputan6.com, Cirebon - Sejumlah gebrakan tengah disiapkan Pemkot Cirebon dalam meningkatkan kinerjanya tahun 2020 mendatang.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cirebon akan mengoperasikan Bus Rapid Transit (BRT) pada 2020 mendatang. Bus tersebut akan beroperasi di dalam kota.

"Ini sebagai salah satu wajah baru Kota Cirebon dalam memberikan alternatif warga di bidang jasa transportasi," kata Kepala Dishub Kota Cirebon Yoyon Indrayana, Kamis (12/12/2019).

Dia menyebutkan dari 10 unit BRT yang tersedia, sembilan unit yang dioperasikan untuk umum. Sedangkan satu unit lainnya untuk pegiat literasi.

Dalam operasinya, Dishub Kota Cirebon sudah menyiapkan dua opsi rute perjalanan. Yakni pertama dari kawasan Teja Berlian menuju Brigjen Darsono By Pass, bundaran Kedawung hingga kembali ke titik awal.

"Sedangkan rute kedua, dari wilayah Argasunya menuju BAT atau kawasan kota lama, untuk rute ini bolak balik," sebut dia.

Yoyon mengatakan, BRT sebagai alternatif pilihan jasa transportasi umum di Kota Cirebon. Keberadaan BRT, kata Yoyon sebagai bagian dari upaya mendidik warga kota agar bisa tertib dalam menggunakan jasa transportasi.

"Nanti operasional ini akan dikerjasamakan dengan pihak ketiga. Dari hasil kajian ada delapan halte BRT Cirebon yang bisa kami bangun sementara kebutuhan sekitar 40 an nah sisanya nanti dibangun pihak ketiga," kata dia.

2 dari 2 halaman

Solusi Macet?

Bus Rapid Transit Beroperasi di Cirebon, Solusi Atasi Macet?
Suasana di dalam Bus BRT yang menjadi alternatif transportasi di Kota Cirebon. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Sementara itu, dia mengklaim keberadaan BRT tidak mengganggu pengusaha angkutan dalam kota maupun transportasi online. Sebab, dala operasinya, jalur yang dilalui BRT bukan rute pelajar.

"Yang direncanakan hanya tarif pelajar.Kita sudah melakukan studi komparasi dengan daerah lain yang memiliki BRT, tarif umum sekitar Rp 5000, sedangkan pelajar bisa Rp 3000," sebut Yoyon.

Sedangkan Pj Sekda Kota Cirebon Anwar Sanusi meminta agar mengkaji lebih dalam rencana operasional BRT. Kajian tersebut agar keberadaan BRT tidak menimbulkan konflik baru.

Dia memastikan, keberadaan BRT hanya menjadi alternatif jada angkutan umum yang ada di Kota Cirebon. Oleh karena itu, dia tidak bisa menjamin BRT merupakan solusi untuk mengatasi kemacetan.

Menurut Anwar, tingginya warga yang datang berlibur ke Cirebon mengakibatkan kemacetan di beberapa titik. Oleh karena itu, Pemkot Cirebon belum memastikan ada jalur khusus untuk BRT sendiri.

"Selain itu, saya ingin operasional BRT di jaga petugas keamanan. Karena ada satu rute yang rawan tawuran. Sehingga perlu ada petugas yang selalu mengawal," kata dia.

Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Fitria Pamungkaswati mengapresiasi dengan rencana ini. Menurut dia, keberadaan BRT banyak manfaat untuk masyarakat.

"Khususnya wilayah selatan Kota Cirebon, sangat membutuhkan angkutan umum untuk menunjang aktivitas masyarakat," kata Fitria.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓