Pemprov Jabar Beri Kepastian Nasib Bandara Husein Sastranegara Bandung

Oleh Huyogo Simbolon pada 12 Des 2019, 03:00 WIB
Diperbarui 14 Des 2019, 01:13 WIB
Bandara Internasional Husein Sastranegara

Liputan6.com, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan, aktivitas di Bandara Husein Sastranegara Kota Bandung, akan tetap berlangsung. Bandara tersebut tidak akan dibiarkan mati meski sejumlah penerbangan dipindah ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

Asisten Daerah Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Jawa Barat Eddy Nasution mengatakan, bahwa masih banyak wilayah di Jawa Barat yang harus dikembangkan. Keberadaan Bandara Kertajati menurutnya berfungsi melengkapi layanan penerbangan yang ada.

"Kita tidak ada untuk mematikan bandara Husein. Kan yang ingin maju daerahnya enggak cuma Bandung saja. Jabar itu bukan hanya Bandung. Kami tidak ada wacana menutup Bandara Husein Sastranegara. Justru, makin banyak bandara makin bagus," kata Eddy, Selasa (10/12/2019).

Sebelumnya, Pemerintah Kota Bandung menilai Bandara Husein Sastranegara sepi hingga berimplikasi terhadap penurunan kunjungan wisata. Hal itu tidak lepas dari pemindahan sejumlah rute penerbangan ke Bandara Kertajati.

"Bandara Husein Sastranegara didatangi pesawat lebar kan tidak bisa. Itu kan realita yang ada, parkir susah. Kita berpikir ke depan, makin lama angkutan udara makin meningkat," ujarnya.

Meski Pemkot Bandung menyebutkan adanya alasan penurunan wisatawan, Edi menampik bahwa angka wisatawan yang datang ke Jawa Barat masih didominasi oleh Kota Bandung, terutama dari Singapura dan Malaysia.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Barat, Hery Antasari menilai operasional Bandara Husein Sastranegara masih normal.

"Memang selama ini tidak ramai? Menurut kami Bandara Husein normal saja. Bedanya ada pembagian rute penerbangan saja," kata Hery.

Menurutnya, industri angkutan udara diprediksi terus meningkat dari tahun ke tahun. Ia memprediksi, Bandara Husein akan kesulitan melayani penumpang.

"Saat ini aja menambah frekuensi kelabakan, taxi way-nya terbatas, apron-nya terbatas, conveyor belt terbatas. Dua penerbangan bareng aja desek-desekan," ujar Hery.

Simak video pilihan di bawah ini: