Hikayat Van Gogh dan Geliat Seni Rupa Purbalingga

Oleh Galoeh Widura pada 17 Nov 2019, 09:00 WIB
Diperbarui 19 Nov 2019, 00:13 WIB
Agenda melukis bersama dalam pameran seni rupa, Blarak yang memamerkan lukisan 40 seniman Purbalingga. (Foto: Liputan6.com/Galoeh Widura)

Liputan6.com, Jakarta Berkaca pada riwayat pelukis ternama berkebangsaan Belanda, Vincent van Gogh (1853-1890) ruang untuk pelukis memamerkan karya memang harus tersedia. Van Gogh terkenal, justru beberapa dekade setelah legenda seni rupa ini meninggal dunia.

Itu terjadi setelah adik kandungnya, Theo van Gogh dan istrinya tak kenal lelah bergerilya memamerkan lukisan kakaknya. Sejak itu lah karya Van Gogh dikenal masyarakat luas dan mendapat apresiasi tinggi.

Seiring dengan popularitasnya, harga lukisannya pun melambung. Dua abad kemudian, lukisan berjudul ‘Laboureur dans un champ’ laku dengan harga 81,3 juta dolar AS, sekitar atau Rp1,13 triliun dalam lelang Christie’s.

Menilik ironi di mana seniman tidak menikmati jerih payahnya, perlu agar ruang apresiasi bagi mereka terbuka luas. Apalagi untuk para pelukis di sebuah kabupaten kecil di Jawa Tengah, Purbalingga.

Perlu ruang khusus agar karya seni rupa mereka dikenal. Semakin terbukanya wawasan masyarakat akan seni, semakin aman pula dapur rumah seniman.

Kegundahan seperti itu lah yang disampaikan Ketua Penyelenggara Pameran Seni Rupa Blarak Art, Rochman Tofik di Pendopo Cahyana, Kamis 7 November 2019. Dalam pameran ini, ada sekitar 40 seniman di Purbalingga yang memamerkan karya.

Pameran bertajuk Blarak (akronim dari Purbalingga Bergerak-red) mengandung arti semua aspek di Purbalingga harus bergerak maju ke depan. Termasuk kesenian, seni rupa, dan seni lukis.

“Semangat Blarak tidak sementara, tetapi berupaya menjadi seniman yang abadi untuk memajukan seni lukis yang berkarakter Purbalingga,” ucapnya, Minggu, 10 November 2019.

Penyelenggaraan rutin pameran seni rupa mampu memberi wawasan dan meningkatkan apresiasi masyarakat. Terlebih, acara tersebut juga melibatkan para pelajar dari TK hingga SMA. Sehingga bakat minat kesenian tersalurkan, serta membuka ruang apresiasi bagi para kolektor.

“Kegiatan ini terdiri dari visual art exhibition 2019 dengan tema Blarak, Sarasehan antar seniman Sabtu bersama kurator Drs Suhartono MPd, dan melukis bersama pada Minggu di tempat yang sama (Pendopo Cahyana),” dia menjelaskan.

Simak video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Respons Pemkab Purbalingga

Pameran seni rupa, Blarak, memamerkan lukisan 40 seniman Purbalingga. (Foto: Liputan6.com/Galoeh Widura)
Pameran seni rupa, Blarak, memamerkan lukisan 40 seniman Purbalingga. (Foto: Liputan6.com/Galoeh Widura)

Kegelisahan seniman Purbalingga dijawab tuntas. Pemerintah Kabupaten Purbalingga berencana menjadikan Usman Janatin City Park sebagai ruang untuk berkreasi, termasuk seni rupa.

Ruang eksebisi atau galeri seni akan disediakan khusus. Melihat Blarak Art, Purbalingga tidak kekurangan karya. Ada sekitar 90 lukisan yang dipajang. Tentu saja ini belum karya keseluruhan yang pasti banyak di rumah masing-masing seniman.

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi saat pameran juga meminta kantor pemerintahan daerah untuk menambah estetika ruangan dengan karya pelukis Purbalingga. Tidak hanya itu, PT Angkasa Pura II juga ia minta untuk mengisi ruang bandara dengan lukisan-lukisan dari seniman Purbalingga.

“Sekarang dalam rangka menambah estetika, keindahan dan kecantikan dari kantor kita coba kita tampilkan karya lukis dari seniman Purbalingga, seperti yang sudah saya terapkan di Kantor Setda,” ucap bupati.

Dalam kesempatan itu, Tiwi turut ambil bagian dalam agenda melukis bersama. Goresan sembarang Bupati Tiwi bersama Ketua DPRD Purbalingga R Bambang Irawan pada sebuah kanvas diteruskan oleh tiga seniman Purbalingga yakni Dwi Susila, asal Kalikabong, Kadno, Pengadegan, dan Tri Herwano, Umbaran Art, Sumingkir.

Hasilnya menjadi lukisan cantik pemandangan alam dua gunung dan dua ekor rajawali yang terbang di atasnya. Mereka berdua pun mendapat hadiah lukisan karikatur dari Imam Budiyanto.

Tiwi juga sempat melihat-lihat karya para pelukis. Dia terkesima dengan salah satu lukisan berjudul ‘Senja Datang, Mereka Pulang’ karya Slamet Riyadi. Dibawanya pulang lukisan tersebut dengan ganti nilai uang Rp2 Juta.

Lukisan dengan teknik palet itu memiliki tekstur guratan nyata. Seorang penggembala tengah menggiring sembilan dombanya pulang. Sebuah pemadangan yang tak akan terlihat di daerah perkotaan.

“Mereka pulang melintasi jalan setapak di tengah hutan berjalan kearah mentari tenggelam. Tampak kelelawar berterbangan memulai aktifitasnya sebagai binatang nocturnal. Sisi kirinya terdapat satu rumah kayu yang masih sangat tradisional,” dia menerangkan.

Pameran ini diharapkan menjadi titik tolak kebangkitan seniman lukis Purbalingga untuk terus berkarya dan meningkatkan kualitas. Di sisi lain, akan terbuka ruang untuk pameran karya.

Lanjutkan Membaca ↓