Senja Kala Julukan Kota Udang Cirebon sebagai Warisan Leluhur

Oleh Panji Prayitno pada 15 Nov 2019, 02:00 WIB
Diperbarui 15 Nov 2019, 02:00 WIB
Senjakala Kota Udang Cirebon Warisan Leluhur

Liputan6.com, Cirebon - Cirebon merupakan salah satu wilayah yang tengah banyak dikunjungi wisatawan. Sejarah panjang peradaban Cirebon menjadi salah satu alasan pengunjung datang ke wilayah utara Jawa Barat ini.

Ragam peninggalan sejarah hingga kuliner tradisional masih banyak ditemukan di Cirebon. Bahkan, saat itu Cirebon mendapat julukan sebagai Kota Udang.

"Pernah mendapat tiga julukan seiring perkembangannya. Selain kota udang ada kota wali kemudian daerah muaranya budaya atau melting pot karena terjadi akulturasi di situ. Tapi yang resmi itu julukan kota udang," kata Budayawan Cirebon, Nurdin M Noer, Kamis (14/11/2019).

Nurdin menjelaskan, Cirebon dijuluki kota udang karena dulu pada abad ke-15 awal sebagian besar masyarakat bermatapencaharian sebagai pencari udang rebon.

Udang tersebut dibuat terasi dan petis untuk kemudian diserahkan kepada Kerajaan Pajajaran sebagai upeti. Seiring berjalannya waktu, julukan Cirebon Kota Udang sendiri semakin memudar.

"Seingat dan sepengalaman saya tahun 1980-an masih banyak perkampungan warga yang membuat terasi dan petis. Setelah itu menghilang," kata dia.

Penetapan Cirebon Kota Udang oleh Gubernur Jawa Barat saat itu tahun 1946. Julukan Cirebon Kota Udang juga merujuk pada perjalanan sejarah pembangunan Balai Kota Cirebon yang berada di Jalan Siliwangi.

Dari catatan sejarah, Gedung Balai Kota Cirebon dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1924 sampai 1926. Ditandai dengan logo Gemeente (Kota) Cirebon yang menyertakan patung udang menempel di puncak gedung balai kota.

2 dari 2 halaman

Kota Wali

Senjakala Kota Udang Cirebon Warisan Leluhur
Penampakan Gedung Balai Kota Cirebon warisan Belanda disematkan logo Udang rebon. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

"Kalau logo udang yang sekarang ada di halaman balai kota itu bukan udang Cirebon atau udang laut tapi itu udang tambak," kata dia.

Seiring berjalannya waktu, Kota Cirebon diketahui pernah mengganti julukan. Pada masa Wali Kota Cirebon Khumaedi Syafrudin, julukan kota udang diganti menjadi Kota Wali.

Nurdin mengaku pernah bertemu dan mendengar langsung penyampaian wali kota Khumaedi yang berniat mengganti julukan. Menurut dia, keinginan Wali Kota Khumaedi Syafrudin mengganti kota udang menjadi kota wali merupakan hasil dari kunjungan ke Gresik Jawa Timur.

"Karena saat itu kota udang dianggap tidak relevan lagi dan Pak Khumaedi menginginkan menjadi kota wali dan beliau bicara itu langsung kepada saya. Keinginan jadi kota wali juga merujuk kepada salah satu tokoh wali sanga dari Cirebon yaitu Sunan Gunung Jati," kata wartawan senior itu.

Namun demikian, kata dia, julukan kota wali dianggap hanya sebagai wacana. Meski pada perkembangannya, Cirebon pernah dikenal sebagai kota wali.

"Cirebon juga pernah mendapat julukan daerah melting pot karena menjadi muara kebudayaan dari berbagai negara yang nantinya terjadi akulturasi budaya," kata Nurdin.

Pada kesempatan tersebut, Nurdin menilai julukan kota udang yang disematkan pada Kota Cirebon dianggap sudah tidak relevan lagi. Faktanya, saat ini sudah tidak banyak terlihat aktivitas pembuatan petis dan terasi.

Meski kawasan timur Cirebon banyak berdiri pabrik terasi dengan skala besar. Bahan utama yang didapat belum dipastikan berasal dari udang Cirebon. "Mungkin ada satu dua pembuat saja dan itu pun sedikit sekali," kata dia.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓