Dilema Warga Sekitar Jalan Lingkar Tambang di Konawe

Oleh Ahmad Akbar Fua pada 07 Nov 2019, 14:00 WIB
Jalan lingkar yang diubangun pihak perusahaan di jalur Kecamatan Moros, Kabupaten Konawei.(Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Liputan6.com, Konawe - Masyarakat yang tinggal di jalur jalan tambang di Kabupaten Konawe selalu memiliki cerita sendiri. Selain mendapatkan keuntungan materi, tidak jarang mereka dirundung masalah.

Di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, pembangunan infrastruktur sepanjang lokasi tambang terus digalakkan pihak PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah itu. Salah satunya, pembangunan jalan lingkar tambang yang sudah mencapai 5 kilometer.

Masyarakat di sepanjang jalan dan desa sekitar, sudah merasakan manfaatnya. Salah satunya, akses lebih cepat dari wilayah Morosi menuju daerah lainnya seperti Kota Kendari.

Karana akses cepat, usaha dagang sejumlah warga Konawe juga makin lancar. Terutama, mereka yang kerap melakukan pengiriman barang keluar daerah.

Sebelum jalan berbahan beton dibangun, tekstur jalan bergelombang cukup menyulitkan pengendara roda dua dan empat. Bukan hanya bebatuan menonjol di sepanjang jalur Desa Morosi, tetapi debu menyebabkan warga harus menutup hidung jika melalui daerah itu pada musim panas.

"Kalau musim hujan, lain lagi. Jalannya berlumpur, rute yang dilalui licin dan kadang ban kendaraan sampai terpeleset jika tak hati-hati," ujar Ika Rahmania, salah seorang warga Morosi.

Kata Rahmania, sebelum tambang masuk, jalur jalan di lokasi ini masih jalan setapak. Setelah tambang masuk dan beroperasi, perubahan mulai terasa.

"Kalau dulu, kendaraan yang harus antre saat jalan rusak, apalagi musim hujan. Kadang berjejer sampai belasan, menunggu mobil lain lewat," ujarnya.

Saat ini, jalan sudah bagus dan mulus. Namun, debu yang beterbangan di sekitar jalan, mulai dirasakan mengganggu warga.

Debu yang ada di sepanjang jalan yang sudah dilapisi beton itu bisa sampai setebal setengah sentimeter menempel di dinding dan lantai rumah warga. Padahal, di sepanjang jalan beton, puluhan warga membuka beragam usaha. Mulai dari warung makan, barang kelontong hingga bengkel kendaraan. Tak jarang, debu sampai masuk di dalam lokasi warung tempat warga berjualan.

"Kadang, ada warga yang terkena ISPA karena debu yang nyaris tak terkendali. Namun, kami sebenarnya senang ada jalan beton," ujar Asma Indah.

Solusinya, menurut Asma, tak perlu ada penyiraman di sepanjang jalan. Sebab, tanpa perlu disiram, debu di lokasi jalan beton akan hilang dengan sendirinya.

"Kalau jalan beton dibasahi air, maka debu akan kembali datang. Sebab, puluhan kendaraan berat yang datang dari lokasi jalan basah yang belum dilapisi beton, akan kembali membawa bongkahan-bongkahan tanah yang berubah kembali menjadi debu di jalur beton," ujarnya.

Warga di sepanjang jalur Konawe juga bersyukur adanya jalan beton. Sebab, jika ada keperluan mendadak, warga tak butuh waktu lama menuju lokasi-lokasi publik di daerah sekitar.

2 of 2

Pembangunan Digenjot

Jalan di wilayah Kecamatan Morosi sebelum ada jalur lingkar tambang, licin dan berdebu. (Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)
Jalan di wilayah Kecamatan Morosi sebelum ada jalur lingkar tambang, licin dan berdebu. (Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Sejak dimulai awal 2019, pembangunan infrastruktur pada sejumlah lokasi di sekitar perusahaan tambang, terus digenjot. Bukan saja jalan, namun banyak lokasi publik seperti fasilitas desa, kesehatan dan sarana olahraga, juga didirikan.

HRD PT VDNI, Hary menjelaskan, infrastruktur yang rencananya akan berdiri pada semua lokasi, saat ini masih dalam proses pembangunan. Sehingga, masalah debu menjadi salah satu konsekuensi.

"Namun, kami berupaya maksimal agar warga sekitar tambang merasa nyaman. Di antaranya dengan menyiram jalan beberapa kali dalam sehari," ujar Hary.

Dia mengatakan, jalan lingkar tambang, merupakan hasil produksi nikel perusahaan. Dana ini, dikucurkan perusahaan dengan niat memberikan pemerataan pembangunan kepada daerah sekitar.

"Juga di antaranya pemberian air bersih, sampai pembangunan rumah ibadah, mesjid. Ini hanya bagian kecil dari rencana kami," kata Hary.

Pihak perusahaan meyakini, saat proses pengembangan wilayah lingkar tambang, akan ada kekurangan dan dampak. Namun, Hary berjanji perusahaan berupaya menyelesaikan problem yang dirasakan warga dengan melibatkan masyarakat setempat.

"Selain penyerapan tenaga kerja lokal, jalan lingkar tambang menjadi sangat perlu agar transportasi masyarakat bisa lancar dalam mencapai daerah sekitar," pungkas Hary.

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓