Kembalinya Bento dan Iskandar, 2 Orangutan Pusat Suaka Milik Keluarga Prabowo

Oleh Abdul Jalil pada 17 Okt 2019, 04:00 WIB
Dua Orangutan Pulang Kampung ke Kalimantan

Liputan6.com, Penajam Paser Utara - Iskandar dan Bento tiba di Pusat Suaka Orangutan (PSO) Arsari di Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur pada Kamis, 3 Oktober 2019, lalu. Dua orangutan yang didatangkan dari Sulawesi Utara itu menandai konservasi orangutan di wilayah calon ibu kota negara Indonesia yang baru.

Pusat Suaka Orangutan Arsari ini merupakan milik Yayasan Arsari Djojohadikusumo yang didirikan oleh Hasyim Djojohadikusumo, adik kandung Prabowo Subianto. Areal konservasi berada di lahan HGU PT ITCI yang juga milik Hasyim.

Proses rehabilitasi orangutan dilakukan sampai kedua hewan dilindungi itu bisa mengembalikan sifat liarnya. Proses yang panjang dan tentu saja harus ekstra bersabar.

"Tujuan kita adalah melestarikan satwa liar Indonesia. Kami juga sudah bangun di Sumatera Barat, itu untuk harimau," kata Hasyim saat menyambut kedatangan orangutan Bento dan Iskandar.

Bento dan Iskandar punya kisah masing-masing. Iskandar diselamatkan pada tahun 2004 silam dari upaya penyelundupan satwa langka dan dilindungi dengan tujuan Filipina. Iskandar yang kala itu masih berusia 1 tahun, berhasil diselamatkan oleh aparat gabungan sebelum tiba di Pulau Bitung, Sulawesi Utara.

Jalur penyelundupan satwa liar ke luar negeri memang marak melalui jalur laut. Salah satunya melalui perairan Sulawesi Utara menuju Filipina yang memang saling berbatasan langsung.

Sementara Bento diselamatkan dari peliharaan warga di Kota Manado, Sulawesi Utara. Bento diamankan dari warga pada 2005 saat masih berusia 5 tahun.

Direktur Eksekutif Yayasan Arsari Djoyohadikusumo Catrini Kubontubuh menjelaskan, untuk setiap bayi orangutan yang ditangkap untuk diperdagangkan sebagai peliharaan, minimal ada satu orangutan dewasa yang mati. Bayi orangutan akan sangat bergantung dengan induknya untuk bertahan hidup.

"Bayi orangutan akan hidup menggelantung di tubuh induknya dengan erat sampai umur 5 tahun. Cara satu-satunya mengambil bayi orangutan tersebut dari induknya adalah dengan membunuh induknya," kata Catrini.

Sebelum dipindahkan ke Pusat Suaka Orangutan Arsari, dari tahun 2005, Bento dan Iskandar tinggal di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki di Sulawesi Utara. Banyak satwa liar Indonesia yang gagal dari upaya penyelundupan yang menetap di Tasikoki.

 

2 of 3

Pengembalian Sifat Liar

Dua Orangutan Pulang Kampung ke Kalimantan
Pusat Suaka Orangutan (PSO) Arsari di Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. (Liputan6.com/Abdul Jalil)

Di Pusat Suaka Orangutan Arsari, Bento dan Iskandar dilatih untuk mengembalikan sifat liarnya. Selama 16 tahun di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki, keduanya hidup di dalam kandang dan sangat bergantung manusia.

"Intensitas bertemu manusia mulai kita kurangi. Sebab selama 16 tahun mereka manja karena sangat tergantung manusia. Meski di kandang, kita latih keduanya untuk tidak disuapi. Mengambil makanan dengan sedikit upaya misalnya harus memanjat," papar Catrini.

Tim rehabilitasi kedua orangutan ini menargetkan dalam tiga bulan ke depan proses pengembalian sifat liar akan berhasil. Rencananya, Bento dan Iskandar akan dipindahkan ke sebuah pulau tanpa manusia sehingga kembali menjadi hewan liar seutuhnya.

Hasyim Djojohadikusumo menyebutkan, saat ini sudah disiapkan sejumlah pulau di Teluk Balikpapan yang akan menjadi rencana pelepasliaran orangutan nantinya. Pulau ini masuk dalam kawasan suaka margasatwa yang dilindungi.

"Kita dapat izin dari pemerintah daerah untuk kelola beberapa pulau, ada yang besar dan ada yang kecil. Ini suatu ekperimen yang kami coba pertama kali di dunia ternyata. Nanti akan kita lepaskan orangutan yang dewasa di pulau-pulau itu," kata Hasyim.

Pulau-pulau tersebut saat ini masih dalam proses persiapan dan kelayakan untuk habitat orangutan sehingga, rehabilitasi orangutan tak hanya menyelamatkan satwa tersebut, namun juga menyelamatkan habitatnya.

Ratusan Orangutan Menanti Diselamatkan

Hasyim Djojohadikusumo juga akan memperluas Pusat Suaka Orangutan Arsari yang ada saat ini. Sebab, berdasarkan temuannya, masih ada 100 orangutan lagi yang perlu diselamatkan. Orangutan itu tersebar di banyak tempat, salah satunya di kebun binatang.

"Masih ada sampai 100 orangutan yang tertampung di berbagai tempat di Indonesia dan di luar negeri. Kita nanti akan menawarkan ke kebun binatang di luar negeri, daripada orangutan itu seolah-olah di penjara di kandang di luar negeri, lebih baik di lepaskan ke alam liar di Indonesia," sebut Hasyim.

Dia menampik jika pengembangan kawasan areal suaka orangutan nantinya tidak akan mengganggu proses pembangunan kawasan Ibu Kota Negara Indonesia yang baru. Sebab kawasan ini dibangun sebelum Presiden Joko Widodo menetapkan Kabupaten Penajam Paser Utara sebagai bagian dari kawasan ibu kota.

"Justru Pak Bambang Brodjonegoro (Kepala Bapenas) yang saya sempat ketemu, beliau sambut luar biasa positif. Ini kan dua hingga tiga tahun lalu kita rencanakan. Kami belum tahu ada ibu kota mau pindah ke sini," katanya.

Dia menambahkan, Pusat Suaka Orangutan Arsari ini tak berada di kawasan rencana ibu kota. Hanya saja, lokasinya sangat dekat dari rencana ibu kota. "Tempat ini nantinya akan bersebelahan dengan ibu kota. Wilayah ibu kota kalau tidak salah mungkin 500 meter di sana batasnya yang kami dengar," dia menambahkan.

 

3 of 3

Tak Hanya Orangutan

Dua Orangutan Pulang Kampung ke Kalimantan
Ilustrasi harimau sumatra Pusat Suaka Orangutan (PSO) Arsari di Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. (Liputan6.com/Abdul Jalil)

Yayasan Arsari Djojohadikusumo telah membangun dan mengembangkan pusat suaka bagi hewan-hewan dilindungi di Indonesia. Tak hanya di Kalimantan Timur, yayasan milik keluarga Hasyim Djojohadikusumo ini juga sudah merehabilitasi dan melepasliarkan harimau di Sumatera Barat.

Pusat Rehabilitasi Satwa harimau sumatera Dharmasraya sudah berjalan kurang lebih tiga tahun. Letaknya berada di Kabupaten Dharmasraya.

"Kita sudah merehabilitasi tujuh harimau di Dharmasraya, dan empat di antaranya sudah berhasil kita lepaskan ke alam liar," kata Direktur Eksekutif Yayasan Arsari Djoyohadikusumo Catrini Kubontubuh.

Hasyim Djojohadikusumo menambahkan, rencananya pusat-pusat penyelamatan hewan ini akan menampung beragam hewan dilindungi lainnya. Lahan-lahan yang dimilikinya juga akan dimanfaatkan untuk penyelamatan satwa dilindungi dan terancam punah.

"Kami rencanakan nanti di lokasi HPH kami, akan rencanakan lahan 19 ribu hektare, termasuk danau 4.200 hektare. Di situ kita akan tampung berbagai jenis satwa," pungkas Hasyim.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by