Meraba Wajah Surga Pertanian Dieng 20 Tahun Mendatang

Oleh Muhamad Ridlo pada 15 Okt 2019, 00:00 WIB
Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banjarnegara - Dataran Tinggi Dieng dikenal sebagai salah satu penghasil sayuran terbaik. Bahkan, kentang Dieng memiliki pangsa khusus dengan harga lebih tinggi dibanding kentang biasa lantaran keunggulannya.

Perkembangan pertanian di Dieng cukup menggembirakan. Sebagian warga bertumpu di sektor pertanian ini. Namun, tampaknya ada satu yang dilupakan, bahaya konversi lahan dan pola tanam yang semakin mengancam alam.

Dahulu kala, Dieng adalah hutan gung liwang liwung. Namun kini, sejauh mata memandang, lahan sayuran-lah yang tampak di depan mata.

Celakanya, pola budi daya yang berlaku di negeri atas awan ini cenderung tak ramah lingkungan. Kaidah-kaidah konservasi banyak diterabas, demi produksi pertanian yang tinggi.

Akibatnya, laju erosi di pegunungan Dieng pun semakin cepat. Top soil alias lapisan tanah atas yang subur, semakin tergerus. Petani pun terancam.

Petugas Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BP DASHL) Serayu Opak Progo, Novan Hakim, mengatakan top soil tergerus lantaran pola tanam yang tak sesuai dengan kaidah konservasi. Kini top soil Dieng rata-rata tinggal 40 sentimeter dan dengan cepat menipis.

Top soil, atau tanah lapisan atas di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, diperkirakan habis dalam jangka 20 tahun mendatang. Bersamaan dengan habisnya top soil yang merupakan lapisan tanah subur, pola mata pencaharian pertanian masyarakat Dieng pun terancam mati.

"Itu diprediksi kalau dari segi pertanian, hanya bertahan 20 tahun sampai 30 tahun, top soil akan habis," kata dia.

Novan bilang masalah pertama adalah alih fungsi hutan menjadi tanaman sayuran. Masalah lainnya muncul saat pola tanam di Dieng tak mengindahkan konservasi, seperti menanam dengan pola memotong kontur tanah, untuk menghindari genangan.

2 of 3

Edukasi Pola Budidaya Pertanian Ramah Lingkungan

Embun es menyelubungi lahan pertanian kentang dan sayuran lain di Dieng, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Embun es menyelubungi lahan pertanian kentang dan sayuran lain di Dieng, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Dalam jangka pendek, produksi pertanian akan tinggi. Akan tetapi, pola tanam ini akan menyebabkan laju erosi tanah semakin cepat.

Selain itu, petani Dieng juga banyak memanfaatkan lahan di tanah miring lebih dari 45 derajat. Padahal, sesuai kaidah konservasi, tanah miring tak layak dan tak boleh ditanami lantaran berisiko tinggi mempercepat degradasi tanah.

Dari penelitian yang dilakukan, jenis tanaman yang dibudidayakan tak terlampau berpengaruh terhadap kecepatan erosi tanah. Paling berpengaruh, kata dia, adalah pola tanamnya.

"Penyebab utama sebenarnya manusia. Manusia karena pola budi daya. Kalau penanaman sayur, kalau idealnya itu tidak air tergenang," dia mengungkapkan.

Erosi yang tinggi menyebabkan bahaya lainnya, yakni pendangkalan sungai. Sungai dangkal menyebabkan wilayah hilir berpotensi banjir. Sedimentasi juga menjadi masalah serius untuk waduk atau bendungan yang berkurang kapasitasnya.

Dia menambahkan, BP DASHL Serayu Opak Progo bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengedukasi masyarakat untuk mengubah pola tanam agar sesuai kaidah konservasi.

Petani juga diimbau menanam tanaman yang tetap menghasilkan secara rutin, tetapi juga bernilai konservasi, misalnya tanaman buah-buahan berkayu keras.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Banjarnegara, Totok Setya Winarno mengatakan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menggandeng Islamic Development Bank (IDB) untuk mengembangkan pertanian terpadu berwawasan lingkungan, terutama di Dieng.

Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi degradasi kualitas tanah yang semakin parah menyusul massifnya penggunaan pupuk dan pestisida kimia dalam pertanian intensif sayur mayur di wilayah ini.

3 of 3

Kop-Kopi Juara untuk Konservasi Tanah Surga

Kopi Robusta Gondoarum, Kalibening, Banjarnegara. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Kopi Robusta Gondoarum, Kalibening, Banjarnegara. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Totok menerangkan, pertanian terpadu itu adalah gabungan pertanian sayuran, kopi dan peternakan domba Batur. Dalam pertanian terpadu, petani akan menggabungkan pertanian dan peternakan yang saling menyuplai kebutuhan.

"Kopi terintegrasi dengan peternakan. Sumber daya genetik domba Batur memang hanya terdapat di Batur," kata Totok.

Totok menerangkan, dalam sistem pertanian terpadu, tanaman akan mendapat suplai pupuk dari kotoran ternak. Adapun ternak mendapat makanan dari rumput, semak, sisa sayuran hasil panen, serta kulit biji kopi.

Rencananya, pertanian terpadu akan difokuskan di empat kecamatan wilayah Pegunungan Dieng dan sekitarnya, seperti Kecamatan Batur, Pejawaran, Karangkobar dan Wanayasa.

"Kita akan bekerjasama dengan IDB Mas, Islamic Development Bank, ya memang kita masih dalam taraf membuat kajian. Tetapi kelihatannya nanti juga sudah final, dan akan ditempatkan di daerah atas," dia mengungkapkan.

Pemkab mengusung konsep pertanian berkelanjutan ramah lingkungan. Seperti diketahui, kopi adalah tanaman keras yang berumur puluhan tahun dan cocok ditanam di daerah dingin. Berada di lereng pegunungan, kopi dinilai efektif untuk mencegah erosi.

"Sehingga harapan kami, memang ada diversifikasi usaha. Kalau untuk konservasi, bisa kita kembangkan domba Batur atau kambing, dengan kopi," ujarnya.

Pengembangan komoditas tanaman perkebunan tahunan juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani. Selama ini, petani lebih banyak membudidayakan sayuran. Harga sayur yang fluktuatif kerap menyebabkan petani rugi.

Potensi pengembangan kopi di dataran tinggi sangat potensial. Pasalnya, sejumlah kopi Banjarnegara sudah dikenal secara nasional karena memenangi berbagai kontes kopi sejak 2015. Di antaranya, Kopi Robusta Gondoarum Kalibening, Kopi Arabika Kalibening dan Kopi Arabika Ratamba, Pejawaran.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓