Menikmati Steak Hotel Bintang 5 Tanpa Kuras Kantong di Yogyakarta

Oleh Switzy Sabandar pada 10 Okt 2019, 06:00 WIB
Hotel Melia Purosani Yogyakarta

Liputan6.com, Yogyakarta - Tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa menikmati steak di hotel bintang lima. Hotel Melia Purosani Yogyakarta memiliki penawaran menarik bagi pengunjung El Patio Restaurant.

Menu bernama Grilled Australian Marble Beef Tenderloin menjadi sajian yang menggugah selera tanpa harus menguras kantong. Daging marble seberat satu kilogram yang dilengkapi condiment sayur dan kentang.

Tidak hanya itu, lima macam saus pun juga dihidangkan secara langsung. Pengunjung atau tamu bisa memilih saus barbeque, jamur, butter, black pepper, dan jus sesuai dengan selera.

Menu yang bisa disantap delapan sampai 12 orang ini dibanderol harga Rp850 ribu. Bisa dibayangkan, makan steak di restoran milik hotel mewah hanya dengan membayar tidak lebih dari Rp100 ribu per orang.

Jangan khawatir, harga yang ramah tidak lantas membuat cita rasa steak ini murah. Daging yang menjadi bahan baku utama menu ini ternyata bukan daging beku.

“Daging dari Australia biasanya dibawa dalam bentuk beku, tetapi daging untuk steak ini tidak dalam kondisi beku, jadi hanya tahan tiga bulan sejak awal dipotong,” ujar Deddie Jangkar, Executive Chef Hotel Melia Purosani Yogyakarta, Selasa (8/10/2019).

Rasa steak ini juga tidak lantas plain atau tawar. Saus yang kaya bumbu ternyata tidak hanya melekat di lidah orang Indonesia, melainkan juga tamu-tamu dari mancanegara.

 

2 of 3

30 Menu A La Carte

Hotel Melia Purosani Yogyakarta
Grilled Australian Marble Beef Tenderloin menjadi salah satu dari 30 menu a la carte yang diluncurkan Hotel Melia Purosani. (Liputan6.com/ Switzy Sabandar)

Grilled Australian Marble Beef Tenderloin menjadi salah satu dari enam menu unggulan a la carte yang diluncurkan Hotel Melia Purosani. Secara keseluruhan ada 30 menu a ala carte baru yang dihadirkan hotel ini.

Sajian pembuka diwakili oleh prawn and avocado Vietnamese summer roll. Penyuka hidangan seafood bisa memilih lobster thermidore yakni olahan lobster lembut yang manis dikreasikan dengan white sauce dan cheese au gratin.

Italian pizza berupa pizza beef salami dengan adonan home made juga bisa menjadi alternatif menu. Rasa pizza ini berbeda dengan kebanyakan pizza yang dijual di luar. Tekstur kulit yang renyah dengan topping yang menggunung bakal memuaskan lidah dan perut.

Untuk penggemar kuliner Indonesia, Deddie Jangkar menyajikan satai maranggi. Berbeda dengan satai maranggi di tempat lain, daging satai sapi ini sangat lembut. Teksturnya mirip dengan tempe gembus, tetapi saat dikunyah memiliki rasa daging yang sarat bumbu.

"Bahkan, lansia yang sudah kesulitan mengunyah daging pun sangat bisa menikmati satai ini," ucap Deddie.

Untuk menu pencuci mulut, Hotel Melia Purosani Yogyakarta menawarkan Alaskan green tea cake yang lembut dan bisa meenyempurnakan pengalaman bersantap. Rangkaian hidangan spesial ini bisa dinikmati dengan harga mulai Rp30 ribuan.

 

3 of 3

Deddie Tangan Bermicin

Hotel Melia Purosani Yogyakarta
Grilled Australian Marble Beef Tenderloin menjadi salah satu dari 30 menu a la carte yang diluncurkan Hotel Melia Purosani. (Liputan6.com/ Switzy Sabandar)

Konsep dan menu baru El Patio Restaurant ini diprakarsai oleh Chef Deddie Jangkar dengan pengalaman profesional di industri perhotelan. Sudah lebih dari 25 tahun, ia memimpin berbagai restoran terkemuka di 10 negara.

"Saya menyiapkan 30 menu ini dari awal tahun, saat mulai bergabung dengan Melia Purosani," ujar chef yang mendapat julukan Deddie Tangan Bermicin ini.

Julukan ini memang tidak asal tersemat di dirinya. Faktanya, makanan yang lahir dari tangan chef kelahiran 46 tahun silam ini memang patut diacungi jempol.

Ia bercerita saat masih bekerja di Freeport sebagai chef, salah satu manajernya mencicipi satai maranggi buatan Deddie. Sang manajer langsung berkomentar, satai ini adalah satai terenak yang pernah dimakannya.

Uniknya, kemampuan memasak Deddie justru dipelajari secara autodidak. Ia mengaku hanya tamatan SMA karena berasal dari keluarga tidak mampu. Perjalanan kariernya dimulai sebagai daily worker atau pekerja harian di Hotel Sheraton Lagoon Bali.

"Saya ini miskin, makanya saya punya cita-cita bisa makan enak," tutur laki-laki yang berasal dari Brebes, Jawa Tengah ini.

Kehadirannya di Hotel Melia Purosani Yogyakarta ingin menjadikan hotel ini sebagai leading food dan tolok ukur gastronomi Yogyakarta.

Lanjutkan Membaca ↓