Kerja Sama Apik BPBD dan Komunitas di Purbalingga Tanggulangi Krisis Air Bersih

Oleh Muhamad Ridlo pada 08 Okt 2019, 14:00 WIB
Warga Patimuan, Cilacap, Jawa Tengah mengantre bantuan air bersih. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Purbalingga - Kemarau panjang terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk di Purbalingga, Jawa Tengah. Dampak langsung yang dirasakan warga di wilayah lereng Gunung Slamet ini adalah krisis air bersih.

Di Purbalingga, tahun ini terjadi penambahan desa yang mengalami air bersih. Sebelumnya, pada 2018 desa yang mengalami krisis air bersih hanya 75 desa. Namun, terkini sebanyak 93 desa di 15 kecamatan sudah mengalami krisis air bersih.

Masalahnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga, tahun ini hanya menyiapkan sebanyak 1.310 tangki air bersih. Sementara, jumlah desa yang mengalami krisis air bersih bertambah.

"Berarti ada penambahan sekitar 18 desa dibanding 2018. Tapi ini mungkin juga akan bertambah," ucap Muhsoni, Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Purbalingga, Senin, 7 Oktober 2019.

Beruntung, berbagai lembaga, komunitas, hingga institusi bisnis di Purbalingga begitu peduli dengan dampak kemarau panjang. Mereka turut membantu pengadaan, hingga pengiriman air bersih.

Bahkan, hingga 5 Oktober 2019, jumlah bantuan air bersih yang terkirim sudah mencapai 2.837 tangki. Separuhnya adalah bantuan lembaga atau komunitas lain, dengan jumlah 1.067 tangki.

Di luar itu, ada pula komunitas yang membantu mulai pengadaan hingga pengiriman air bersih, misalnya, komunitas L 300 Purbalingga dan Komunitas Sopir Purbalingga.

Bisa dibayangkan, tanpa bantuan komunitas-komunitas ini, BPBD bakal kerja sendirian. Padahal, jumlah armada dan personel untuk penanggulangan krisis air bersih sangat terbatas.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 2

Stok Air Bersih BPBD Habis, Solusinya?

Pengiriman bantuan air bersih di Banjarnegara. (Foto: Liputan6.com/IDI BNA/Muhamad Ridlo)
Pengiriman bantuan air bersih di Banjarnegara. (Foto: Liputan6.com/IDI BNA/Muhamad Ridlo)

BPBD hanya memiliki empat tangki air bersih, ditambah satu tangki PMI, dan empat tangki air PDAM. Pengiriman air bersih bisa berlangsung 24 jam tanpa henti.

"Kami sangat terbantu oleh komunitas-komunitas ini. Kepeduliannya sangat luar biasa," ucapnya.

Tentu saja, Pemerintah Kabupaten Purbalingga tak bisa mengandalkan bantuan. Harus ada kepastian bahwa pemerintah siap dalam penanggulangan air bersih.

Karenanya, BPBD Purbalingga mengajukan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) Purbalingga untuk mencukupi permintaan bantuan air bersih.

Muhsoni mengatakan, BPBD telah kehabisan anggaran persediaan air bersih baik yang bersumber dari APBD definitif maupun perubahan. Penambahan stok bantuan air bersih dilakukan untuk menjamin ketersediaan stok bantuan air bersih.

"Yang pasti anggaran perubahan sudah mentok. Kita mengajukan BTT, belanja tidak terduga. Awalnya kita menganggarkan hanya 900 sekian. Terus di perubahan kita mengajukan tambahan menjadi 1.310 tangki itu," dia menjelaskan.

Musim hujan di Purbalingga diperkirakan tiba pada dasarian kedua Oktober 2019. Namun, lazimnya awal penghujan, intensitasnya masih rendah.

Imbasnya, sumur dan mata air belum pulih. Dan penanggulangan krisis air bersih diperkirakan masih akan berlanjut hingga awal November, meski dengan jumlah yang terus menurun.

"Kalau kita menjadwalkan pengiriman air bersih sampai dasarian kedua. Tapi kalau ternyata masih ada wilayah yang krisis air bersih akan tetap kita kirimi air bersih," dia menandaskan.

Lanjutkan Membaca ↓