Hari Tanpa Bayangan Bakal Terjadi di Banyumas dan Cilacap, Cek Waktunya

Oleh Muhamad Ridlo pada 08 Okt 2019, 07:00 WIB
Diperbarui 10 Okt 2019, 06:13 WIB
Ilustrasi – Panorama Gunung Slamet dilihat dari Karanglewas, Banyumas. Hari tanpa bayangan Banyumas bakal terjadi pada Sabtu, 12 Oktober 2019, pukul Banyumas pukul 11.29 WIB. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banyumas - Sebenarnya, hari tanpa bayangan rutin terjadi dua kali tiap tahun di Indonesia. Hanya saja, fenomena ini selalu menarik saat terjadi pada kemarau.

Pada kemarau, tutupan awan minim sehingga mempermudah pengamatan. Dan hari tanpa bayangan, bakal terjadi secara beruntun, di Jawa Tengah, termasuk di kawasan Banyumas Raya.

Kepala Stasiun Meteorologi Cilacap, Taruna Mona Rachman menjelaskan, kulminasi atau transit atau istiwa' adalah fenomena ketika matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Saat deklinasi matahari sama dengan lintang pengamat, fenomenanya disebut sebagai kulminasi utama.

Pada saat itu, matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat "menghilang" karena bertumpuk dengan benda itu sendiri.

"Karena itu, hari saat terjadinya kulminasi utama, dikenal juga sebagai hari tanpa bayangan," kata Mona, Senin, 7 Oktober 2019.

Di Jawa Tengah, 35 kabupaten atau kota bakal mengalami hari tanpa bayangan, mulai 10 Oktober 2019. Ini terjadi baik wilayah yang berada di sisi utara, maupun sisi selatan Jawa Tengah.

Wilayah paling cepat mengalami hari tanpa bayangan di Jawa Tengah adalah Jepara. Sebuah wilayah di sisi utara timur Jawa Tengah. Di Jepara, hari tanpa bayangan terjadi pada Kamis, 10 Oktober, pukul 11:24:29 WIB.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 2

Hari Tanpa Bayangan di Banyumas Raya

Gerbang timur kota Cilacap, Jawa Tengah. Hari tanpa bayangan Cilacap bakal terjadi pada Minggu, 13 Oktober 2019, pukul 11.30.20 WIB. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Gerbang timur kota Cilacap, Jawa Tengah. Hari tanpa bayangan Cilacap bakal terjadi pada Minggu, 13 Oktober 2019, pukul 11.30.20 WIB. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Secara bertahap, wilayah-wilayah lainnya pun bakal mengalami hal serupa. Semarang, misalnya, bakal mengalami hari tanpa bayangan pada Jumat, 11 Oktober 2019, pukul 11:25:06 WIB.

Gerak semu matahari akan terus terjadi dan menyebabkan wilayah di sisi selatan bakal mengalami hari tanpa bayangan pada hari berbeda. Di Banjarnegara, hari tanpa bayangan akan terjadi pada Sabtu, 12 Oktober 2019.

Pada hari yang sama, Banyumas dan Purbalingga juga akan mengalami hari tanpa bayangan. Di Purbalingga, hari tanpa bayangan terjadi pukul 11:29:10 WIB. Selanjutnya, hari tanpa bayangan Banyumas terjadi pukul 11.29 WIB.

Kebalikan wilayah Jepara yang berada di sisi utara timur Jawa Tengah yang menjadi wilayah yang mengalami hari tanpa bayangan tercepat, Kabupaten Cilacap menjadi wilayah terakhir Jawa Tengah yang mengalami fenomena ini.

Hari tanpa bayangan Cilacap bakal terjadi pada Minggu, 13 Oktober 2019, pukul 11:30:20 WIB. Beberapa saat sebelumnya, fenomena serupa secara berurutan juga terjadi di Purworejo dan Kebumen, wilayah yang berada di garis lurus.

Mona mengemukakan, tak ada yang aneh dengan hari tanpa bayangan. Penyebab hari tanpa bayangan karena bidang ekuator bumi atau bidang rotasi bumi tidak tepat berimpit dengan bidang ekliptika atau bidang revolusi bumi.

Karenanya, posisi matahari dari bumi akan terlihat berubah terus sepanjang tahun antara 23,5 derajat LU sampai dengan 23,5 derajat LS. Hal ini disebut sebagai gerak semu harian matahari.

Pada tahun ini, matahari tepat berada di khatulistiwa pada 21 Maret 2019 pukul 05.00 WIB dan 23 September 2019 pukul 14.51 WIB. Adapun pada 21 Juni 2019 pukul 22.55 WIB, matahari berada di titik balik utara (23,5 derajat LU) dan pada 22 Desember 2018 pukul 11.21 WIB matahari berada di titik balik selatan (23,5 derajat LS).

"Mengingat posisi Indonesia yang berada di sekitar ekuator, kulminasi utama di wilayah Indonesia akan terjadi dua kali dalam setahun dan waktunya tidak jauh dari saat matahari berada di khatulistiwa," dia menjelaskan.

Lanjutkan Membaca ↓