Kisah Jenderal Soedirman Berwudlu dengan Embun Saat Perang Gerilya

Oleh Muhamad Ridlo pada 05 Okt 2019, 11:00 WIB
Diperbarui 11 Nov 2019, 23:10 WIB
Repro foto Panglima Jenderal Besar Soedirman di markas besar TNI di Sobo, saat perang gerilya. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Purbalingga - Belanda mengkhianati perjanjian Renville dengan serangan mendadak ke Yogyakarta, 19 Desember 2019. TNI yang tidak dalam keadaan siap terpaksa mundur dan berperang gerilya.

Perang gerilya dipimpin langsung oleh Panglima Jenderal Besar Soedirman. Pimpinan militer yang kharismatik, dan sangat dicintai oleh pasukannya.

Bagaimana tidak, saat itu, sang Jenderal Besar dalam keadaan sakit parah. Beberapa hari sebelumnya, ia baru menjalani operasi paru-paru dan selama berhari-hari hanya terbaring lunglai di tempat tidurnya.

Tetapi, tanggung jawabnya kepada negara begitu besar. Ia mengsesampingkan fisiknya yang lemah. Didorong semangat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, Jenderal Soedirman memimpin perang gerilya meski harus ditandu.

Jangan membayangkan perang gerilya semacam kegiatan survival. Pasukan kecil pengawal Jenderal Soedirman, bahkan tak berbekal logistik makanan. Meski didampingi oleh dokter pribadi, sang dokter tak memiliki obat.

Itu makanya, perang gerilya akan menjadi risalah abadi bagaimana para pejuang mempertahankan kemerdakaan bangsa ini, termasuk pada HUT TNI. Ini adalah perang gerilya terberat dan terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia.

Alkisah, Jenderal Soedirman dan pasukan menyusur jalur pantai selatan. Dari selatan Yogyakarta, mereka menuju Jawa Timur.

Pada satu waktu, Jenderal Soedirman dan pasukannya selama berhari-hari mereka menyusuri pegunungan kapur. Siang, luar biasa panas. Sebaliknya, malam hari, dingin menyelusup sum-sum tulang.

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp 5 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com di tautan ini.

2 dari 3 halaman

Jenderal Soedirman Sebagai Simbol Harapan Rakyat Indonesia

Repro foto Panglima Jenderal Besar Soedirman perang gerilya tujuh bulan. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Repro foto Panglima Jenderal Besar Soedirman perang gerilya tujuh bulan. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

"Jangan tanya bawa jaket apa tidak. Pakaian itu yang melekat di badan," ucap mantan Pengawal Jenderal Soedirman, Mayor (Purn) Abu Arifin, di Purbalingga, Jumat, 14 September 2019.

Berbeda hari, pasukan terkepung berhari-hari di sebuah hutan rotan. Mereka dikepung pasukan Belanda hingga lima hari berturut-turut, tanpa makanan.

Dengan keberanian luar biasa demi sang Jenderal Soedirman, salah satu komandan Kompi I, Kapten Suparjo Rustam, menyusup keluar menjual baju batik yang lusuh. Ia berhasil menghindari sergapan pasukan Belanda yang berderet-deret.

Berkali-kali, pasukan kecil ini diserbu, diburu, disergap dan bertempur dengan gagah berani. Banyak anggota pasukan yang gugur.

Belanda begitu bernafsu menghabisi Jenderal Soedirman. Karena, dia lah satu-satunya harapan rakyat Indonesia saat itu. Soekarno, Hatta dan petinggi negeri lainnya telah ditangkap.

"Terutama untuk Jenderal Soedirman. Karena beliau sedang sakit. Kami harus melindungi dengan segenap jiwa dan raga," ucapnya.

Toh, Jenderal Soedirman selalu lolos. Ada rahasia kenapa Jenderal Soedirman selalu lolos dari intaian Belanda. Ia begitu dicintai oleh rakyat dan pasukannya.

"Ia adalah simbol dan harapan rakyat Indonesia," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Mukjizat Tuhan, Jenderal Soedirman Selamat Perang Gerilya 7 Bulan

Repro foto Panglima Jenderal Besar Soedirman dan Presiden Soekarno. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Repro foto Panglima Jenderal Besar Soedirman dan Presiden Soekarno. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Abu Arifin beragama Nasrani dan menjadi pendeta. Tetapi, ia mengakui, Jenderal Soedirman adalah sosok yang begitu mengagumkan. Ia begitu taat beragama.

Di tengah hutan, kerap kali mereka sulit menemukan mata air. Padahal, untuk bersalat, Jenderal Soedirman butuh berwudlu. Maka, dalam berbagai kesempatan, sang Jenderal berwudlu dengan embun yang menempel di dedaunan.

Tiap waktu salat tiba, Jenderal Soedirman selalu bersalat. Kesaksian Abu Arifin, tak sekali pun Jenderal Soedirman meninggalkan salat lima waktu.

"Ini adalah mukjizat. Jenderal Soedirman dan pasukan berhasil bertahan dalam perang gerilya yang begitu panjang," dia mengungkapkan.

Banyak yang menganggap Jenderal Soedirman sakti lantaran selalu lolos dari sergapan Belanda. Tetapi, bagi Arifin, Tuhan lah yang melindungi sang Jenderal.

Ia seseorang yang berani, pantang menyerah, sekaligus tegas. Tetapi di sisi lain, ia adalah sosok bapak yang baik untuk anak-anaknya, pasukan pengawal dan TNI secara keseluruhan.

Karenanya, para pengawal sangat menjaga keselamatan Jenderal Soedirman. Pun dengan rakyat yang menyandarkan harapannya kepada Panglima TNI pertama ini.

Tujuh bulan perang gerilya, Jenderal Soedirman pulang ke Yogyakarta pada Juli 2019. Dan ia, wafat sebagai kusuma bangsa pada Januari 1950, tak lama seusai Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓