Pelajaran dan Tahlil dalam Peringatan Setahun Gempa dan Tsunami di Sulteng

Oleh Liputan6.com pada 29 Sep 2019, 01:00 WIB
Pandangan Udara Kota Palu Usai Dilanda Gempa dan Tsunami

Liputan6.com, Palu - Ribuan korban gempa, tsunami, dan likuefaksi Balaroa, Kota Palu, setahun lalu yang selamat menggelar zikir, doa, dan tahlilan akbar untuk seluruh korban bencana.

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati setahun bencana gempa, tsunami dan likuefaksi menghancurkan sepanjang Jalan Manggis, Kelurahan Balaroa.

Zikir, tahlil, dan doa bersama yang diselenggarakan Forum Korban Likuefaksi Balaroa bekerja sama dengan Majelis Zikir Nurul Khairat dan dipimpin pimpinan majelis zikir, Habib Soleh Alaydrus atau Habib Rotan itu berlangsung hikmat dan penuh haru.

Ribuan korban bencana selamat dan Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola yang hadir dalam kesempatan itu tak kuasa menahan tangis ketika mengenang persitiwa yang menewaskan banyak orang dan ratusan masih terkubur di kawasan likuefaksi tersebut.

"Ada sekitar 800 jiwa yang meninggal dan 200 masih terkubur di sana (kawasan likuefaksi Balaroa). Kita doakan agar mereka diterima di sisi Allah SWT," kata Ketua Forum Korban Likuefaksi Balaroa, Abdurrahman Kasim dengan bergetar dan menahan tangis di depan jemaah yang hadir, Sabtu (28/9/2019), dilansir Antara.

Ia mengajak seluruh korban bencana yang selamat agar mengikhlaskan sanak saudara dan keluarga yang meninggal dunia saat peristiwa gempa dan tsunami sembari mendoakan agar dimasukkan ke dalam surga.

2 of 2

Selalu Bersyukur

Kapal KM Nusantara 39 yang Terseret Tsunami Palu
Pandangan udara, sebuah kapal KM Sabuk Nusantara 39 terseret ombak akibat tsunami Pelabuhan Wani, Donggala, Sulawesi Tengah Kamis (4/10). Kapal yang membawa 20 anak buah kapal tidak berpenumpang saat tsunami terjadi. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Sementara itu Gubernur Sulteng, Longki Djanggola saat memberikan amanat di hadapan ribuan korban bencana, dengan sedikit terbata-bata karena menahan tangis mengajak seluruh korban bencana agar selalu bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah SWT dengan diselamatkan dari bencana setahun lalu itu.

"Insya Allah menjadi pelajaran berharga bagi kita dan semoga dengan kejadian ini menjadi sarana introspeksi diri kita semua untuk menjadi lebih baik lagi. Tetap sabar dan tabah," katanya, menyemangati.

Ia menyebut tidak sedikit anggota keluarganya yang juga menjadi korban bencana dan meninggal akibat likuefaksi di kawasan tersebut, sebab ia merupakan asli Palu dan lahir serta tumbuh besar di daetah itu.

Kegiatan keagamaan tersebut berlangsung usai shalat ashar dan diawali dengan pembacaan surat yasin kemudian dilanjutkan dengan tahlil dan doa bersama untul para korban bencana yang meninggal.

Setelah itu pimpinan Majelis Zikir Nurul Khairat, Habib Soleh Rotan memberikan ceramah agama kepada seluruh jemaah dan dilanjutkan dengan shalat Maghrib dan shalat gaib.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓