Alasan Pengungsi Gempa Ambon Takut Pulang Meski Rumah Tidak Rusak

Oleh Liputan6.com pada 28 Sep 2019, 22:00 WIB
Diperbarui 30 Sep 2019, 20:13 WIB
Gempa di Ambon

Liputan6.com, Ambon - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku memperbarui data korban meninggal dunia maupun luka-luka terdampak gempa bermagnitudo 6,5 yang mengguncang Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, dan Seram Bagian Barat (SBB) pada Kamis (26/9).

Kepala BPBD Provinsi Maluku, Farida Salampessy mengatakan, berdasarkan hasil pemutakhiran serta koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota terdampak, jumlah korban yakni 20 orang sedangkan luka-luka mencapai 152 orang.

"Korban meninggal tercatat di Kota Ambon sebanyak 8 orang, Maluku Tengah 10 orang, sedangkan dua lainnya di kabupaten SBB," ujarnya di Ambon, Sabtu (28/9/2019), dilansir Antara.

Sedangkan korban luka berat maupun ringan BPBD Provinsi Maluku mencatat 108 orang di Maluku Tengah, 13 orang SBB dan 31 lainnya di Kota Ambon.

"Khusus korban yang mengalami luka berat, terutama patah tulang karena tertimpa reruntuhan bangunan sudah dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan lanjutan," katanya.

Dia juga menyebutkan, jumlah warga yang mengungsi di berbagai lokasi penampungan sementara mencapai 25.000 orang.

"Kebanyakan warga yang mengungsi ini rumahnya tidak rusak karena gempa. Hanya karena mereka trauma dan takut akan adanya gempa susulan serta berita bohong bahwa akan terjadi tsunami," ujarnya.

2 of 2

Kebutuhan Mendesak Pengungsi

Gempa M 6,8 di Ambon, Warga Berhamburan ke Jalan
Warga berkumpul di jalanan setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,5 di desa Batu Merah di Ambon, kepulauan (26/9/2019). Gempa bumi magnitudo 6,8 guncang kawasan timur Indonesia tepatnya di Ambon Maluku Kamis (26/9/2019) pagi. Pusat Gempa berada di kedalaman 10 KM. (AFP Photo/Yusnita)

Karena itu, pihaknya sudah mengarahkan petugas BPBD provinsi maupun kabupaten/kota untuk mengimbau warga yang rumahnya tidak rusak untuk segera kembali ke rumah masing-masing.

Gempa dengan pusat kedalaman 10 Km yang tidak berpotensi tsunami tersebut, juga mengakibatkan 534 rumah warga di kota Ambon, Maluku Tengah rusak, baik rusak berat, sedang maupun ringan.

Sedangkan 12 unit rumah ibadah di Ambon dan Maluku Tengah rusak, delapan kantor pemerintah dan enam sarana pendidikan rusak berat dan ringan serta masing-masing satu pasar, RSUD Dr. I Umarella, di desa Tulehu dan Jembatan Merah Putih mengalami kerusakan sedang dan berat.

Dia menambahkan, saat ini kebutuhan mendesak yang diperlukan untuk para pengungsi dan korban luka-luka meliputi tenda, terpal, makanan dan minuman, makanan bayi, makanan instan, obat-obatan, popok bayi, pembalut wanita, selimut, matras.

Selain itu, alat penerangan, tandon air, sarana MCK, pelayanan kesehatan dan psikologi hingga bahan bakar minyak dan sebagainya.

BPBD Provinsi Maluku dibantu tim gabungan telah melakukan kaji cepat berkelanjutan dan berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten/Kota di tiga wilayah paling terdampak

BPBD juga telah memberikan sosialisasi dan trauma healing kepada para pengungsi dan korban terdampak lainnya serta menyalurkan bantuan kebutuhan lainnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by