Cerita Pilot Hercules Wara-wiri di Udara Demi Membuat Hujan di Riau

Oleh syukur pada 25 Sep 2019, 15:00 WIB
Diperbarui 27 Sep 2019, 13:13 WIB
Personel Satgas Karhutla Riau sedang memuat garam dan kapur untuk teknologi modifikasi cuaca untuk disemai di awan potensi hujan.

Liputan6.com, Pekanbaru - Satgas Karhutla Riau terus memaksimalkan potensi awan hujan yang terus tumbuh di langit Bumi Lancang Kuning. Penyemaian garam terus dilakukan mempercepat hujan turun membasahi lahan terbakar agar tidak menimbulkan kabut asap lagi.

Setiap hari, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dilakukan sejumlah pesawat yang berangkat dari Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru. Sebanyak 4 tonton garam dicampur kapur dilepas ke awan potensi hujan tiap harinya.

Salah satu pesawat yang digunakan adalah Hercules. Pesawat militer milik TNI AU ini harus terbang di ketinggian 10 ribu hingga 14 ribu kaki mencari awan potensi hujan yang selalu berpindah-pindah.

Menurut pilot pesawat Hercules, Kapten Pnb Riki Sihaloho, pencarian awan potensi hujan selalu dikoordinasikan dengan BMKG dan BPPT. Hal ini dilakukan agar penerbangan lebih efisien dan penyemaian lebih terukur.

"Jadi mencari awan potensi hujan itu tidak mudah karena berpindah-pindah. Tidak setiap tempat dan waktu adanya," ucap Riki kepada Liputan6.com, Rabu (25/9/2019).

Untuk Hercules sendiri, Riki menyebut punya target 2 kali sortie atau terbang dalam sehari. Garam dicampur kapur dimasukkan ke dalam wadah lalu ditabur melalui alat kendali di pesawat ketika awan terlihat.

Menurut Riki, garam disemai bertujuan mengikat air di awan sehingga tidak terpecah dan kemudian menimbulkan hujan. Sementara kapur berfungsi menghilangkan menghilangkan asap di udara.

"Dengan hilangnya asap, maka akan menimbulkan radiasi sehingga cepat menimbulkan pertumbuhan awan hujan," terang Riki.

Tidak hanya di langit Riau, Hercules yang diterbangkan Riki juga terbang ke arah Jambi bahkan sampai ke Palembang. Pasalnya daerah tersebut dominan ada titik api yang berpotensi menimbulkan kabut asap.

"Begitu lihat awan, pesawat mendekat. Lalu di sekitar awan ditaburi garam bercampur kapur tadi lewat console (kendali) yang dibuka dari belakang," jelas Riki.

2 of 3

124 Ton Garam Habis

Peta sebaran daerah berpotensi hujan di Riau berdasarkan prakiraan BMKG Pekanbaru.
Peta sebaran daerah berpotensi hujan di Riau berdasarkan prakiraan BMKG Pekanbaru. (Liputan6.com/Dok BMKG Pekanbaru/M Syukur)

Operasi TMC sudah dilakukan sepanjang tahun ini. Intensitasnya lalu meningkat tak kala Riau memasuki musim kemarau panjang pada tiga bulan lalu. Kemudian pesawat ditambah lagi ketika Riau sudah diselimuti kabut asap.

Sejak operasi dimulai hingga saat ini, sudah ada 124 ton garam bercampur kapur ditebar di langit Riau secara khusus. Selain Hercules ada juga pesawat Cassa dan pesawat lainnya dilibatkan secara bergantian.

Menurut Wakil Komandan Satgas Karhutla Riau Edwar Sanger, TMC telah berhasil menurunkan hujan di sebagian wilayah Riau. Pada Senin awal pekan ini, hujan terjadi dan mulai mengatasi kabut asap serta kebakaran lahan. Menurut dia, operasi TMC akan terus dilakukan di Riau melalui sinergitas antara BMKG dan BPPT serta Lanud Roesmin Nurjadin sebagai lokasi pesawat lepas landas.

"Saat ini kita masih punya stok garam sebanyak 18,4 ton," sebut pria yang juga menjabat Kepala Pelaksana BPBD Riau ini.

Selain hujan buatan, penanggulangan karhutla juga masih terus mengandalkan water boombing atau pengeboman air. Ada tujuh helikopter milik BNPB dioperasikan.

Terpisah, Prakirawan BMKG stasiun di Pekanbaru Agus Ahmad Widodo menjelaskan, secara meteorologi memang ada potensi hujan di provinsi Riau. Hal itu berdasarkan kelembaban atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan.

Menurut Agus, potensi hujan semakin besar dengan adanya operasi TMC yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Udara serta BPPT.

"Potensi hujan tersebut dapat dimaksimalkan," kata Edwar.

3 of 3

Simak juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓