Semangat Pagi Menjaga Sungai Serayu Tetap Lestari

Oleh Muhamad Ridlo pada 21 Sep 2019, 06:00 WIB
Diperbarui 05 Okt 2019, 12:35 WIB
Sebanyak 500 relawan dari berbagai elemen masyarakat membersihkan sampah di aliran Sungai Serayu. (Foto: Liputan6.com/FMPS Serayu/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banyumas - Sampah kini telah menjadi masalah di Kabupaten Banyumas, termasuk di kawasan Sungai Serayu. Sampah sungai semakin menumpuk dari rumah tangga, utamanya dari wilayah perkotaan.

Rendahnya kesadaran masyarakat disinyalir menjadi penyebab utama tercemarnya sungai. Padahal, jumlah sampah akan semakin tinggi seturut jumlah penduduk semakin bertambah.

Perlu penyadaran agar seluruh elemen masyarakat menjaga kelestarian sungai. Sungai, tak lagi dianggap sebagai benda mati, melainkan sebagai sumber kehidupan yang perlu dijaga.

Jumat pagi (20/9/2019) sekitar 500 orang lintas elemen masyarakat terlibat dalam aksi bersih sampah Sungai Serayu, di Bendung Gerak Serayu (BGS) Desa Kebasen, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Aksi ini dilakukan untuk berkampanye agar masyarakat tak lagi membuang sampah ke sungai.

Sejumlah instansi dan elemen masyarakat yang terlibat dalam pembersihan Sungai Serayu ini di antaranya, Balai besar wilayah sungai serayu opak (BBWS SO), Balai Pengelolaan Daerah aliran sungai dan Hutan lindung (BPDAS HL).

Kemudian, Balai Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Tata Ruang Serayu Citanduy (Balai Pusdataru SC), Pemerintah Kabupaten Banyumas, Forkopincam Kebasen, Forum Rembug Masyarakat Pengelolaan Sumber Daya Air Serayu Hilir, serta Mapala Unsoed dan Unwiku.

Kepala Balai Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Tata Ruang Serayu Citanduy (Pusda Taru Serayu Citanduy), Suwondo mengatakan, bersih sungai mutlak diperlukan untuk menyadarkan masyarakat arti penting sungai untuk kehidupan.

"Semboyan kali resik banyune becik banyu mili petani mukti harus digelorakan," katanya.

Pembersihkan sampah Sungai Serayu pagi itu dilakukan dengan menggunakan empat perahu tongkang dan satu ponton dari sampah dan Eceng Gondok. Pembersihan badan sungai dibagi menjadi dua tim.

 

2 of 2

Diubah Menjadi Kompos

Panorama Hulu bendung gerak serayu (BGS) Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Panorama Hulu bendung gerak serayu (BGS) Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Kelompok pertama, dipimpin oleh Ketua Paguyuban Masyarakat Pariwisata Sungai Serayu (PMPS) Eddy Wahono, yang mengerahkan sekitar 100 orang anggota Forum Rembug Masyarakat Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) Serayu Hilir.

Adapun kelompok kedua, dikoordinir oleh Kepala Balai Pusda Taru Serayu Citanduy, Suwondo, dimulai dari area Bendung Gerak Serayu (BGS) sampai saluran flushing.

"Selain dengan tenaga manusia juga menggunakan bantuan excavator bantuan dari PT SAC Nusantara untuk mengeruk sampah di dasar saluran Flushing," katanya.

Bersih sungai ini juga dilakukan sebagai wujud keprihatinan darurat sampah di berbagai tempat khususnya di perkotaan. Terlebih, kesadaran masyarakat untuk memelihara kebersihan lingkungan masih sangat rendah.

"Kesadarannya dirasa masih sangat rendah dalam memelihara kebersihan lingkungan dan menjadikan sungai menjadi sarana utama pembuangan sampah rumah tangga," ujaranya.

Sementara, Ketua PMPS Serayu, Eddy Wahono mengatakan, Sungai Serayu menerima kiriman sampah perkotaan dari lima kabupaten, meliputi Kabupaten Wonosobo , Banjarnegara, Purbalingga, Banyums, dan Kabupaten Cilacap.

Dia bilang masalah sampah sebenarnya dapat diatasi jika masyarakat secara sadar dapat menjaga kebersihan lingkungan dengan memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos dan mengurangi penggunaan sampah plastik.

Masyarakat juga perlu diedukasi pengolahan sampah dari hal yang paling sederhana. Memilah sampah, menyediakan tempat sampah, hingga tak membuang sampah sembarangan.

"Menyediakan tempat sampah dan membuang sampah jangan di sungai. Karena akan mengakibatkan pencemaran dan bahaya banjir," kata Eddy.

Untuk membuktikan sampah organik masih berguna, sampah yang sudah dibersihkan dari kawasan Sungai Serayu diubah menjadi pupuk. Berpuluh ton sampah organik dan Eceng Gondok yang diperoleh diproses menjadi kompos tanaman bernilai ekonomis.

 

Simak juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓