Kenangan Dosen Filsafat UGM tentang Musala Masa Kecil

Oleh Switzy Sabandar pada 20 Sep 2019, 08:00 WIB
Musala

Liputan6.com, Yogyakarta - Ahmad Charris Zubair punya cara tersendiri mengenang kisah masa kecilnya di musala. Dosen Filsafat UGM yang dikenal juga sebagai budayawan ini memamerkan karya-karya yang lahir dari tangannya di area Kopi Lembah kawasan Wisdom Park UGM pada 17 sampai 23 September 2019.

Salah satunya lukisan berjudul Langgar Dhuwur. Lukisan ini dibuat Charris yang terkenang langgar atau musala milik kakeknya. Langgar atau musala kecil yang dibangun di area rumah menjadi tempat salat warga sekitar.

Sesuai namanya, dhuwur dalam bahasa Jawa yang berarti tinggi, Langgar Dhuwur milik keluarganya ini dibuat menyerupai rumah panggung.

"Konsep rumah tinggal lengkap dengan tempat ibadah mirip masyarakat Hindu di Bali, Kotagede sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Islam ternyata juga melakukan itu," ujar Charris, Rabu (18/9/2019).

Menurut Charris, langgar warisan sang kakek yang sudah berusia 109 tahun itu pernah menjadi tempat yang penting bagi masyarakat sekitar di zamannya. Sekitar 1990-an, setidaknya ada tujuh langgar serupa di Kotagede, yakni di wilayah Lebihan, Joyopranan, dan Alun-Alun Kotagede.

"Tetapi saat ini hanya tinggal satu langgar, yakni langgar milik keluarga saya," ucapnya.

Bangunan musala terbagi menjadi dua, bagian atas untuk ibadah dan bangunan bawah sebagai toilet dan padasan atau tempat wudu. Ia bercerita saat masih kecil selama bulan Ramadan, langgar milik keluarganya selalu ramai karena selalu dijadikan tempat berbuka puasa dan tarawih.

Charris mengakui musala itu terakhir dipakai pada tiga tahun lalu saat tarawih. Sekalipun sepi dari aktivitas, langgar milik keluarga besarnya ini tetap berdiri kokoh karena terbuat dari kayu jati.

Saat ini, langgar itu sudah tidak digunakan karena pertimbangan praktis. "Kan naik pakai tangga, jamaah lansia kesulitan mengakses," kata Charris.

 

2 of 2

Penggerak Masyarakat Kotagede

Musala
Dosen Filsafat UGM sekaligus budayawan Ahmad Charris Zubair mengenang masa kecilnya lewat lukisan. (Liputan6.com/ Switzy Sabandar)

Selain dikenal sebagai budayawan dan akademisi, Charris juga seorang penggerak masyarakat Kotagede. Kawasan itu tempatnya lahir dan dibesarkan. Tradisi dan budaya Kotagede juga memengaruhi karakternya sebagai sosok yang kaya keberagaman seni dan budaya Jawa serta Islam.

Sejak muda, ia memiliki apresiasi terhadap seni budaya. Pada 1967, Charris aktif di Sanggar Bulus Kuning milik Pelajar Islam Indonesia (PII). Lukisan-lukisan yang lahir dari tangan dinginnya kebanyakan digambar dengan cat minyak. Ia juga rutin terlibat dalam pameran Sanggar Bulus.

Pameran yang digelar di kawasan Lembah UGM ini merupakan pameran tunggalnya yang pertama. Pameran bertajuk Sisi Lain #1 menjadi caranya berbagi dengan orang lain.

"Ini untuk pertama kalinya karya-karya saya dipertontonkan ke khalayak ramai," tuturnya.

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓