Derita Bocah 2 Tahun Menghirup Udara Terpapar Kabut Asap Pekanbaru

Oleh M Syukur pada 16 Sep 2019, 18:00 WIB
Diperbarui 18 Sep 2019, 13:13 WIB
Bocah 2 tahun korban asap mendapat perawatan khusus setelah terserang asma.

Liputan6.com, Pekanbaru - Sesekali, bocah kecil berumur 2 tahun itu ingin lepas dari pangkuan dari petugas yang ingin memasangnya tabung uap nebulizer. Napasnya terengah-engah karena tak sanggung menghirup udara tidak sehat dari kabut asap.

Perlu ketenangan oleh petugas agar bocah berbaju biru muda itu memasang alat bantu pernapasan. Setelah terpasang dan uap mengalir ke hidungnya, barulah bocah tadi duduk tenang di posko kesehatan korban kabut asap salah satu partai politik.

Menurut dokter Irda Friyeni, bocah yang tak disebutkan namanya ini terserang asma karena menghirup kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan. Perlu alat khusus menormalkan kembali napasnya.

"Kalau sesak napas biasa saja, biasanya bisa dikasih oksigen saja. Kalau asma harus nebulizer," kata Irda di posko yang terletak di Jalan HR Soekarno-Hatta, Pekanbaru, Senin (16/9/2019).

Tak hanya bocah tadi, puluhan orang berdatangan tiap jamnya ketika posko itu dioperasikan. Kebanyakan yang datang adalah ibu-ibu yang tengah hamil ataupun menyusui.

"Ada ratusan orang datang per hari ke posko ini, masyarakat umum juga banyak yang datang," ucap Irda.

Beberapa waktu lalu, tambah Irda, ada wanita berusia 22 datang. Napasnya sesak karena kabut asap sehingga harus dirujuk ke Rumah Sakit Aulia Pekanbaru karena kondisinya sangat mengkhawatirkan.

"Keluhannya mual dan pusing, sampai badannya gemetar. Ada maag juga dia, makanya langsung kita bawa ke rumah sakit untuk dilakukan tindakan medis," ucap Irda.

2 of 2

Layanan Antar Jemput

Korban kabut asap di Pekanbaru dipasang oksigen karena sulit bernapas setelah menghirup udara tidak sehat.
Korban kabut asap di Pekanbaru dipasang oksigen karena sulit bernapas setelah menghirup udara tidak sehat. (Liputan6.com/M Syukur)

Irda menerangkan, posko kesehatan dan pengungsian ini dibuka setiap hari sejak Rabu, 11 September 2019. Masyarakat yang datang mengeluh sulit bernapas karena sudah beberapa minggu menghirup kabut asap.

Pengobatan dilakukan secara gratis, begitu juga dengan obat dan alat medis lainnya untuk pasien. Dana dilakukan secara swadaya dari PKS tanpa ada bantuan dari pemerintah.

"Awalnya sampai jam 6 sore, tapi karena warga datang lewat jam 6 sore banyak, ya kita buka 24 jam. Kita datangkan dokter juga bergantian tugasnya, 4 shif, pagi, siang, sore, dan malam," kata Irda.

Untuk ibu hamil dan menyusui, dokter dan relawan di sana menyarankan menginap. Ada satu ruang di lantai tiga dikhususkan sebagai tempat pengungsian.

Hingga kini, sudah ada beberapa warga yang mengungsi di sana. Mereka belum berani pulang karena kabut asap tiap harinya kian tebal dan berbahaya bagi kesehatan.

"Di ruang pengungsian disediakan air purifier untuk udara segar. Kami juga siap untuk antar jemput warga yang membutuhkan," jelas Irda.

Antar jempur korban kabut asap ini sudah dilakukan ke berbagai daerah di sekitar Pekanbaru. Ada yang dijemput memakai ambulans dan ada pula memakai mobil pribadi milik relawan.

"Kemarin ada dari Rimbo Panjang (Kampar), ada juga dari Jalan Garuda Sakti. Kalau minta jemput silahkan hubungi nomor 082385035313, dalam satu jam sudah dijemput," imbuh Irda.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓