Kabut Asap Kian Tebal, Wali Kota Pekanbaru Pergi ke Kanada

Oleh M Syukur pada 16 Sep 2019, 14:04 WIB
Diperbarui 04 Okt 2019, 11:47 WIB
Wali Kota Pekanbaru Dr Firdaus saat mengikuti Salat Istisqa agar kabut asap hilang dan kebakaran lahan padam.

Liputan6.com, Pekanbaru - Saat kepungan kabut asap makin tebal di Riau, warga justru ditinggalkan kepala daerahnya. Jika sebelumnya Gubernur Riau Syamsuar memilih dinas ke luar negeri yakni ke Thailand, kini giliran Wali Kota Pekanbaru Dr Firdaus ST yang memilih ke Kanada.

Firdaus tidak ada pada saat warga Pekanbaru membutuhkannya saat bencana kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan melanda wilayah itu. Sebelumnya, wali kota dua periode ini juga tak hadir ketika Pekanbaru merayakan puncak ulang tahun.

Kepergian Firdaus ke Kanada ini dibenarkan Kabag Humas Pemko Pekanbaru Masirba Sulaiman. Dia menyebut kepergian orang nomor satu di Kota Madani Bertuah ini sebagai delegasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada ASEAN Waste Mission to Canada.

Irba menyebut Firdaus berangkat pada Minggu pagi, 15 September 2019, setelah mendapat persetujuan dari Sekretariat Negara dan diketahui Presiden. Kepergian ini juga atas ajakan Menteri ESDM, di mana Firdaus disebut akan memaparkan sebuah makalah di forum itu.

"Makanya tidak bisa diwakilkan karena ini forum ASEAN. Yang diundang juga wali kota," kata Irba kepada wartawan, Senin (16/9/2019).

Menurut Irba, Firdaus pergi setelah memantau cuaca di Pekanbaru. Usai melaksanakan Salat Istisqa, hujan sempat turun di berbagai wilayah di Riau.

Hujan bersifat ringan dan tidak merata itu sempat membuat cuaca membaik. Atas dasar ini, Firdaus memutuskan berangkat ke Kanada menghadiri pertemuan yang berlangsung sampai 20 September itu.

"Kalau tidak terjadi perubahan kualitas udara saat itu, mungkin bapak tidak akan pergi," jelas Irba.

Namun, perubahan kualitas udara yang dimaksud Irba itu berlangsung sebentar saja. Beberapa jam kemudian, kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru makin tebal dan membuat udara tidak sehat lagi.

Sebagai informasi, Firdaus di Pekanbaru akan menyampaikan makalah tentang pengelolaan sampah menjadi energi. Ada beberapa pejabat di Pekanbaru diajak mengikuti beberapa menteri.

2 of 2

Peringatan Dini BMKG

Suasana Kota Pekanbaru yang sudah satu pekan lebih diselimuti kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan.
Suasana Kota Pekanbaru yang sudah satu pekan lebih diselimuti kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan. (Liputan6.com/M Syukur)

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mengeluarkan peringatan dini akibat penurunan kualitas udara dan jarak pandang. Semuanya itu terjadi karena polusi akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.

"Masyarakat diminta waspada karena hal ini," sebut Kasi Data dan Informasi BMKG Pekanbaru, Marzuki, Senin siang.

Menurut Marzuki, biasanya jarak pandang di Pekanbaru dan sejumlah wilayah lainnya menurun hanya pagi hari. Namun, dalam beberapa hari belakangan, asap bertahan hingga dini hari.

"Dari pagi, siang hingga dini hari besoknya, berpotensi terjadi menurunnya jarak pandang karena kekaburan udara akibat partikel kering seperti asap dan haze," sebut Marzuki.

Berdasarkan pantauan BMKG, jarak pandang karena kabut asap di Pekanbaru hanya 800 meter. Menjelang siang, jarak pandang juga tak membaik dan hanya berkisar 1 kilometer saja.

Jarak pandang memburuk juga terjadi di Pelalawan, bahkan lebih parah dari Pekanbaru, yaitu 300 meter saja. Jarak pandang di Indragiri Hulu juga lebih buruk dari Pekanbaru, yaitu 700 meter.

"Kota Dumai sedikit lebih baik yaitu 2 kilometer," sebut Marzuki.

Untuk daerah lainnya, tambah Marzuki, bukan berarti lebih baik. Dia menyebut jarak pandang di sejumlah wilayah di Riau tidak terpantau karena belum ada petugas BMKG bertugas di sana.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓