Cerita Patung Menari Sigale-gale dari Pulau Samosir

Oleh Reza Efendi pada 13 Sep 2019, 03:00 WIB
Patung Sigale-gale/Reza Efendi

Liputan6.com, Samosir - Pulau Samosir di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menjadi salah satu destinasi favorit yang banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Samosir adalah sebuah pulau vulkanik di tengah Danau Toba.

Tak hanya bisa menikmati keindahan Danau Toba, jika berkunjung ke Pulau Samosir juga bisa melihat langsung kebudayaan dan beberapa kepercayaan-kepercayaan yang masih diyakini oleh masyarakat sekitar.

Salah satunya adalah tentang sejarah Patung Sigale-gale, merupakan patung kayu yang menari dan sudah ada sejak zaman kerajaan Suku Batak di Pulau Samosir.

Seorang pemuka adat di Pulau Samosir, Parlindungan Situmorang mengatakan, Sigale-gale adalah sebuah patung kayu yang awalnya digunakan dalam pertunjukkan tari untuk ritual penguburan jenazah Suku Batak.

"Namun saat ini, tarian Sigale-gale banyak dipertontonkan, bahkan diikuti oleh para wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri," kata Parlindungan, Kamis (12/9/2019).

Parlindungan mengungkapkan dahulu diyakini bahwa Sigale-gale menari karena adanya roh dari jenazah yang akan dikubur tersebut. Namun saat ini, selama menari-nari, patung dikendalikan oleh seorang pemain dari belakang.

"Sigale-gale asalnya dari daerah Tapanuli Utara dan kemudian menyebar ke Pulau Samosir. Penduduk di Samosir menyebutnya Raja Manggale," jelasnya.

Manggale adalah raja yang bersedih karena kehilangan seorang anak. Untuk mengobati kesedihannya, dia membuat sebuah patung. Patung tersebut dahulu dipercaya bisa menari sendiri, dan membuat sang raja bahagia karena merasa anaknya masih hidup.

 

2 of 2

Awal Mula Tradisi Sigale-gale

Mengenal Tarian Mistis Patung Sigale gale di Pulau Samosir
Patung Sigale gale dan Pemuka Adat, Parlindungan Situmorang. (Liputan6.com/Reza Efendi)

Sigale-gale awalnya dipergunakan pada upacara-upacara kematian. Upacara untuk orang-orang yang meninggal tanpa mempunyai anak maupun yang meninggal tanpa meninggalkan keturunan karena semua anaknya telah tiada.

"Upacara tersebut diadakan, terutama apabila orang yang meninggal mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat, seperti raja-raja, dan para tokoh masyarakat," terang Parlindungan.

Hal itu dilakukan dengan maksud menyambung keturunan mereka kelak di alam baka. Pada masyarakat Batak Toba, apabila seseorang yang mempunyai kedudukan meninggal dunia dan ia tidak mempunyai keturunan maka dipandang rendah dan tidak membawa kebaikan.

Oleh karena itu, kekayaan yang ditinggalkannya akan dihabiskan untuk mengadakan upacara Sigale-gale untuk orang yang meninggal tersebut. Orang lain tidak akan berani mengambil harta benda milik orang tersebut karena takut tertular atau meninggal seperti pemiliknya.

Pada masa sekarang, upacara-upacara Sigale-gale sudah mulai ditinggalkan karena banyak yang berpendapat upacara tersebut dianggap sebagai upacara keagamaan parbegu, suatu upacara yang didasarkan pada kepercayaan terhadap begu atau roh dari orang yang sudah meninggal.

"Saat ini Sigale-gale dipertunjukkan untuk memperkenalkan kepada wisatawan. Kami sebagai Suku Batak senang, karena budaya yang dimiliki ternyata disukai dan disenangi orang. Apalagi setiap tahun, ada jutaan wisatawan datang ke Pulau Samosir untuk melihat pertunjukan dari Sigale-gale," Parlindungan menandaskan.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓