Hikayat Bubur Sura dan Warisan Sunan Gunung Jati Cirebon

Oleh Panji Prayitno pada 11 Sep 2019, 05:00 WIB
Hikayat Bubur Sura dan Warisan Sunan Gunung Jati Cirebon

Liputan6.com, Cirebon - Sejarah panjang peradaban Cirebon meninggalkan banyak warisan. Baik di bidang seni, budaya dan tradisi yang masih lestari.

Seperti yang dilakukan oleh keluarga besar Keraton Kanoman Cirebon pada bulan Muharam atau Sura. Keluarga hingga kerabat keraton datang menjalankan ritual selamatan Bubur Sura Cirebon.

"Ini salah satu tradisi yang diwariskan Sunan Gunung Jati kepada kami penerusnya dan harus selalu dijalankan," kata juru bicara Keraton Kanoman Cirebon Ratu Raja Arimbi, Selasa (10/9/2019).

Dia mengatakan, peringatan Asyura memiliki keutaman untuk belajar mengeluarkan sedekah, seperti tanaman hasil bumi hingga buah-buahan untuk dijadikan bahan pokok pembuatan bubur suro.

Arimbi menyebutkan, semua bahan tersebut adalah swadaya dari masayarakat yang mereka punya untuk bahan-bahan pembuatan bubur suro.

"Kami dan para pengabdi dalem yang mengolah kemudian diritualkan," ujar dia.

Sebagai penanda, Bubur Sura Cirebon terdiri dari bubur beras, santan kelapa serta lauk pauk. Sementara itu, bubur beras sendiri terdiri dari beras, air, kelapa parut, salam, sereh, klungsu, pisang saba, tales, uwi, dan garam.

Adapun lauk pauk penyerta bubur sura sendiri terdiri dari 18 macam, mulai dari sambal goreng, dendeng daging sapi suwir, hingga daun kemangi.

"Kemudian bubur sura dan lauk pauknya disajikan dalam takir atau wadah yang terbuat dari daun pisang klutuk berbentuk perahu sebagai pengingat bahtera Nabi Nuh," ujar dia.

Ritual bubur sura ini diawali dengan prosesi memasak oleh rombongan abdi dalem Panca Pitu, kemudian prosesi penyajian bubur suro di Bangsal Jinem Keraton Kanoman.

Pelaksanaan acara Ritual Selametan Bubur Sura di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon.

2 of 2

Warisan Sunan Gunung Jati

Hikayat Bubur Sura dan Warisan Sunan Gunung Jati Cirebon
Patih Keraton Kanoman Cirebon Pangeran Raja Moch Qodiran saat memberi arahan sebelum memulai ritual selametan bubur satu sura. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Pada kesempatan tersebut, Arimbi menjelasakan, Sura atau Muharam merupakan salah satu bulan yang banyak mengandung kemuliaan hingga mistis dalam tradisi Islam di Indonesia khususnya di Keraton Kanoman Cirebon.

"Sebagai bulan pertama dalam mengawali tahun baru baik tahun baru Islam dan tahun baru Saka Aboge Keraton. Bulan Suro ini menjadi waktu khusus dilakukan acara ritual yang erat kaitanya dengan peristiwa besar sejarah Islam dan kosmologi dalam hitungan weton dan primbon," ujar dia di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon.

Dia mengatakan, ritual bubur Sura ini sudah dilakukan sejak masa Sunan Gunung Jati. Ritual yang dilakukan setiap tanggal 10 Sura ini tidak lepas dari sejumlah peristiwa besar dalam sejarah Islam.

Seperti taubatnya Nabi Adam AS kepada Allah, berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS, selamatnya Nabi Ibrahim AS dari api hukuman Raja Namrud. Dibebaskannya Nabi Yusuf AS dari penjara, Nabi Ayyub disembuhkan dari penyakit, Nabi Musa dan umatnya diselamatkan dari kejaran Fir’aun terjadi pada bulan asyura.

"Sampai pada kisah terbunuhnya Sayyidina Husen bin Ali yang tak lain cucunya Nabi Muhammad SAW terjadi tepat pada tanggal 10 Sura," ujar dia.

Kemudian, lanjut Arimbi, sejumlah peristiwa bersejarah tersebut, dikemas dalam sebuah tradisi yang disebut Bubur Sura oleh para Wali Sanga khususnya Sunan Gunung Jati.

"Sampai sekarang kami sebagai penerusnya akan berusaha mempertahankan dan melestarikan apa yang sudah menjadi warisan leluhur kami," ujar dia.

Saksikan video pilihan berikut ini: 

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by
Tragedi Kabut Asap