Puskesmas Siaga 24 Jam Antisipasi Penderita ISPA Akibat Kabut Asap

Oleh M Syukur pada 11 Sep 2019, 08:00 WIB
Diperbarui 12 Sep 2019, 23:13 WIB
Anggota salah satu komunitas di Pekanbaru membawa selebaran sebagai protes dampak kabut asap kebakaran lahan di Riau.

Liputan6.com, Pekanbaru - Pasien di pusat kesehatan masyarakat atau Puskesmas di Pekanbaru melonjak drastis dalam beberapa hari. Rata-rata pasien yang diterima tiap harinya mengeluhkan sesak pernapasan karena terpapar kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Tak seperti biasanya, pasien juga ramai berkunjung ke Puskesmas pada hari Sabtu dan Minggu. Akibatnya, tenaga kesehatan di Puskesmas harus bekerja ekstra karena kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru makin tebal.

Seperti Puskesmas Simpang Tiga, Jalan Kaharuddin Nasution. Fasilitas kesehatan ini juga menyediakan ruang rawat inap untuk pasien terdampak asap. Rawat inap dibuka 24 jam, begitu juga dengan poliklinik umum.

"Poli anak juga dibuka, rata-rata pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA adalah anak-anak," kata Kepala Puskesmas Simpang Tiga Pekanbaru, Leni Marzal, Selasa siang, 10 September 2019.

Leni menjelaskan, pasien yang berobat tidak hanya terkena ISPA tapi juga asma dan pneumonia pada anak-anak. Kedua penyakit selain ISPA itu dipicu kabut asap.

"Untuk iritasi mata hingga kini kasus itu belum dijumpai di Puskesmas ini," kata Leni.

Leni mengaku tak menghitung sudah berapa pasien yang datang ke Puskesmas. Namun dia memastikan terjadi lonjakan dibanding hari lain dan tercatat dengan baik selama kabut asap terjadi.

"Ada catatan pengelompokkan umur, setiap hari dibuat. Namun 30 persen itu terkena ISPA, bisa dilihat di papan pengumuman di situ juga ada sosialisasi," katanya.

Selain mengobati, Puskesmas juga memberikan penyuluhan kepada pasien dan membagikan masker. Pasien rawat jalan juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah selama Pekanbaru diselimuti kabut asap.

Selain pasien, Puskesmas Simpang Tiga juga rajin ke sekolah dan Posyandu di bawah naungannya. Hal ini dilakukan agar masyarakat bisa mencegah terjadinya serangan penyakit karena kabut asap.

"Kalau masker ke sekolah memang tidak diberikan karena jumlahnya terbatas, khusus pasien saja," sebut Leni.

2 of 2

Ratusan Warga Terjangkit ISPA

Sejumlah warga di Pekanbaru mengantri mendapatkan pengobatan di Puskesmas karena terdampak kabut asap kebakaran lahan.
Sejumlah warga di Pekanbaru mengantri mendapatkan pengobatan di Puskesmas karena terdampak kabut asap kebakaran lahan. (Liputan6.com/M Syukur)

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Mimi Yuliani Nazir menyebut penderita ISPA pada September ini mencapai ada 4.306 orang. Jumlah ini diprediksi terus bertambah karena kabut asap sebagai pemicu utama penyakit itu masih mengepung wilayah Riau.

Oleh karena itu, Mimi mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah. Kalaupun tidak bisa dihindari, masyarakat diminta memakai masker setiap harinya.

"Selain itu, hendaknya masyarakat bisa berprilaku bersih dan sehat, seperti makan makanan yang bergizi, tidak merokok, serta istirahat yang cukup," kata Mimi.

Mimi juga mengimbau masyarakat selalu memantau kualitas udara selama kabut asap berlangsung. Jika alat Indeks Standar Pengukur Udara yang tersebar di berbagai daerah sudah melebihi angka 100, sebaiknya tidak keluar rumah.

Dia menjelaskan, penderita ISPA setiap bulannya sejak awal tahun ini selalu berbeda. Paling banyak itu terjadi pada awal tahun dan terus menurun hingga Agustus, meski jumlah penderita tetap puluhan ribu.

"Kalau ditotal dari awal tahun hingga sekarang, sudah ada 281.626 warga Riau terserang ISPA, penyebab utama adalah cuaca," kata Mimi.

Data dari Dinas Kesehatan Riau, pada Januari penderita ISPA mencapai 42.645 orang, kemudian Februari 39.720 orang, Maret 40.968 orang, April 38.372 orang, Mei 28.429, Juni 30.312 orang, Juli 27.563 orang, Agustus 29.346 orang, dan September 4.306 orang.

"Kalau untuk data ISPA lima tahun terakhir, yakni pada tahun 2015 ada 639.548 orang, 2016 ada 720.844 orang, 2017 ada 565.711 orang, 2018 ada 529.232 orang dan 2019 ada 281.626 orang," kata Mimi.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓