Siasat Warga Taklukkan Celeng Jumbo Gunung Slamet

Oleh Muhamad Ridlo pada 09 Sep 2019, 07:00 WIB
Diperbarui 11 Sep 2019, 06:13 WIB
Warga Grantung, Karangmoncol, Purbalingga berhasil menangkap dua ekor celeng atau babi hutan dalam perburuan, Minggu, 8 September 2019. (Foto: Liputan6.com/Kominfo PBG/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Purbalingga - Beberapa tahun terakhir, warga di sekitar hutan atau pegunungan kerap dibuat resah oleh serangan celeng alias babi hutan. Tak hanya merusak tanaman pertanian, celeng juga menyerang manusia.

Di Banyumas, misalnya, empat orang diserang celeng jumbo pada Juli 2019 lalu. Satu di antaranya, Warsinah (70) tewas lantaran terluka parah.

Adapun tiga korban lainnya beruntung bisa selamat. Satu orang terluka parah, dua lainnya hanya menderita ringan.

Teror celeng yang begitu menakutkan itu membuat warga khawatir. Kegelisahan itu memuncak dan berubah menjadi kemarahan.

Ratusan warga memburu celeng ganas ini. Tetapi, celeng itu seolah raib ditelan hutan Lereng Gunung Slamet. Dua bulan pascaserangan, celeng tak kunjung ditemukan.

Tak berbeda dengan di Banyumas, celeng juga menggila di Purbalingga. Warga Desa Grantung Kecamatan Karangmoncol resah lantaran tanamannya kerap diganggu hewan bertaring ini.

Akhirnya, mereka pun bersepakat untuk memburu hama pertanian ini. Bersama dengan personel Koramil 11 Karangmoncol, sekitar 40 warga Grantung memulai perburuan. Perburuan ini juga diikuti oleh Camat Karangmoncol dan staf, serta perangkat Desa Grantung.

Lazimnya, perburuan celeng secara tradisional hanya menggunakan perangkap dan alat-alat sederhana. Namun, kali ini warga mendapat bantuan penting, tiga pucuk senapan laras panjang dan penembaknya.

2 of 2

Peran Emak-Emak Desa Grantung

Warga Grantung, Karangmoncol, Purbalingga berhasil menangkap dua ekor celeng atau babi hutan dalam perburuan, Minggu, 8 September 2019. (Foto: Liputan6.com/Kominfo PBG/Muhamad Ridlo)
Warga Grantung, Karangmoncol, Purbalingga berhasil menangkap dua ekor celeng atau babi hutan dalam perburuan, Minggu, 8 September 2019. (Foto: Liputan6.com/Kominfo PBG/Muhamad Ridlo)

Namun begitu, warga tetap berbekal senjata tajam. Beberapa warga membawa tombak, lainnya berbekal parang. Mereka mesti melindungi diri mengingat celeng jumbo kerap menyerang pemburu saat terdesak.

Camat Karangmoncol, Juli Atmadi mengatakan perburuan babi hutan memang sangat diperlukan. Sebab, kini celeng sudah sedemikian ganas mengganggu tanaman warga.

"Harapannya dengan perburuan ini, tanaman warga bisa aman dari serangan babi hutan," ucap dia, Minggu, 8 September 2019.

Kades Grantung, Karyono mengatakan sebelumnya warga telah bersepakat untuk memburu celeng pada Minggu. Warga tambah bersemangat ketika sejumlah personel Polri dan TNI turut dalam perburuan ini.

Semua warga terlibat dalam perburuan ini. Para pria dan pemuda turut berburu dengan perlengkapan parang, tombak dan alat lainnya.

Perempuan juga tak tinggal diam. Mereka menyiapkan nasi bungkus dan air minum untuk para pemburu. Aksi perburuan inin berhasil. Dua celeng berhasil dibunuh. Satu di antaranya, berukuran jumbo.

"Alhamdulillah berkat bantuan dari semua pihak hari ini, perburuan mendapatkan 2 ekor babi hutan," ucap Karyono.

Meski sudah berhasil membunuh dua celeng, diduga masih banyak celeng lain di sekitar perkebunan warga. Karenanya, warga akan terus memburu hingga celeng tak lagi mengganggu tanaman warga.

Perkebunan yang sering diganggu babi hutan memang berdekatan dengan hutan yakni hutan Cahyana dan hutan Serang,” dia menjelaskan.

Selain babi hutan, menurut Karyono sawah di Desa Grantung juga diserang hama tikus. Setiap pekan, warga gropyokan tikus. "Minggu kemarin 700 ekor tikus kita dapatkan," ujarnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓