6 Bayi dari Ibu HIV di Cilacap Dinyatakan Sehat

Oleh Muhamad Ridlo pada 29 Agu 2019, 14:00 WIB
Diperbarui 29 Agu 2019, 14:00 WIB
Ilustrasi – Bayi di dalam inkubator. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Penularan penyakit HIV-AIDS di Cilacap semakin membuat prihatin. Tak hanya kelompok rentan, bahkan ibu rumah tangga pun tertular penyakit ini.

Di antara mereka, tentu saja ada yang hamil. Ini lah yang lantas memicu kekhawatiran bahwa HIV akan menular kepada janin yang dikandungnya.

Tetapi, kini dunia kesehatan telah mengenal Prevention of Mother-to-Child HIV Transmission (PMTCT). Penanganan khusus persalinan untuk mencegah penularan HIV dari ibu kepada bayi yang dilahirkan.

Metode ini mulai terbukti di Cilacap. Enam bayi yang dilahirkan dari seorang ibu dengan HIV-AIDS atau orang dengan HIV-Aids (ODHA) dinyatakan normal dan sehat.

Kepastian ini diperoleh usai pemeriksaan di laboratorium RSUD hingga ke Laboratorium Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Enam anak ini dinyatakan sehat alias tak tertular virus HIV yang menjangkit ibunya.

"Sudah diperiksa. Enam itu sudah mutlak negatif. Karena sudah kita periksa langsung sampai ke provinsi ya," kata Manajer VCT RSUD Cilacap, Rubino Sriaji, Selasa, 27 Agustus 2019.

Dia mengungkapkan, enam bayi itu dilahirkan dengan proses persalinan PMTCT. Sejak 2016, atau semenjak Perda Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Penanggulangan HIV di Kabupaten Cilacap berlaku efektif, sebanyak 60 bayi dilahirkan dari ibu HIV-AIDS.

Itu artinya, masih ada puluhan bayi lain yang belum diperiksa kondisi kesehatannya, apakah negatif atau positif HIV-AIDS. Namun, setidaknya kepastian sehatnya enam bayi yang dilahirkan dari ODHA itu membuat harapan semakin menebal bahwa bayi lainnya pun akan dinyatakan sehat.

 

2 dari 3 halaman

5 Bayi dari Ibu HIV Meninggal Dunia

Sebanyak 47 Fasilitas Kesehatan (Faskes) di Cilacap berfasilitas VCT untuk konseling dan pemeriksaan HIV-AIDS. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Sebanyak 47 Fasilitas Kesehatan (Faskes) di Cilacap berfasilitas VCT untuk konseling dan pemeriksaan HIV-AIDS. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

“Seorang bayi yang dilahirkan tidak bisa langsung dicek. Menunggu umur 1,5 tahun untuk memastikan apakah negatif atau positif HIV,” Rubino mengungkapkan.

Namun begitu, Rubino pun mengakui tak semua semua bayi dilahirkan dengan metode PMTCT atau proses persalinan khusus pencegahan penularan HIV. Pasalnya, ada kasus di mana tenaga medis tak mengatahui riwayat kesehatan ibu.

Lazimnya, ibu hamil diperiksa kesehatannya, termasuk tes HIV-AIDS. Namun, ada kasus di mana ibu hamil pulang ke Cilacap hanya untuk bersalin. Belakangan diketahui, ibu hamil tersebut terjangkit HIV.

“Setelah lahir baru dicek. Jadi sudah kelewat. Hamilnya di kota mana, pulang, melahirkan, begitu kan. Jadi tidak masuk ke catatan Bumil itu,” dia menerangkan.

Rubino mengemukakan, ibu rumah tangga menjadi kelompok rentan penularan HIV-AIDS. Kebanyakan ditularkan oleh suaminya.

Karenanya, kini seluruh ibu hamil wajib menjalani pemeriksaan HIV-AIDS. Hal ini untuk mencegah penularan ke bayi yang akan dilahirkan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinas kesehatan Kabupaten Cilacap, Kuswantoro mengatakan, Dinas Kesehatan memperkirakan jumlah penderita HIV-AIDS di Cilacap sudah mencapai 1.762 orang.

Angka ini diperoleh dari perkiraan berdasar analisis data per kelompok berrisiko dan potensi penularan. Analisis ini diklaim valid lantara melibatkan berbagai kalangan, termasuk ahli.

Namun, hingga Juli 2019 lalu, angka akumulatif baru mencapai 1.400-an orang. Itu artinya, masih ada sebanyak 20-30 persen penderita yang belum terdeteksi.

Dan itu, menurut Kuswantoro, bukan hal mudah. Sebab, banyak ODHA yang cenderung menyembunyikan identitasnya. Terlebih, banyak kelompok rentan penularan yang cenderung tertutup.

“Dalam penghitungan perkiraan ini kami melibatkan para ahli. Ada juga LSM, dan relawan,” dia mengungkapkan.

 

3 dari 3 halaman

Jumlah Kasus HIV Cilacap

Suasana malam di Kota Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Suasana malam di Kota Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Data di Dinas Kesehatan Cilacap, pada 2018 jumlah kasus HIV 157, AIDS 60 orang. 10 ODHA meninggal dunia. Adapun pada 2019 ini, hingga Juli ditemukan sebanyak 159 kasus HIV, 15 AIDS. Lima penderita HIV-AIDS meninggal dunia.

Sekitar 40 persen dari temuan baru pada 2019 adalah kelompok Laki Suka Laki (LSL) atau homo. Ditengarai jumlah penderita HIV dari kelompok ini lebih besar dari yang sudah ditemukan. Pasalnya, kelompok homo cenderung tertutup dan sulit dijangkau oleh petugas.

“Jadi ada yang PNS, ada yang suami punya istri punya anak. Tertutup. Jadi sulit untuk mengetahuinya,” dia menjelaskan.

Untuk pencegahan penularan, penanggulangan HIV-AIDS, serta edukasinya, kini seluruh Puskesmas di Cilacap berfasilitas VCT. Keberadaaan VCT ini untuk memudahkan masyarakat menjangkau fasilitas terdekat.

Selain Puskesmas, VCT juga tersedia di berbagai rumah sakit, baik milik daerah maupun swasta. Harapannya tentu saja agar penderita HIV-AIDS mudah ditemukan.

Edukasi untuk kelompok rentan, baik yang sudah positif HIV-AIDS maupun belum juga terus dilakukan. Salah satunya adalah edukasi untuk mengubah perilaku seksual. Diketahui, penularan terbanyak HIV adalah melalui hubungan seksual.

Bahkan, dampaknya juga turut dirasakan oleh ibu rumah tangga yang tak pernah beraktivitas di luar. Mereka tertular oleh suaminya.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga terus mendorong agar dilakukan edukasi di tingkat pelajar dan mahasiswa. Pasalnya, kelompok ini juga sangat rentan penularan HIV.

“Di dunia pendidikan ini sangat penting. Memang harus didorong oleh semua kalangan untuk edukasi HIV,” katanya.

Data di Dinas Kesehatan Cilacap, pada 2018 jumlah kasus HIV 157, AIDS 60 orang. 10 ODHA meninggal dunia. Adapun pada 2019 ini, hingga Juli ditemukan sebanyak 159 kasus HIV, 15 AIDS. Lima penderita HIV-AIDS meninggal dunia.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓