Cerita Meraba Jejak Orangutan di Cagar Alam Kendawangan Kalimantan

Oleh Liputan6dotcom pada 28 Agu 2019, 07:30 WIB
Diperbarui 18 Sep 2019, 15:57 WIB
Konservasi Orangutan

Liputan6.com, Jakarta - Berjalan di hutan rawa gambut bukanlah hal mudah. Dasar hutan yang kebanyakan air membuat mata harus awas dalam melangkah. Hampir seharian tim survey baru mencapai titik untuk bermalam di dalam hutan di Cagar Alam Kendawangan dengan menaiki mobil dan kapal, dan sekitar 213.85 km berjalan kaki dalam waktu 14 hari.

Empat belas orang memasuki liarnya hutan di Cagar Alam Kendawangan, salah satu hutan yang berada di Kalimantan Barat. Kegiatan yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam-Kalimantan Barat bekerjasama dengan Forum Konservasi Orangutan Kalimantan Barat, dan Fauna & Flora International – Indonesia Programme bertujuan untuk mendata satwa dan tumbuhan penting, salah satunya adalah orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus wrumbii).

Menurut Forest/Wildlife Protection Specialist Fauna & Flora International-Indonesia Programme, Tito Indrawan, Cagar Alam Kendawangan menjadi salah satu lokasi populasi orangutan, karena habitat yang berupa hutan rawa gambut menjadi salah satu habitat yang disukai orangutan.

“Penggalian informasi lebih dalam mengenai keberadaan orangutan dan satwa penting lainnya serta ancaman terkini yang ada di lokasi ini. Dengan berjalan kaki di dalam cagar alam, kita bisa melihat kebaradaan individu orangutan secara langsung maupun petunjuk (sarang),” terang Tito.

Tito menambahkan bahwa penemuan satwa penting, ancaman yang ditemui, serta melihat konektivitas cagar alam dengan perusahaan yang berada di sekitar cagar alam juga perlu dilakukan untuk menentukan tindakan yang diambil untuk ke depannya. 

Menjelajah Cagar Alam Kendawangan menjadi salah satu metode tim survey untuk melihat, meraba, dan mencium tanda-tanda keberadaan satwa melalui pemantauan dengan patroli Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART). Agar mendapatkan bukti keberadaan satwa penting, penggunaan teknologi seperti kamera jebak dan audiomoth juga dilakukan, agar banyak kemungkinan merekam jenis satwa yang sebelumnya tidak pernah terdata.

Tenaga Bakti Rimbawan, Seksi Konservasi I Ketapang, BKSDA Kalimantan Barat Andreas Budiman Silalahi mengatakan bahwa selama 14 hari melakukan survey banyak perjumpaan satwa penting di dalam cagar alam.

“Hasil sementara yang telah kami dapatkan antara lain satu sarang baru dan enam sarang lama orangutan, lebih dari 30 jenis burung, bekantan (Nasalis larvatus), feses dan jejak rusa sambar (Rusa unicolor), jejak beruang madu (Helarctos malayanus), babi hutan (Sus scrofa), pohon Meranti (Shorea sp) juga ditemui selama pengamatan,”terang Andreas.

Andreas menambahkan bahwa selama pemantauan, ancaman yang dapat membuat satwa penting menjadi terancam juga tercatat. Sisa kebakaran hutan, bekas illegal logging yang telah lama ditinggal ditemui selama perjalanan.

Koordinator lapangan dan Biodiversity Officer Fauna & Flora International Indonesia Programme, Ryan Avriandy mengatakan bahwa masih banyak potensi keberadaan satwa penting di dalam cagar alam, namun tidak adanya konektivitas antara lanskap bisa menyebabkan satwa di dalamnya semakin sedikit dan berakibat pada kepunahan.

“Bila dibiarkan dan tidak ada usaha pemulihan habitat, hanya akan menunggu waktu untuk satwa di dalamnya menghilang, perlu usaha pemulihan habitat, dan kolaborasi multipihak agar dapat meningkatkan keamanan kawasan dengan konsep kolaboratif dan berkesinambungan,” jelas Ryan.

Fransisca Noni, peneliti FFI, kontributor Liputan6.com