1.000 Hektare Sawah Puso, Bagaimana Ketahanan Pangan Kebumen?

Oleh Muhamad Ridlo pada 27 Agu 2019, 11:00 WIB
Diperbarui 27 Agu 2019, 11:00 WIB
Gabah gabug atau gabeng lantaran kekeringan. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Kebumen - Kemarau tahun ini di Kebumen datang lebih cepat dari biasanya. Dampaknya begitu terasa, mulai dari krisis air bersih hingga sawah puso.

Data Dinas Pertanian Kebumen, sedikitnya 1.000 hektare sawah puso. Sebagian besar sawah puso merupakan sawah tadah hujan. Namun, ada pula sawah yang berada di saluran irigasi, tetapi terancam puso.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kebumen, Tri Haryono menyebut angka 1.000 hektare itu baru estimasi atau perkiraan. Jumlah sawah puso ini masih mungkin bertambah lantaran Dinas Pertanian masih menunggu data-data per kecamatan.

"Ini kan sedang ramai-ramainya panen. Kalau estimasi kita sekitar 1.000 hektare. Tapi kita juga masih menunggu laporan per kecamatan," katanya, Senin, 26 Agustus 2019.

Kemarau tahun ini tiba lebih cepat dari biasanya. Kemarau yang biasanya dimulai Juni tiba pada Mei 2019. Akibatnya, tanaman padi berusia muda banyak yang terdampak dan menyebabkan sawah puso.

Pasalnya, padi usia muda sangat membutuhkan air. Kekurangan air pada tanaman padi usia muda menyebabkan padi gagal panen atau hasil panennya menurun drastis.

Bahkan, kemarau yang tiba lebih awal ini juga berimbas di sawah-sawah yang sebenarnya teraliri irigasi. Debit air waduk dan bendungan tak cukup untuk dialirkan sehingga sawah puso.

Waduk Sempor, misalnya, telah menghentikan aliran irigasi sejak awal Juni 2019. Pembangkit listrik di waduk ini juga telah berhenti beroperasi sebulan sebelumnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Ketahanan Pangan Kebumen

Debit Bendung Menganti, Sungai Citanduy, Jawa Barat menyusut drastis akibat kemarau. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Debit Bendung Menganti, Sungai Citanduy, Jawa Barat menyusut drastis akibat kemarau. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

"Kalau yang di aliran irigasi ada yang berkategori puso, tapi tidak total. Ya tetap masih ada panen, tapi sedikit," dia menerangkan.

Kondisi kekurangan air ini menyebabkan produksi gabah di Kebumen turun. Dalam kondisi normal produksi gabah Kebumen mencapai 400 ribu ton per tahun.

Jumlah ini diperoleh dari dari luasan sawah 39.500 hektare. Namun, diperkirakan tahun ini jumlah panen menurun kisaran 10 persen akibat kemarau dini.

Meski begitu, Tri mengklaim penurunan produksi gabah tak mengganggu ketahanan pangan Kebumen. Jumlah gabah tahun ini masih disebut masih aman.

"Kita ada perhitungan dari total panen, kemudian diperhitungkan dengan jumlah total warga sekitar 1,3 juta. Masih aman," dia mengungkapkan.

Dampak kemarau lainnya, tentu saja adalah krisis air bersih yang semakin meluas. Pertengahan Agustus 2019 saja, terdapat 20 desa di delapan kecamatan yang sudah mengalami krisis air bersih.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen, Eko Widiyanto memperkirakan pada 2019 ini ada 60 desa di 18 kecamatan yang rentan mengalami krisis air bersih.

Karenanya, BPBD menyiapkan sebanyak 1.450 tangki bantuan air bersih. Selain anggaran BPBD untuk pengadaan air bersih, BPBD juga menggandeng berbagai pihak, seperti BUMN, perbankan, perusahaan swasta dan kelompok masyarakat yang peduli dengan bencana kekeringan Kebumen untuk menyediakan bantuan air bersih.

Tahun 2018 lalu, sekitar 1.700 tangki bantuan air bersih disalurkan ke wilayah yang mengalami krisis air bersih. Jumlah bantuan air bersih di luar alokasi dari APBD mencapai 515 tangki.

Lanjutkan Membaca ↓