Dengarlah Ketika Gamelan Bercerita tentang Instagram

Oleh Switzy Sabandar pada 24 Agu 2019, 20:00 WIB
YGF 2019

Liputan6.com, Yogyakarta Bukan hal baru lagi sebenarnya jika kaum milenial saat ini kerap terlihat di acara tradisi dan budaya. Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) yang penyelenggaraannya sudah memasuki tahun ke-24 ini menjadi saksi gerakan budaya di kalangan anak muda.

Dalam perhelatan ini, pertunjukan gamelan tidak lagi kaku dan melulu mendayu-dayu. Setiap partisipan bisa menampilkan karya musik beraneka macam yang merupakan pengembangan dari gamelan.

Kelompok Si Paningkah X Kabar Minang pimpinan Ega Fausta dari Surakarta, misalnya, menampilkan 10 komposisi karya yang judulnya diambil dari istilah yang umum digunakan atau muncul di Instagram. Mereka menjadi salah satu penampil dalam konser YGF ke-24 di Plasa Ngasem Yogyakarta, Kamis (22/8/2019) malam.

Seperangkat gamelan yang terdiri dari bonang, kenong, gong, seruling, dan selo, berkolaborasi dengan gitar elektrik dimainkan oleh 11 orang. Kelompok ini mengawali pertunjukkan dengan berswafoto menggunakan gawai masing-masing, sesuai dengan judul komposisi karya yang pertama, Selfie. Komposisi karya kedua sampai terakhir dimainkan secara berurutan, meliputi, Story, Caption, Tagar, Follower, Trending, Meme, Hoax, Koneksi, dan Instragamelan.

Setiap komposisi dimainkan sekitar satu sampai dua menit. Komposisi juga mewakili arti harafiah yang menunjukkan cara mereka memainkan gamelan.

Ketika memainkan komposisi berjudul Follower, satu pemain memainkan nada menggunakan bonang. Lalu 10 pemain lainnya mengikuti dengan irama dan nada yang sama.

Demikian pula ketika mereka memainkan komposisi Hoax. Mereka mendistorsi bunyi gamelan, seperti membalikkan salah satu kenong dan bonang. Nada yang dihasilkan selaras dan menimbulkan kesan memilukan. Melalui karyanya, sekelompok anak muda ini berusaha memberikan pemahaman tentang hoaks yang akan terasa menyakitkan jika digaungkan.

“YGF pada tahun ini mengambil tema New Gamelan yang artinya gamelan sebagai spirit seperti kata ayah saya dulu (Sapto Rahardjo),” ujar Ari Wulu, Director YGF.

Menurut Ari, sebagai gaya baru, gamelan bukan hanya dipandang dari sisi penyajiannya yang berbeda, melainkan juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Simak video pilihan berikut