Ketika Generasi Milenial Borong Buku untuk Dipajang di Medsos

Oleh Switzy Sabandar pada 24 Agu 2019, 12:00 WIB
MocoSik2019

Liputan6.com, Yogyakarta - Orang kerap salah sangka pada era digitalisasi. Mereka mengira kaum milenial sudah jauh dari buku dan lebih sibuk dengan gawainya. Asumsi itu dipatahkan oleh sastrawan Agus Noor dalam pembukaan MocoSik 2019, festival buku dan musik, di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta, Jumat (23/8/2019).

"Koran mungkin turun, tetapi buku justru tumbuh," ujarnya.

Ia membandingkan buku sastra zaman Pramoedya Ananta Toer dan WS Rendra dicetak 3.000 buah hanya laku 100 dalam tiga tahun. Saat ini, buku sastra dalam sekali terbit bisa ludes dalam beberapa hari.

"Orang sekarang suka beli buku karena dipotret dan dipasang di Instagram, belum tentu langsung dibaca," ucap Agus Noor.

Pendapat Agus Noor itu tidak dibantah oleh Irwan Bajang, Direktur Program MocoSik 2019. Ia beranggapan kaum milenial memang cenderung tertarik dengan buku. Sekalipun latar belakangnya beragam.

"Banyak yang mengambil foto untuk berfoto atau kepentingan media sosial, tetapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali," kata laki-laki yang juga seorang pegiat dunia penerbitan indie di Yogyakarta ini.

Ia  tidak mempermasalahkan kaum milenial yang sebagian memiliki kecenderungan menyukai buku karena tren. Irwan mencontohkan film Bumi Manusia yang diputar di bioskop membuat banyak anak muda, bahkan sampai mereka yang masih duduk di bangku SMA mencari novel karya Pramoedya itu.

Masyarakat diminta objektif membandingkan dengan generasi sebelumnya yang kebanyakan mengenal buku karya Pramoedya ketika sudah duduk di bangku kuliah.

"Saya melihat itu hal yang positif daripada mengikuti tren yang alay," ucap Irwan.

 

2 of 3

2 Jenis Buku yang Harus Dibaca Kaum Milenial

MocoSik 2019
MocoSik 2019 digelar di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta pada 23 sampai 25 Agustus 2019 dengan menggandeng 120 penerbit buku (Liputan6.com/ Switzy Sabandar)

Ia menuturkan saat ini kaum milenial cenderung tertarik dengan buku novel bergenre sastra, buku puisi, atau novel remaja. Mereka juga cenderung memilih buku yang berkolaborasi dengan seni rupa atau memiliki ilustrasi dan sampul yang menarik.

"Seperti buku-bukunya Agus Noor atau Joko Pinurbo," tuturnya.

Meskipun demikian, pada era yang berarus informasi deras seperti sekarang, setidaknya ada dua jenis buku yang harus dibaca oleh kaum milenial.

Pertama, buku yang memperkaya pandangan atau membuka perspektif baru. Misal, buku karya Kalis Mardiasih yang berjudul Muslimah yang Diperdebatkan. Buku ini menulis tentang bagaimana perempuan muslim diposisikan dalam konstruksi masyarakat.

Kedua, buku yang bercerita tentang perjalanan dan pertemuan dengan banyak orang. Contoh, buku karya Windy Ariestanty yang berjudul Life Traveler.

"Buku-buku semacam itu akan membuka perspektif kita tentang keberagaman, membaca tulisan seperti itu akan mencegah kita terprovokasi hal yang merusak kehidupan bermasyarakat," ujar Irwan.

 

3 of 3

Jutaan Buku Siap Diborong

MocoSik2019
MocoSik 2019 digelar di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta pada 23 sampai 25 Agustus 2019 dengan menggandeng 120 penerbit buku (Liputan6.com/ Switzy Sabandar)

MocoSik 2019 melibatkan 120 penerbit dengan jutaan buku yang siap dipilih dan dibeli oleh pengunjung. Perhelatan yang berlangsung selama tiga hari, dari Jumat sampai Minggu (23-25/8/2019) ini juga menyediakan bazar buku murah. Stan yang terletak di sisi paling selatan ini menawarkan beragam jenis buku dengan harga Rp 10.000.

Selain konser musik dengan menampilkan penyanyi idola kaum milenial, seperti Tulus, Yura Yunita, Dialog Dini Hari, Sujiwo Tejo, dan sebagainya, MocoSik 2019 juga menghadirkan talkshow yang tidak kalah menarik.

"Ada talkshow membuat puisi cinta bersama dengan Agus Noor dan Joko Pinurbo," ucap Anas Syahrul Alimi, Founder MocoSik Festival.

Dalam MocoSik 2019 juga akan ditampilkan pembacaan karya Pramoedya Ananta Toer di Panggung Ontosoroh yang akan dihadiri oleh keluarga sastrawan legendaris Indonesia itu.

Anas mengungkapkan acara bertema Buku, Musik, Kamu ini sebagai penanda sekaligus pengingat kaum milenial bahwa semua kemajuan dan kemudahan teknologi yang mereka rasakan saat ini berawal dari buku. Kemunculan literasi menjadi simbol majunya sebuah peradaban.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓