Pagi di Gunung Bromo Tambah Menawan dengan Atraksi Balon Udara

Oleh Dian Kurniawan pada 20 Agu 2019, 06:00 WIB
Diperbarui 21 Agu 2019, 20:13 WIB
Balon Udara Gunung Bromo

Liputan6.com, Ponorogo - Sejak tanggal 10-25 Agustus para wisatawan yang berkunjung ke Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, disuguhkan dua buah balon udara dengan ukuran besar.

Balon udara itu menjadi atraksi wisata baru di Gunung Bromo, yang mengajak wisatawan melihat keindahan pemandangan alam gunung yang terkenal dengan pemandangan matahari terbitnya yang menawan.

Camat Sukapura, Bambang Heriwahyudi mengatakan, balon udara yang ada di wisata gunung Bromo memang sengaja di sediakan untuk para wisatawan yang datang.

"Namun saat ini masih kita lakukan uji coba selama 10 hari. Jika nanti cukup antusias minat wisatawan maka akan ada penambahan waktu yang lebih lama lagi," katanya kepada Liputan6.com, Minggu (18/8/2019).

Sejak lima hari kemarin balon udara yang ada di Bromo sudah mulai banyak diminati kalangan wisatawan. Memang kata Bambang Heriwahyudi, tarif untuk bisa menikmati keindahan Gunung Bromo dari atas udara menggunakan balon udara dalam jangka waktu 10 menit sebenarnya Rp615 ribu per orang.

"Jadi wisatawan akan melihat pemandangan Bromo dari udara setinggi 50 meter dari Caldera lautan pasir dengan kapasitas muat maksimal 3 orang," ungkapnya.

Bambang mengatakan, meski demikian pihaknya memastikan atraksi wisata baru balon udara tidak mengganggu atraksi wisata yang sudah ada sebelumnya, seperti mobil jeep dan kuda.

"Mereka tidak akan tersaingi usahanya dengan adanya balon udara ini," katanya.

 

2 of 3

Matahari Terbit Terbaik

Balon Udara Gunung Bromo
Foto: Dian Kurniawan/ Liputan6.com.

Gunung Bromo sendiri salah satu ikon pariwisata di Jawa Timur. Sunrise Bromo telah dikukuhkan sebagai pemandangan matahari terbit terbaik yang ada di Indonesia. Tak heran jika kunjungan wisatawan makin meningkat dari tahun ke tahun.

Gunung Bromo yang secara administrasi berada di empat kabupaten, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Jauh sebelum Majapahit berdiri dan agama Hindu masuk ke Indonesia, kawasan yang kini masuk dalam pengelolaan Taman Nasional Gunung Bromo, Tengger, Semeru ini telah lama ditempati masyarakat suku Tengger.

Yadnya Kasada menjadi ritual masyarakat suku Tengger yang selalu digelar tiap tahun. Dalam ritual tersebut, masyarakat suku Tengger mempersembahkan sesajian berupa binatang ternak dan beraneka makanan untuk para Dewa yang mendiami gunung.

Di kawasan itu bermukim masyarakat suku Tengger terdapat desa yang bernama Argosari. Desa yang masuk dalam wilayah kabupaten Lumajang ini mempunyai sisi menarik yang belum banyak terekspose. Sisi tersebut dikenal dengan nama Puncak B29, diambil dari nama patok taman nasional.

Bagaikan negeri di atas awan, Puncak B29 menyuguhkan pemandangan alam yang luar biasa indah. Hamparan awan yang menutupi puncak-puncak gunung, keindahan pemandangan matahari terbit, dan kearifan masyarakat suku Tengger menjadikan Bromo layak menjadi salah satu tujuan wisata alam unggulan di Indonesia.  

3 of 3

Simak juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓