Bajakah Sudah Jadi Obat Orang Dayak Sejak Zaman Nenek Moyang

Oleh Liputan6.com pada 19 Agu 2019, 13:00 WIB
Diperbarui 19 Agu 2019, 13:00 WIB
Kayu Bajakah yang diklaim mampu menyembuhkan kanker
Perbesar
Kayu Bajakah yang diklaim mampu menyembuhkan kanker (Tangkapan Layar Liputan6.com)

Liputan6.com, Tamiang Layang - Usai diberitakan bisa menjadi obat kanker, kayu bajakah kini ramai dicari warga. Markus, warga Tamiang Layang (43) mengatakan, tanaman bajakah tumbuh di beberapa wilayah hutan gambut atau rawa, yang banyak dijumpai di Kabupaten Barito Timur, Kalteng. 

"Ada beraneka jenis bajakah atau wakai, di antaranya simawuket, kararaya, katatau tampirik, tuba dan kalawit. Semuanya ada di wilayah hutan di Barito Timur. Yang saat ini viral jenis kalawit," kata Markus dikutip Antara, Senin (19/8/2019).

Akar ada dua jenis, akar yang menancap ke dalam tanah seperti pasak bumi, sintuk madu, saluang belum laki dan perempuan, dan penawar seribu, serta ada pula akar yang menjalar di permukaan tanah, merambat atau naik ke atas pepohonan, seperti kalawit.

Akar kalawit memiliki sifat menjalar dan merambat ke atas pepohonan seperti layaknya tali tamban bergelantungan. Aneka akar-akaran sudah menjadi obat khas suku dayak dari zaman nenek moyang.

"Air akar tersebut sudah menjadi konsumsi kami ketika berburu di pegunungan di hutan. Karena susah menemukan air maka kami minum air akar tersebut dengan memotongnya," katanya.

Markus mengingatkan, harus berhati-hati saat mengambil bajakah atau wakai. Tidak boleh langsung ditebang dan diminum karena jika ternyata itu adalah wakai tuba maka mengonsumsi airnya akan membuat sakit bahkan bisa meninggal dunia. Wakai tuba digunakan untuk menangkap ikan, dimana ikan akan pening dan timbul ke permukaan karena hilang kesadaran.

Warga Kecamatan Dusun Tengah, Bastanil menjadikan bajakah sebagai berkah karena banyak dipesan pembeli. Dia menjualnya dengan harga Rp250 ribu per batang dengan ukuran satu meter dengan diameter lima centimeter.

"Ada yang memesan secara online. Mereka minta dikirim ke daerah di Sumatera, Jawa dan wilayah lokal Kalimantan hingga Sulawesi," katanya.

Satu batang dengan ukuran satu meter yang dijual Bastanil memiliki berat bervariasi dari dua sampai empat kilogram, tergantung besar diameter. Pesanan pun bervariasi mulai hitungan gram, ons dan kilogram sesuai kemampuan pembeli.

Kepala Dinas Kesehatan Barito Timur dr Simon Biring MPG mengatakan, bajakah memiliki beberapa zat antioksi dan tinggi yang baik jika dikonsumsi untuk tubuh.

Simon membantah jika bajakah disamakan memiliki efek seperti kemoterapi yang akan berdampak pada kerontokan rambut dan lainnya. Menurutnya, zat yang terkandung sangat jauh berbeda dengan kemoterapi.

"Jika dikonsumsi sebagai tindakan preventif atau pencegahan untuk terhindar dari infeksi kanker atau pengobatan maka sangat baik. Saya juga mengonsumsinya di rumah," kata Simon Biring.

Simon mengakui, bajakah sangat mudah ditemukan di beberapa hutan di Kabupaten Barito Timur. Mantan kepala Dinas Kesehatan Katingan itu tidak setuju jika ada oknum yang memanfaatkannya menjual Bajakah dengan harga fantastis dari Rp1 juta hingga Rp2 juta per kilogram.

2 dari 2 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓