Upacara Benar-Benar Merdeka dengan Busana dan Bahasa Jawa

Oleh Wisnu Wardhana pada 16 Agu 2019, 03:00 WIB
upacara bantul

Liputan6.com, Bantul - Pagi, pukul 9.30 WIB, tanggal 17 Agustus 2018, warga dusun Gokerten Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Bantul, DIY, berkumpul di tanah lapang di salah satu sudut dusun. Sebagian besar warga mengenakan busana Jawa, sebagian lainnya mengenakan baju batik dan sarung. Bukan upacara pernikahan ataupun upacara tradisi yang hendak mereka adakan, namun upacara bendera memperingati proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ke-73.

Uniknya, selain mengenakan baju tradisional, upacara bendera yang dilakukan warga 4 RT di pedukuhan Gokerten ini seluruhnya berpengantar Bahasa Jawa halus. Bahkan hingga ke aba-aba dalam upacara tersebut.

"Siyaga tandya!" teriak seorang pemuda.

Itul padanan aba-aba 'siap grak' dalam Bahasa Jawa. Beberapa kali terdengan cekikikan kecil maupun gelak tawa dari peserta maupun penonton, terutama saat diucapkan beberapa kata yang memang sudah jarang sekali digunakan.

Meski demikian upacara tetap berlangsung dengan khidmat. Kesungguhan warga menggelar upacara berbahasa Jawa ini terlihat ketika pengibaran bendera yang dilakukan oleh para 'satriya lan kenya’ (pemuda-pemudi). Mereka melakukan seperti pengibar bendera pada upacara-upacara kenegaraan. Aba-aba pasukan pengibar pun tetap menggunakan Bahasa Jawa, seperti 'lumaksana, gya' yang artinya kurang lebih 'maju jalan'. Huruf 'a' dibaca dengan lafal 'o' seperti pada kata 'kodok'.

Lurah Desa Srigading Wahyu Widodo, menuturkan, bahwa tiap pedukuhan selalu berusaha memperingati kemerdekaan RI dengan cara masing-masing. Sehingga setiap tahun, peringatan kemerdekaan RI selalu berlangsung meriah.

"Upacara bendera ini unik dan mengandung unsur budaya, sehingga desa Srigading yang memang telah ditetapkan menjadi Desa Budaya, bisa memeriahkannya dengan aneka acara sepanjang Bulan Agustus," ungkap Wahyu.

Simak video pilihan berikut:

 

2 of 2

Pencarian

upacara bantul
Upacara Kemerdekaan di dusun Gokerten Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Bantul, DIY memiliki roh berbeda. (foto: Liputan6.com/dok dsn Gokerten/wisnu wardhana)

Hari, salah satu pemuda setempat, mengatakan bahwa pelaksanaan upacara ini bukan tanpa kesulitan. Warga awalnya mencari urutan upacara dan aba-aba untuk ditiru, kemudian seluruh petugas menghafal sebelum benar-benar dilakukan prakteknya.

"Dari pencarian itu, malah kami mendapat banyak pengetahuan mengenai Bahasa Jawa lebih detail. Termasuk adanya aba-aba bahasa Belanda yang diserap oleh aba-aba Bahasa Jawa," kata Hari lagi.

Dusun Gokerten juga sebetulnya memiliki beberapa abdi dalem Keraton Yogyakarta yang bisa dimintai pendapatnya mengenai pelaksanaan upacara, sehingga semakin yakinlah warga saat itu untuk menggelar peringatan hari kemerdekaan RI berbahasa Jawa.

"Tak banyak kesulitan bagi warga untuk menggelar upacara berbahasa Jawa, Karena di Srigading ini setiap tahun menggelar peristiwa budaya Labuhan Langit Bumi Segoro yang juga berbahasa pengantar Jawa," kata Wahyu Widodo.

Upacara Labuhan Langit Bumi Segoro memang telah masuk sebagai agenda ritual adat tahunan di Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, apalagi memang beberapa tahun terakhir, Srigading telah ditetapkan Pemkab Bantul sebagai Desa Budaya. Upacara Labuhan sendiri dimaksudkan sebagai ungkapan terima kasih kepada alam atas kurnianya untuk Petani dan Nelayan.

"Di samping itu, warga sadar betul bahwa budaya dan wisata sangat erat terkait, sehingga mereka telah menata diri sebagai warga desa destinasi wisata," tambah Wahyu.

Dukungan warga tersebut terlihat, dengan keterlibatan mereka sebagai peserta, keseriusan dan kekhidmatan upacara, serta upaya berlatih demi sebuah upacara.

“Bahkan warga sepakat menjadikannya agenda tahunan”, kata Hari bangga. Sudah beberapa hari ini memang warga berlatih untuk melaksanakan kembali upacara bendera berbahasa Jawa ini.

Dari Desa di pesisir selatan Pulau Jawa yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, balutan tradisi ternyata tak meluruhkan sedikitpun kecintaan warganya kepada Republik Indonesia, bahkan menjadikan sebuah kesadaran bahwa bangsa ini adalah bangsa yang memang memiliki kekayaan budaya yang Patut dibanggakan.

Lanjutkan Membaca ↓