Membaca Geliat Gunung Slamet dan Pergerakan Lempeng Selatan Jawa

Oleh Muhamad Ridlo pada 12 Agu 2019, 08:00 WIB
Diperbarui 14 Agu 2019, 00:13 WIB
Kawah Gunung Slamet, Jumat, 9 Agustus 2019, pukul 12.30 WIB. (Foto: Liputan6.com/Perhutani/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Purwokerto - Dalam sejarah peradaban manusia di Jawa, tak sekalipun letusan Gunung Slamet membahayakan penduduk yang tinggal di kaki-kakinya. Slamet, sebagaimana namanya, adalah doa dan harapan agar gunung ini selalu memberi manfaat.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BMKG) menaikkan status Gunung Slamet dari Normal atau Level I menjadi Waspada alias Level II, Jumat, 9 Agustus 2019, pukul 09.00 WIB. Ini setelah sejak Juni lalu terjadi peningkatan aktivitas, baik secara visual maupun instrumental.

Dalam sehari, gunung terbesar di Pulau Jawa menggetarkan bumi dengan gempa tremornya yang terus menerus. Gempa embusan tercatat lebih dari 1.000 kali per hari.

Letusan Gunung Slamet adalah hal yang amat menakutkan. Setidaknya, bagi masyarakat Jawa kuno yang mempercayai bahwa jika gunung yang semula bernama Gunung Agung ini meletus, maka pulau Jawa akan terbelah menjadi dua.

Di zaman modern, ramalan itu hanya dianggap mitos. Tetapi, tidak bagi masyarakat di sekitar Gunung Slamet. Sebagian mereka resah dan panik dengan status Waspada Slamet.

Mereka khawatir, Gunung Slamet meletus dan memuntahkan murkanya. Terlebih, gunung ini merupakan batas lima kabupaten di Jawa Tengah, sekaligus.

Namun, bagi geolog, meningkatnya aktivitas Gunung Slamet ini lumrah belaka. Ahli Vulkanologi, Endapan Mineral, dan Geokimia Universits Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Fadlin menilai aktivitas Gunung Slamet erat kaitannya dengan aktifnya lempeng di selatan Pulau Jawa.

Pergerakan lempeng akan direspon dengan meningkatnya aktivitas gunung di sisi utara batas lempeng. Menurut dia peningkatan aktivitas Gunung Slamet itu adalah normal dan wajar.

2 of 3

Karakter Letusan Gunung Slamet

Ahli Vulkanologi, Endapan Mineral, dan Geokimia Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Fadlin menilai aktivitas Gunung Slamet erat kaitannya dengan aktifnya lempeng di selatan Pulau Jawa. (Foto: Liputan6.com/Unsoed/Muhamad Ridlo)
Ahli Vulkanologi, Endapan Mineral, dan Geokimia Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Fadlin menilai aktivitas Gunung Slamet erat kaitannya dengan aktifnya lempeng di selatan Pulau Jawa. (Foto: Liputan6.com/Unsoed/Muhamad Ridlo)

"Justru sebaliknya jika tidak ada respon dari gunung api aktif di utara lempeng, justru patut dipertanyakan," ucap Fadlin.

Meski normal dan lumrah, pertanyaan yang muncul kemudian adalah seberapa mengkhawatirkan situasi tersebut atas dinaikkannya status Gunung Slamet ini yang semula normal menjadi waspada?

Menurut Fadlin, keberadaan media sosial mengenai kebencanaan terkadang ditanggapi secara berlebihan. Di antara informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan, acap kali terselip kabar bohong alias hoaks.

"Kebencanaan umumnya akan di respon berlebihan oleh masyarakat, sehingga menciptakan kekhawatiran yang berlebihan pula pada masyarakat terutama masyarakat sekitar Gunung Api Slamet," ujarnya.

Berdasarkan data-data geologi Gunung Slamet, hasil studi Teknik Geologi Unsoed, dan juga dari hasil penelitian para ahli geologi gunung api (vulkanologi) Indonesia lainnya menunjukkan bahwa komposisi geokimia magma Gunung Slamet terefleksi pada produknya berupa batuan Gunung masih bersifat "basaltic".

"Artinya kalaupun terjadi erupsi pada Gunung Slamet tidak akan begitu berbahaya atau relatif aman," kata Fadlin, yang juga anggota Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia.

Letusan atau erupsi Gunung Slamet tidak akan begitu berbahaya atau relatif aman. Karena karakter letusan yang akan dihasilkan maksimal di level "strombolian".

"Seperti percikan kembang api," dia mengungkapkan.

3 of 3

Potensi Wisata Letusan Gunung Slamet

Penampakan Gunung Slamet dari pesisir selatan Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Penampakan Gunung Slamet dari pesisir selatan Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Menurut dia, letusan tipe ini jangkauan radius berbahaya adalah satu kilometer, alias cukup pendek. Di luar itu adalah zona aman. Bahkan, secara ekstrem, momentum tersebut justru bisa dijadikan wisata.

"Untuk berwisata atau geowisata Gunung, tentunya pada radius aman tadi," jelas Sekjen Kelompok Studi Geologi Jawa Tengah (KSGJT) ini.

Terkait mitigasi bencana letusan, ia menyarankan agar pemerintah setempat untuk lebih mengenali karakter bencana geologi yang ada di wilayahnya masing-masing. Caranya dengan menginventarisasi karakter dan potensi bencana tersebut. Sehingga akan dihasilkan peta zonasi rawan bencana yang lebih baik dan akurat.

Ia juga menyarankan agar pemerintah menggandeng institusi-institusi terkait, seperti Teknik Geologi Unsoed, sehingga situasi yang kini tengah dihadapi bisa ditanggapi dengan efektif dan efisien dan tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

"Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa data-data tersebut dapat dijadikan acuan atau rujukan dalam membuat suatu regulasi-regulasi dalam pengembangan suatu daerah," dia menerangkan.

Dia juga menilai bahwa peningkatan status Gunung Slamet dari normal menjadi waspada oleh PVMBG adalah wajar. Hal itu sudah berdasarkan data yang terekam pada aktivitas Gunung Slamet dalam periode pengamatan sebelumnya.

"Sudah sesuai dengan SOP standar dari Direktorat Vulkanologi Indonesia tentang bencana letusan gunung berapi," dia menjelaskan.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓