Susunan Batu Unik Negeri Seribu Curug Menyambut Cerahnya Pagi

Oleh Muhamad Ridlo pada 07 Agu 2019, 06:00 WIB
Diperbarui 08 Agu 2019, 15:13 WIB
Kompetisi menata atau menyusun batu (Rock balancing) dalam Tanalum Culture Festival, 4 Agustus 2019. (Foto: Liputan6.com/Dinkominfo PBG/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Purbalingga - Matahari baru saja menguapkan embun-embun di bebatuan pinggir Sungai Kalikarang, Tanalum, Purbalingga, Jawa Tengah. Namun, riuh suara bocah mulai terdengar sahut-menyahut.

Sepanjang sungai, seratusan lebih anak dan remaja tumpah ruah mengumpulkan batu berbagai ukuran. Pagi itu, mereka berkompetisi menata atau menyusun batu atau rock balancing.

Rock balancing merupakan salah satu agenda Tanalum Culture Festival 2019, yang digelar selama dua hari, Sabtu dan Minggu, 3-4 Agustus 2019. Kompetisi menata batu diikuti oleh anak-anak usia 15 tahun ke bawah.

Tatkala mentari naik sepenggalah, mendadak gaduh berubah sunyi senyap. Hanya terdengar ucapan lirih dari bocah-bocah yang bergerombol. Kini, mereka sudah berkonsentrasi penuh menyusun tumpukan batu dalam kompetisi rock balancing ini.

Ketua Pokdarwis Desa Tanalum, M Fatah mengatakan yang dinilai dari kompetisi tersebut adalah keunikan batu yang telah tertata dan tingkat kesulitan untuk menata batu. Mereka dibatasi waktu.

"Ini adalah kompetisi dengan sistem penilaian meliputi keunikan, tingkat kesulitan dan lain-lain," kata Fatah, Minggu, 4 Agustus 2019.

Rupanya, seni menyusun batu yang belakangan lebih populer disebut sebagai rock balancing bukan hal baru di Desa Tanalum. Sejarah panjang Sungai Karang yang banyak dimanfaatkan warga membuat banyak anak yang beraktivitas di pinggiran sungai.

Sebagian besar, tentu saja mandi di kali alias ciblon. Namun, banyak pula yang bereksperimen dengan barang apa saja yang ditemukan di pinggiran sungai. Salah satunya menata atau menyusun batu.

 

2 of 3

Rock Balancing Ala Warga Tanalum

Kompetisi menata atau menyusun batu (Rock balancing) dalam Tanalum Culture Festival, 4 Agustus 2019. (Foto: Liputan6.com/Dinkominfo PBG/Muhamad Ridlo)
Kompetisi menata atau menyusun batu (Rock balancing) dalam Tanalum Culture Festival, 4 Agustus 2019. (Foto: Liputan6.com/Dinkominfo PBG/Muhamad Ridlo)

Sungai Kalikarang sejak dulu memang dimanfaatkan untuk mencuci, mandi, bermain bahkan mencari nafkah. Lantas, ada yang kemudian menata batu-batu sungai hingga banyak bertebaran di area sungai.

"Dan itu kelihatan indah seperti sebuah karya seni, melihat itu kami jadi punya ide untuk dibuatkan suatu event dan kompetisi," ujarnya.

Batu yang tertata dengan berbagai bentuk itu kerap memantik wisatawan tertarik untuk turut menata batu. Mereka rela berlama-lama mencari dan menata batu untuk menciptakan sebuah karya seni.

Aliran sungai Sungai Kalikarang tak terpengaruh oleh aktivitas menata batu. Sebab, penataan batu bisa menyesuaikan jalur aliran sungai.

Saat musim kemarau seperti ini, aktivitas menata batu bahkan bisa dilakukan di mana saja. Sebab, area yang tersedia dan bahan baku tersebar luas di area sungai.

"Kalau pas musim kemarau seperti sekarang areanya bisa luas banget jadi anak-anak yang menata batu itu bisa leluasa untuk memilih tempatnya," dia menerangkan.

Dengan tahun ini, kompetisi rock balancing sudah dilakukan dua kali, pertama pada 2018. Menilik antusiasme peserta, panitia Tanalum Culture Festival berencana akan menjadikan rock balancing sebagai salah satu kegiatan andalan di acara tahunan Tanalum Culture Festival.

"Nanti rock balancing ini bisa diikuti tidak hanya warga desa setempat tetapi juga wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara," dia berharap.

3 of 3

Agenda Tanalum Culture Festival 2019

Kompetisi menata atau menyusun batu (Rock balancing) dalam Tanalum Culture Festival, 4 Agustus 2019. (Foto: Liputan6.com/Dinkominfo PBG/Muhamad Ridlo)
Kompetisi menata atau menyusun batu (Rock balancing) dalam Tanalum Culture Festival, 4 Agustus 2019. (Foto: Liputan6.com/Dinkominfo PBG/Muhamad Ridlo)

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Purbalingga, Kustinah mengatakan Tanalum Culture Festival 2019 bertajuk "Cerdas Berkarya Luhur Berbudaya". Helatan tahunan ini diisi beragam pentas seni tradisional seperti tari nggoser, tandak lesung, dan kentongan.

Kemudian, ada pula lomba menyusun keseimbangan batu, pameran produk UKM, pameran kopi lokal serta festival jajanan pasar.

Kustinah mengungkapkan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan dan mempromosikan kekayaan Tanalum yang berjuluk "Negeri Seribu Curug" kepada masyarakat dan wisatawan.

Harapannya, seiring banyaknya wisatawan yang datang berkunjung, terjadi peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan begitu, warga bertambah sejahtera dari sektor pariwisata.

Selain terkenal dengan pesona curugnya, Desa Tanalum juga pernah memperoleh penghargaan sebagai penampil terbaik kedua pada ajang pagelaran festival desa wisata tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2019.

Dia mendorong agar pengelola wisata Desa Tanalum terus berinovasi untuk meningkatkan daya tarik wisata. Dengan begitu, jumlah kunjungan bakal meningkat. "Hal-hal yang unik dan menarik serta tidak ada di objek wisata yang lain, yang perlu kita dorong agar para wisatawan bisa menikmatinya," kata Kustinah.

Camat Rembang, Revon Haprindiat sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh Pokdarwis Desa Tanalum. Tanalum Culture Festival diharapkan dapat menggaungkan nama Desa Tanalum.

“Saya berharap kunjungan wisatawan semakin bertambah bukan hanya turis lokal namun bisa menggaet turis nasional," kata Revon.

Revon juga berpesan agar semua anggota Pokdarwis selalu mengetengahkan sapta pesona, yakni aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah-tamah, dan kenangan. Niscaya, Tanalum beranjak menjadi destinasi wisata yang semakin diminati.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓