Kisah Penggembala Sapi Lulus Seleksi Polisi di NTT

Oleh Ola Keda pada 07 Agu 2019, 04:00 WIB
Penggembala sapi jadi polisi

Liputan6.com, Kupang - Jalan hidup seseorang tak dapat diduga. Upaya dan kerja keras jika dilakukan dengan tekun akan membuahkan hasil yang baik. Inilah yang dirasakan Yonas Ben Baitnanu dan Ilham.

Raut bahagia bercampur haru terpancar dari wajah mereka saat kedunya dinyatakan lulus di antara 172 calon siswa Bintara Polri dalam seleksi penerimaan terpadu anggota Polri panitia daerah (Panda) Polda NTT tahun 2019.

Yonas Ben Baitnanu merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia tidak menyangka bisa terpilih dari ratusan peserta yang mengikuti pengumuman akhir di Hotel Aston, Kamis (1/8/2019).

Sejak kecil, anak pasangan Ferdinand Baitanu dan Elisabeth Baitanu-Toasu ini memang memiliki cita-cita menjadi anggota Polri. Ia terinspirasi dari tetangganya, pasangan suami istri yang juga anggota Polri. Namun, impiannya ia kuburkan karena menyadari tidak memiliki uang, apalagi berasal dari keluarga kurang mampu.

Sejak kecil, Yonas tinggal dengan kerabat ayahnya. Sehari-hari, Yonas yang tinggal di Jalan Sukun, Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang ini menggembalakan sapi peliharaan orangtuanya. Waktu pagi hingga siang dimanfaatkan Yonas untuk sekolah. Siang hari setelah pulang sekolah, ia bertugas menjaga ternak sapi di padang hingga malam hari.

Di sela-sela menjaga sapi, ia pun harus mencari pakan untuk makanan sapi. Walau sehari-hari beternak sapi, tetapi Yonas mampu menyelesaikan pendidikan jenjang sekolah dasar hingga SMA tepat waktu.

Tamat SMA pada tahun 2017, ia menguburkan impiannya menjadi anggota Polri karena ketiadaan biaya. Seperti biasa, ia menyibukkan diri beternak dan menggembalakan sapi peliharaannya. Secara kebetulan, ia bertemu anggota polisi yang juga tetangga rumahnya. Ia disarankan mendaftarkan diri sebagai calon siswa Bintara Polri ke panitia penerimaan Polri.

"Dari anggota polisi saya dapat pesan supaya belajar, berlatih, dan berdoa," ujarnya. Pada tahun 2018, Yonas pun memberanikan diri untuk mendaftar penerimaan Polri di Polres Kupang Kota, tetapi ia dinyatakan gugur karena tinggi badan kurang.

Kegagalannya menjadi motivasi. Sambil menjaga ternak dan mencari pakan ternak, Yonas pun membuat tiang restok untuk menambah tinggi badan. Selama satu tahun, ia rajin berlatih renang, lari, dan restok. Saat mendaftar, pada bulan Februari 2019 di Polres Kupang Kota, ia lulus seleksi administrasi.

Yonas pun semakin bersemangat. Ia juga mencari sejumlah buku untuk dipelajari menghadapi ujian psikologi dan ujian akademik. Aktivitas belajar dilakukannya di sela-sela ia menjaga ternak sapi. Sementara pada petang hari ia berlatih olahraga fisik. Yonas mampu melewati setiap tahapan seleksi penerimaan Polri.

 

 

2 of 2

Usaha dan Kerja Keras

HUT Ke-73 Bhayangkara
Sejumlah personel polisi berbaris saat berlangsungnya upacara peringatan HUT Ke-73 Bhayangkara di kawasan Monas, Jakarta, Rabu (10/7/2019). Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi inspektur upacara yang dihadiri sebanyak 4.000 personel Polri dan 7 resimen TNI tersebut. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Namun, kekhawatiran sempat muncul saat mengikuti seleksi kesehatan tahap II. "Awalnya saya khawatir karena pemeriksaan kesehatan tahap II meliputi pemeriksaan organ dalam yang kita tidak ketahui. Tapi saya tetap yakin," ujarnya.

Segala jerih upayanya tidak sia-sia. Ia pun lulus tahapan seleksi kesehatan II hingga mengikuti pengumuman akhir dan dinyatakan lulus mengikuti pendidikan di SPN Polda NTT. Ia berterima kasih atas dukungan dan motivasi dari orangtua, tetangga dan kerabat yang secara total mendukungnya.

Ia berharap tetap diberikan kekuatan dan kesehatan agar bisa menjalani tujuh bulan masa pendidikan di SPN Polda NTT.

"Mimpi saya ingin membanggakan orangtua, bangsa, dan negara serta daerah saya," ujarnya soal motivasi menjadi anggota Polri. 

Ia semakin yakin menjadi anggota Polri tidak perlu menyiapkan uang tetapi cukup bermodalkan belajar dan usaha keras serta melatih diri secara baik.

"Saya membuktikan kalau tanpa uang yang banyak pun bisa menjadi anggota Polri. Saya seorang gembala sapi, tetapi saya bisa lulus. Ini berkah yang luar biasa. Selama ini saya pikir masuk polisi harus ada uang banyak, tetapi saya bisa buktikan kalau tanpa uang pun kita bisa menjadi anggota polisi asalkan ada usaha dan kerja keras," tegas Yonas.

Lanjutkan Membaca ↓