Cerita Tukang Cukur di Bandung, Baru Setengah Jadi Listrik Mati

Oleh Huyogo Simbolon pada 05 Agu 2019, 19:00 WIB
Diperbarui 07 Agu 2019, 17:13 WIB
Pangkas rambut

Liputan6.com, Bandung - Akhir pekan menjadi waktu yang tepat bagi para tukang cukur untuk memanen rezeki. Namun akhir pekan kemarin, 4 Agustuis 2019, menjadi hari yang sebaliknya. Listrik yang padam secara tiba-tiba dan berlangsung lebih dari 6 jam, membuat para tukang cukur se-bandung raya gigit jari.

Saat listrik padam, alat cukur yang sebagian besar menggunakan tenaga listrik pun tak bisa digunakan. Cukuran yang baru setengah jadi pun terpaksa ditinggalkan. Beruntung pelanggan bisa mengerti apa yang sedang terjadi. 

Salah satu yang mengalami itu adalah usaha pangkas rambut berlabel Brocode. Tempat pangkas rambut ini memiliki 4 cabang di kawasan Bandung.

Berbeda dari tempat cukur tradisional, Brocode menggunakan 90 persen penggunaan listrik untuk operasional perusahaan mulai dari alat cukur, lampu penerangan hingga ruangan sejuk ber-AC.

Yeremia, pemilik pangkas rambut Brocode kepada Liputan6.com mengaku, pihaknya terpaksa menutup sementara saat terjadinya pemadaman listrik secara massal hari Minggu kemarin.

"Di Bandung dan sekitarnya ini kita ada empat. Di Jalan Dago dan Cihapit. Dua lagi di Jatinangor dan Cimahi. Semuanya kan dari jam 12 sudah mati. Cimahi duluan jam 4 sudah nyala, Dago jam 6 dan terakhir Jatinangor baru nyala itu malem banget," kata Yeremia ditemui di salah satu cabang Brocode di Jalan Pager Gunung, Kota Bandung, Senin (5/8/2019).

Akibat pemadaman itu, bisnis pangkas rambut miliknya mengalami kerugian. Meski dia menyadari mati lampu adalah bagian dari risiko usaha.

"Di sisi lain, sistem perusahaan pakai presentasi yaitu hitungan cukur per kepala. Ada yang 35-40 persen buat mereka, berbeda di setiap cabang. Jadi kerugian dirasakan buat perusahaan dan sdm (karyawan)," ujarnya.

Yeremia memang tidak menaksir angka pasti kerugian. Namun jika rata-rata penghasilan harian perusahaanya bisa mencapai Rp2,5 juta untuk satu cabang.

"Angka totalnya di kisaran Rp10 juta untuk empat cabang. Apalagi weekend kan orang banyak cukur," kata Yeremia yang biasa membuka tempat pangkas rambutnya mulai dari pukul 10 pagi hingga 9 malam itu.

Yeremia menyesalkan pemadaman massal tidak disertai pemberitahuan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sehingga pihaknya tidak sempat mempersiapkan antisipasi di kala lampu padam.

"Biasanya kan kalau pemadaman suka ada pemberitahuan. Apalagi hari Minggu kan pelanggan lagi banyak-banyaknya. Saya bilang ke mereka (pelanggan) atas insiden mati lampu dan bisa memaklumi," ujarnya.

Yeremia mengaku mendapat informasi soal listrik padam dari pemberitaan di media massa. Sehingga ia bisa memaklumi peristiwa matinya listrik.

Namun demikian, selama proses pemadaman berlangsung, sejumlah cabang Brocode pun terpaksa ditutup sementara. Setelah listrik menyala secara bertahap, tempat pangkas rambut pun dibuka kembali.

"Pilihannya tutup karena kita menggunakan mesin bukan konvensional. Operasional kita 80 persennya memakai listrik," kata Yeremia.

 

Simak video pilihan di bawah ini:

Live Streaming

Powered by