Jadi Destinasi Pariwisata Unggulan, Labuan Bajo Darurat Sampah

Oleh Ola Keda pada 03 Agu 2019, 15:00 WIB
Diperbarui 03 Agu 2019, 15:00 WIB
Labuan Bajo darurat sampah
Perbesar
Labuan Bajo darurat sampah (Liputan6.com/Ola Keda)

Liputan6.com, Kupang - Sebagai daerah destinasi wisata kelas premium, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berbenah. Mulai dari pembangunan infrastruktur yang terus dikebut hingga persoalan sampah.

Wakil Bupati Manggarai Barat, Maria Geong mengatakan, Labuan Bajo memproduksi sampah 12,8 ton per hari. Ia meminta seluruh elemen untuk menekan produksi sampah.

"Orang datang ke Labuan Bajo karena keindahan, jadi jangan dikotori. Jika melihat sampah di jalan, harap dipungut. Jangan menunggu pemerintah yang turun tangan," ujar Maria dalam diskusi coffee morning di Tree Top, Selasa (30/7/2019).

"Masih banyak persoalan vital di Labuan Bajo, seperti listrik, masih ada 88 desa yang masih gelap. Jika pemerintah terus urus persoalan sampah, kapan urus masalah lain yang lebih vital," tambah wakil bupati dua periode itu.

Fokus utama permasalahan sampah di Labuan Bajo yakni, pantai dan jalan reklamasi. Sampah masih dibuang sembarangan oleh warga dan pelaku usaha yang berdomisili di sekitaran lokasi itu. 

 

"Kita sudah sering melaksanakan aksi kebersihan, menurut saya ini dikarenakan kesadaran masyarakat kita yang kurang. Perlu kerja sama kita semua antara pemerintah dan para pelaku usaha," katanya.

Sementara itu, Camat Komodo, Imran mengaku telah menyiapkan pasukan kuning untuk terus sigap membersihkan sampah yang menumpuk di pinggir jalan. 

Ia juga menyinggung perilaku masyarakat yang hanya bisa memposting di sosial media terkait persoalan sampah. Imran berharap masyarakat bisa langsung membersihkan tanpa harus mengadu ke sosial media.

"Kita sudah diskusikan bersama kapolres, bupati dan wakil bupati, pengadilan dan kejaksaan tentang tindakan dan sanksi kepada warga atau yang buang sampah sembarangan," kata Imran. 

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), luas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Labuan Bajo tidak sepadan dengan sampah yang dihasilkan per harinya. TPA di Labuan Bajo memiliki luas 25×90 meter persegi. Sementara dalam sehari Labuan Bajo menghasilkan sampah sebanyak 12,8 ton.

Kelambanan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menangani persoalan ini membuat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) harus turun tangan. KLHK direncanakan bekerjasama dengan PT Pupuk Indonesia membenahi persoalan tersebut.

 

2 dari 2 halaman

Satgas Masyarakat Peduli Sampah

Labuan Bajo darurat sampah
Perbesar
Labuan Bajo darurat sampah (Liputan6.com/Ola Keda)

Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT), Wayan Dharmawan membenarkan hal ini. Menurut dia, pihaknya sudah berkoordinasi dengan KLHK dan PT Pupuk Indonesia.

Adapun dalam menanggapi program dari KLHK, Kepala TNK Sudiyono menuturkan, pihaknya sudah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Masyarakat peduli Sampah (MPS) untuk menangani sampah setiap hari.

“Nantinya para petugas MPS setiap harinya akan melakukan kerja pengambilan sampah di berbagai titik kawasan TNK dan dikumpulkan ke tempat penampung yang ada di setiap desa untuk diangkut kapal khusus ke Labuan Bajo,” katanya.

 

Lanjutkan Membaca ↓