Mahasiswa Asal Nduga Selipkan 80 Butir Peluru dan Ganja dalam Alat Band

Oleh Katharina Janur pada 31 Jul 2019, 08:00 WIB
peluru ilegal di Papua

Liputan6.com, Jayapura - Polres Jayawijaya menangkap mahasiswa berinisial RJW (24) di Wamena. RJW diduga mengirimkan 80 butir peluru dan 7 paket ganja yang diselipkan dalam paket peralatan band dengan alamat  pengiriman ke Kabupaten Nduga.    

RJW ditangkap usai Satuan Narkotika Polres Jayawijaya menemukan 80 butir peluru dan paketan ganja pada sebuah gudang kargo di Apron II yang terletak di Jalan Gatot Subroto Wamena.

Kapolres Jayawijaya, AKBP Tonny Ananda Swadya menyebutkan 80 butir peluru campuran terdiri dari 32 butir peluru jenis revolver, 14 butir peluru jenis SS1 kaliber 5,56 mm, satu buah magazen jenis SS1/V5 yang berisi amunisi sebanyak 30 butir, satu butir amunisi jenis AK47, dan 3 butir amunisi V2.

"Kami masih terus menyelidiki siapa pengirim barang-barang ini semua. Nantinya, kami akan berkoordinasi dengan TNI untuk mengungkap kasus ini," kata Tonny, Selasa (30/7/2019).

Tonny menambahkan penemuan 80 butir peluru campuran ini berawal dari penggeledahan rutin barang yang akan dikirimkan melalui kargo di Bandara Wamena. Sehari sebelumnya, kepolisian setempat melakukan penggeledahan barang paketan di kargo bandara terbesar di pegunungan tengah Papua dan menemukan paketan ganja.

Satuan Narkotika Polres Jayawijaya kemudian melanjutkan penggeledahan di gudang kargo pada Selasa, 30 Juli 2019, dan menemukan kembali 1 buah kardus yang berisikan 7 paket ganja yang dikemas dalam plastik bening berukuran sedang. Paketan ganja itu ditempatkan pada sebuah karung besar ukuran 5 kilogram.

"Paketan ganja yang ditemukan hari ini, ternyata terselip juga 80 butir peluru campuran dan 1 buah magazen SS1/V5 pada karton yang sama," jelasnya.

Kapolres Jayawijaya yakin paketan ganja dan peluru campuran yang ditemukan di kargo bandara adalah pesanan Egianus Kogoya, pimpinan KKSB di Nduga.

 

2 of 2

Peluru KKSB dari Berbagai Sumber

Ilustrasi peluru (AFP)
Ilustrasi peluru (AFP)

Kodam XVII/Cenderawasih mengklaim peluru yang dikuasai Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) berasal dari berbagai sumber.  Data yang didapat dari Penerangan Kodam Cenderawasih menyebutkan sejumlah amunisi dan senjata api yang saat ini dikuasai KKSB berasal dari rampasan dari tangan aparat keamanan. Lalu, ada juga yang didapat dari hasil penyerangan sejumlah pos TNI/Polri, hingga menyebabkan aparat keamanan terbunuh.

Sumber lainnya, peluru juga diduga didapat dari sisa kerusuhan Ambon dan Poso yang saat ini senjata api dan pelurunya masih belum dikembalikan kepada negara dan ada kemungkinan amunisi dan senjata api itu disusupkan ke Papua.

Kodam Cenderawasih juga menyebutkan garis perbatasan negara yang sangat luas dan garis pantai Papua yang panjang, sangat tidak mungkin dijaga oleh aparat keamanan dalam jangka waktu 24 jam. Jalur ini dimungkinkan menjadi peluang pasokan amunisi dari luar.

Termasuk ditangkapnya warga Polandia yang kedapatan bawa amunisi di Wamena beberapa waktu lalu. Ada dugaan ribuan butir peluru telah lolos diberikan KKSB melalui perantara atau kurirnya.

Kodam Cenderawasih juga menyebutkan ada dugaan keterlibatan tokoh Papua dalam mendukung perjuangan KKSB. Indikatornya adalah saat KKSB melaksanakan serangkaian tindakan kekerasan, pembantaian, penyerangan, pemerkosaan, dan kekerasan lainnya, pemda atau tokoh Papua diam seribu bahasa.

Tapi pada saat negara bertindak dengan mengerahkan aparat keamanan di lokasi yang dikuasai KKSB, maka tokoh Papua ataupun pemda ramai-ramai protes, mengkritik, memaki, memfitnah bahkan meminta TNI/Polri ditarik dari Nduga.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓