Bismillah, Guru Ngaji di Bandung Sulap Sampah Botol Plastik Jadi Perahu

Oleh Huyogo Simbolon pada 25 Jul 2019, 18:00 WIB
Nana Guru Ngaji

Liputan6.com, Bandung Nana Mulyana (42) terbilang sosok yang langka di desanya. Dia guru ngaji keren. Pria yang berpenghasilan dari menjual arang berbahan batok kelapa ini memiliki potensi yang tak biasa. Dia mengolah sampah botol plastik jadi benda yang bernilai.

Ustaz Nana tinggal di Kampung Bojong Malati, RT 03 RW 07, Desa Rancaekek Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Saat ditemui Rabu (24/7/2019), sang guru ngaji menampilkan salah satu perahu berbahan sampah botol plastik.

Ayah beranak empat itu menggunakan lem dan selotip untuk mengikat botol-botol berkapasitas 350 mililiter menjadi perahu berdimensi 2,7 x 1,6 meter. Dia mengerjakan perahu berbahan botol plastik itu selama tiga minggu lamanya.

"Ini sebenarnya perahu kedua. Yang pertama itu desainnya berbeda dari perahu kedua dan lebih kecil," kata Nana saat ditemui di kediamannya, Rabu (24/7/2019).

Untuk perahu kedua, Nana mengumpulkan ribuan botol plastik bekas. Ia mengumpulkan botol plastik dari bank sampah yang dikelola oleh masyarakat di Kecamatan Rancaekek.

"Untuk daya tampung perahu kedua ini lebih banyak dari sebelumnya. Kalau yang pertama dua orang dewasa, yang kedua ini bisa sampai empat orang," katanya.

Ustaz Nana mengaku tidak sendiri mengerjakan perahu berbahan botol plastik bekasnya. Ia bekerja sama dengan pegiat lingkungan yang juga Tagana Kecamatan Rancaekek, Asep Mustofa.

Satu unit perahu Nana dibanderol Rp3 juta. Adapun modal ongkos produksinya bisa mencapai setengah dari harga jual. Saat ini, kata dia, sudah ada enam pesanan perahu yang dipakai untuk wisata di kolam renang, sungai dangkal atau bendungan kecil.

Meski membanderol harga, Nana mengatakan, nilai imaterial perahu dari botol ini lebih tinggi dibanding sekadar nilai penjualan. Sebab, pemanfaatan sampah menjadi perahu yang terbuat dari bekas air botol adalah salah satu solusi menangani persoalan sampah.

"Kalau secara materi itu tidak ada apa-apanya karena tenaga dan waktunya juga cukup besar. Yang penting dari perahu ini adalah masyarakat mau secara kolektif mengumpulkan botol bekas dan membiasakan diri untuk tidak membuang sampah tapi memilah dan mengolahnya jadi bernilai. Ini yang disebut sampah jadi berkah," kata Nana.

Selain itu perahu dari plastik ini ringan dan bisa diangkat oleh dua orang. Berbeda dengan perahu yang terbuat dari fiber atau karet yang cukup berat.

Nana mengaku gagasan membuat perahu dari botol plastik bekas memang baru ia lakukan saat Lebaran lalu. Sebelum membuat perahu, guru ngaji berambut gondrong ini sudah mengelola beberapa bank sampah sejak empat tahun silam.

Karena itu, untuk membuat semua unit pesanan perahu, Nana bekerja sama dengan 10 bank sampah yang telah jadi rekanannya.

"Kita kerja samakan saja, karena memang diakui bahannya kan harus botol yang masih dalam kondisi bagus seperti ada tutupnya, tidak penyok," kata Nana.

 

 

2 of 2

Bersama Santri Membuat Ecobrick

Nana Guru Ngaji
Nana Mulyana (42), guru ngaji di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, sedang mengelem botol-botol bekas untuk dibuat menjadi perahu. (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

Selain mengelola bank sampah, guru ngaji ini juga mengenalkan Ecobrick pada muridnya. Ecobrick merupakan metode pengolahan sampah plastik secara kreatif yang dapat menghasilkan berbagai barang bermanfaat.

Gagasan ini dicetuskan oleh Russel Maier, pemerhati lingkungan asal Kanada. Russel bersama sang istri, Ani Himawati, memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah dan pengenalan metode Ecobrick ke berbagai negara.

Secara sederhana, Ecobrick dapat diartikan sebagai bata ramah lingkungan. Walau teknologi berbasis kolaborasi yang menyediakan solusi limbah padat ini berkembang di perkotaan, Ecobrick juga mulai diterapkan warga di pedesaan atau perkampungan.

Berdasarkan pengamatan di lingkungan rumah sang ustaz tinggal, memang terdapat sampah plastik dari Sungai Cikeruh yang berhulu di Gunung Manglayang. Sampah itu, menurut Yana, datangnya bukan melulu dari kampungnya. Melainkan dari desa lain.

Namun dengan menggunakan botol-botol plastik bekas yang dikumpulkannya dari sungai yang berwarna kehitaman itu, Nana mengubah sampah menjadi perahu.

"Kejadian banjir luapan Sungai Cikeruh sudah tiap tahun terjadi saat musim hujan. Banjir itu membawa lumpur dan sampah plastik. Saya berpikir bagaimana kalau sampah itu dikelola jadi sesuatu yang berguna," katanya.

Selain dari sampah di sungai, botol-botol itu ia kumpulkan dari berbagai acara di kampungnya. Mulai dari hajatan maupun acara seremonial masyarakat.

Sejak dua tahun terakhir, Nana bersama istri dan sejumlah muridnya getol memasukkan tiap potongan sampah plastik ke dalam botol bekas minuman. Dari botol plastik berisi sampah plastik sisa makanan hingga kresek, semua masuk ke dalam.

Ratusan bahkan ribuan botol berisi sampah plastik itu disusun dan digabungkan menggunakan lem hingga membentuk sebuah benda. Hasilnya, ada yang berupa kursi, sofa dan meja.

"Mereka yang mengumpulkan sampah plastik yang dimasukkan ke dalam botol dapat Rp2.000 per kilonya. Jadi, buat ibu-ibu atau bapak-bapak di sini mau mencari dan bahkan sampai berebut mencari sampah," katanya.

Untuk membuat satu kursi, Nana mengaku membutuhkan sekitar 300-500 botol. Satu unit kursi dapat dijual hingga Rp500 ribu. Namun ia kembali menegaskan bahwa nilai dari kegiatan mengolah sampah adalah membangun mental masyarakat.

"Sejak saya bergerak ini sendirian. Kalaupun sekarang banyak yang digerakkan karena adanya Ecobrick, itu tandanya bagus. Saya selalu berprinsip jangan dulu pikirkan uangnya, tapi bagaimana caranya kita mengatasi masalah sampah itu bersama-sama," kata Nana.

Simak video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by