Pengabdian Guru Muda di Pedalaman Mappi Papua

Oleh Katharina Janur pada 19 Jul 2019, 12:00 WIB
Diperbarui 19 Jul 2019, 12:00 WIB
Pengabdian Guru Muda di Pedalaman Mappi

Liputan6.com, Jayapura - Tak sekadar mengajar siswa di SD Inpres Kaibusene, Distrik Haju, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Diana da Costa, guru bantu di sekolah itu pun harus berbagi cara merawat dan membersihkan tubuh kepada anak muridnya.

Misalnya saja, setiap harinya Diana yang merupakan guru bantu di sekolah itu tak pernah lelah mengingatkan siswanya untuk mandi, sikat gigi, hingga cuci tangan sebelum dan sesudah makan.

"Kami harus mengajarkan murid di Kaibusene hidup bersih, agar anak-anak tetap sehat dan cerdas. Dulunya, mereka ke sekolah tak pernah mandi ataupun sikat gigi. Lambat laun, anak-anak paham, bahwa kebersihan juga penting untuk kesehatan mereka," ujar Diana.

Diana, guru muda berusia 23 tahun sudah sejak Februari 2019 mengajar di sekolah itu. Usai lulus dari jurusan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Nusa Cendana 2017, Diana mulai mencari informasi untuk menyalurkan ilmunya.

Ia tak pernah berpikir akan mengajar di Papua. Namun, nasib berkata lain, kebetulan saat itu Pemerintah Kabupaten Mappi bekerjasama dengan gugus tugas Papua Universitas Gajah Mada (UGM) sedang mencari guru penggerak daerah terpencil Kabupaten Mappi yang siap ditugaskan di pedalaman Mappi.

Kesempatan itu pun tak ia sia-siakan. Apalagi rasa penasaran untuk singgah ke pulau Papua pernah tersebit di benaknya. Diana yakin, kemauan yang tulus akan direstui alam dan diberkati Tuhan. Semua yang tak mungkin pasti akan terjadi.

"Mengabdi di pedalaman Papua bukan cita-cita saya, tapi saya mencintai Papua, apalagi dengan disiplin ilmu yang saya miliki, makin tertantang saya ke Papua dan bertugas di pedalaman.  Saya ingin menjadi PNS. Sayangnya, saat ini belum bisa karena masih terikat kontrak hingga Oktober 2020 dan saya patuh akan kontrak itu," jelasnya.

Hari berganti hari, segala keterbatasan membuat Diana dan 3 guru lainnya tetap semangat untuk mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada anak didik.

"Dari 5 guru yang ditugaskan di sekolah itu, hanya kami bertiga yang tak pernah meninggalkan tugas. Sisanya selalu ada di kota. Kami bergantian mengajar 125 orang siswa di sekolah itu," ujarnya.

2 dari 2 halaman

Gaji Selalu Terlambat

siswa di pedalaman Papua
Siswa SD Inpres Kaibusene Mappi. (Liputan6.com/Katharina Janur/Diana Da Costa)

Walaupun tetap setia berada di kampung dan tak meninggalkan tempat tugasnya, Diana dan 3 guru bantu lainnya tak menerima timbal balik yang sepatutnya.

Salah satunya adalah gaji yang seharusnya diterima setiap bulan tak pernah ia dapatkan. Diana bahkan harus menunggu 2-3 bulan berikutnya, barulah gajinya ia terima.

Jika gaji terlambat, otomatis segala kebutuhannya terhambat. Jika hal ini terjadi, masyarakat di kampung rela memberikan segalanya, asalkan para guru tak meninggalkan kampung.

"Tak jarang kami makan 1 bungkus mi instan dibagi 3 orang. Kadang mi goreng juga bisa dijadikan mi rebus, hanya untuk bisa bertahan hidup. Kadang sehari kami makan nasi, kadang makan sagu, semua kita selang-seling yang penting bertahan hidup, hingga menunggu gaji bisa cair," jelas Diana.

Untuk makanan sayur, kadang ia dan teman guru lainnya makan pucuk sagu. Ikan yang biasa didapat juga hanya bisa dibakar, tanpa bisa digoreng, karena tak ada minyak goreng. "Bahkan, dapur rumah kami pun dibuat dengan menggunakan biaya patungan," ujarnya.

Kesulitan Diana dan guru lainnya tak hanya sampai di situ. Letak Kampung Kaibusene, sangatlah jauh dari Keppi, ibu kota Kabupaten Mappi. Sehingga, untuk urusan pekerjaannya yang harus dilakukan di Keppi, ia memilih menitipkan berkas ataupun hal lainnya kepada kepala sekolah atau siapa pun yang akan ke kota.

Bayangkan saja, untuk tembus hingga ke Keppi, harus merogoh kocek hingga Rp5 juta yang ditanggung oleh pribadi masing-masing guru. Untuk menuju ke Keppi dari Kampung Kaibusene ada dua jalur yakni jalur dengan ongkos murah dan jalur dengan ongkos mahal.

Jalur dengan ongkos murah ditempuh dari Keppi, ibu kota Mappi melalui Pelabuhan Keppi ke Pelabuhan Pagai menggunakan speed boat dengan harga sewa Rp800 ribu yang ditempuh dengan waktu 1 jam. Lalu dari Pagai harus berjalan kaki ke Tamaripim 2 jam.

Setibanya di Tamaripim, dilanjutkan naik ketinting, atau perahu kecil dengan ongkos Rp750 ribu dengan jarak tempuh 2 jam ke Distrik Haju. Setibanya di Distrik Haju dilanjutkan naik ketinting lainnya dengan waktu 1 jam 30 menit dengan ongkos sewa Rp300 ribu ke Kaibusene.

Ada juga alternatif lainnya ke Kaibusene dengan jalur darat dan ongkos yang mahal, yakni sewa mobil Hilux Rp3 juta dari Kota Keppi, ibu kota Kabupaten Mappi ke Distrik Asgon, distrik yang berbatasan dengan Distrik Haju. Setibanya di Distrik Asgon sewa speed boat ke Kaibusene Rp1,5 juta.

"Semua biaya jika ingin ke kota, harus dikeluarkan sendiri dari kocek kami, pemerintah Kabupaten Mappi tak menanggung apa pun, hanya diberikan gaji, tanpa insentif. Karena mahalnya ongkos ke kota, kadang kami titipkan laporan kepada kepala sekolah," ujar Diana.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓