Annyeong Haseyo, Salam Pagi dari Kampung Korea Baubau

Oleh Ahmad Akbar Fua pada 17 Jul 2019, 06:00 WIB
Diperbarui 19 Jul 2019, 04:13 WIB
Salah satu pintu masuk Kampung Korea Baubau, dijadikan spot foto oleh pengunjung.(Liputan6.com/Ahmad Akbar)

Liputan6.com, Baubau - Kampung Korea, mendengar namanya, kita langsung membayangkan desa yang dihuni warga berkulit putih dan kemerah-merahan. Tidak demikian, kampung Korea yang ini, berada di Kota Bau-bau.

Wilayah ini, ditinggali penduduk mayoritas berkulit sawo matang. Identitas istimewa orang timur.

Desa ini berlokasi di Kelurahan Bugi, Kecamatan Sorawolio Kota Baubau. Berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Baubau.

Masuk di Kampung Korea, kita akan disuguhi pemandangan pemukiman tradisional. Yang membuat berbeda, hampir seluruh ornamen dan mural di tengah kampung, dibubuhi aksara hangul Korea.

Huruf atau alfabet hangul, biasanya dipakai untuk menulis bahasa Korea. Di kampung ini, mulai dari gapura kampung, mural, nama-nama jalan, hingga sejumlah objek swafoto dihiasi dengan aksara hangul.

Tidak hanya itu, pengunjung akan dibuat seolah merasakan nuansa negeri ginseng itu. Pengelola bahkan sudah menyiapkan hanbok, busana tradisional Korea yang bisa digunakan pengunjung.

Kabarnya busana khas Korea itu didatangkan langsung dari negara asalnya. Usai menggunakan kostum, pengunjung bisa berswafoto dengan warga setempat.

"Biar bajunya agak lebar tapi bagus. Kita bisa merasakan suasana Korea di Indonesia hanya dengan datang di Baubau," ujar Lisa, salah satu pengunjung.

Meski demikian banyak yang tidak tahu bahwa Kampung Korea di Baubau sebenarnya sudah ada sejak 10 tahun lalu, bahkan sebelum K-Pop mewabah di Indonesia.

2 of 2

Kemunculan Kampung Korea

Salah satu papan nama SD negeri di kampung korea yang ditulis dengan aksara hangul.(Liputan6.com/Ahmad Akbar)
Salah satu papan nama SD negeri di kampung korea yang ditulis dengan aksara hangul.(Liputan6.com/Ahmad Akbar)

Warga Kelurahan Bugi sebenarnya tidak memiliki ikatan sejarah dengan bangsa Korea. Secara bahasa, warga setempat menggunakan bahasa lokal yang lebih dikenal sebagai bahasa Ciacia.

Nah, bahasa Ciacia inilah yang memiliki kedekatan dengan bahasa Korea. Yaitu dalam hal pengucapannya.

Diawali simposium persamaan bahasa pada 2009, pemerintah Kota Baubau dan perwakilan pemerintah Korea sepakat menggunakan aksara hangul sebagai aksara penulisan bahasa Ciacia yang juga merupakan nama etnis setempat.

Sejak itu, aksara hangul mulai masuk dalam kurikulum muatan lokal. Sekolah dasar dan sekolah menengah di Kelurahan Bugi menggunakan aksara hangul.

La Ali, pengelola Kampung Korea mengatakan, awalnya ada kerja sama tahun 2009 tentang bahasa. Kerja sama itu tentang penerapan hangul Korea dalam bahasa Cia-cia.

Dengan Hangul, pihaknya sudah melakukan pembelajaran dari SD sampai SMA. Mulai dari kelas 4 SD diajarkan hangul sebagai aksara bahasa resmi Ciacia.

Sudah sekitar 10 tahun sejak tahun 2009, Kampung Korea berdiri. Ada spot-spot yang dibuat anak-anak Kampung Karya Baru Bugi.

"Awalnya dulu kotor ini. Tapi karya generasi muda di kampung ini maka dibuatlah spot-spot seperti ini. Kemudian mereka mengambil tema kampung korea.” kata La Ali.

Di luar dugaan, kampung yang awalnya kumuh, kini menjadi destinasi wisata yang tak pernah sepi pengunjung. Malah kehadiran kampung Korea menjadi pengobat rindu bagi mereka yang belum sempat ke Korea.

 

 

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by