Mesin Jahit, Cerita Hijrah Korban Banjir Semarang

Oleh Felek Wahyu pada 14 Jul 2019, 10:00 WIB
Diperbarui 14 Jul 2019, 10:00 WIB
jahit bencana
Perbesar
Mesin jahit otomatis mendorong warga korban bencana lebih cepat belajar menjahit dibanding mesin manual. (Foto : Liputan6.com/Felek Wahyu)

Liputan6.com, Semarang - Utami, warga yang tinggal di Mangunharjo, Mangkang, Kota Semarang mengaku harus hidup dengan kewaspadaan tinggi saat musim hujan. Banjir bandang bisa saja datang kapan saja.

"Kali Bringin setiap musim hujan meluap. Jadi saat malam warga selalu waspada," kata Utami kepada Liputan6.com, Sabtu (13/7/2019).

Tidak saja barang, tapi nyawapun bisa melayang ketika air bah meluap masuk ke permukiman. Tidak lewat jalur air, namun tak jarang air mengalir lewat jalan raya.

"Air datang sangat cepat. Pernah pengendara mobil sampai terlempar karena arus deras dan sampai meninggal. Dulu banjir di rumah saya sampai sepinggang. Jadi semua pesanan jahitan sampai bahan kain ikut rusak karena banjir," kata ibu rumah tangga yang menghidupi anaknya dari menjahit.

Karena sudah mengenal dasar menjahit maka saat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang menggelar latihan menjahid Utami dan 25 ibu rumah tangga lainnya ikut dalam latihan.

"Tidak hanya mi instan dan sembakau untuk bertahan hidup. Tapi modal untuk bangkit kembali mencari nafkah untuk anak anak juga kami perlukan. Maka saat kami diberi hibah mesin jahit itu harapan kami bisa bangkit," katanya sambil mengaku masih kebingungan teknik membuat pola.

2 dari 2 halaman

Tidak Hanya Korban Banjir

Jahit Menjahit
Perbesar
Ilustrasi Foto Menjahit (iStockphoto)

Selaras dengan harapan Utami. Abel Montero, Kabid Rehabilitasi dan Rekontruksi BPBD Kota Semarang menjelaskan, tidak saja menyediakan tenda untuk huntara, pakaian pantas pakai hingga bahan makanan saat terjadi bencana.

"Namun BPBD Kota Semarang juga memberi pelatihan menjahit dan pemberian hibah mesin jahit. Dengan pelatihan yang belum bisa diharapkan bisa menjahit yang belum punya modal beli mesin juga kita bantu kendati uang dari APBD Kota Semarang baru bisa memberi satu mesin untuk 1 kelompok atau tiga orang," katanya.

Tidak saja korban bencana banjir di sekitar wilayah dikenal dengan 3M yakni Mangkang, Mangunharjo, Mijen namun pelatihan menjahit juga diberikan pada warga korban bencana kebakaran, kekeringan, dan tanah longsor.

"Pelatihan kita berikan mendekati waktu masuk sekolah dengan harapan peserta paska dapat ilmu akan segera dapat job menjahit sehingga tetap semangat untuk bangkit di bidang ekonomi," tambahnya.

Tidak saja menjahit pakaian. Namun para korban banjir yang menjadi peserta ini diharapkan juga memanfaatkan kemampuan dengan menjahit sovenir dengan memanfaatkan barang sisa. 

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓