Tragedi Logending dan Mitos Laut Kidul Sembunyikan Korban Tenggelam

Oleh Muhamad Ridlo pada 12 Jul 2019, 04:00 WIB
Sejak masa silam, legenda dan mitos Laut Kidul berkelindan dengan budaya, sosial dan politik masyarakat Jawa. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Kebumen - Laut Selatan Kebumen kembali menelan korban. Seorang nelayan asal Pasir, Kebumen, atas nama Syarif jadi korban. Ia hilang tenggelam di Laut Kidul.

Ceritanya, Selasa sore, 9 Juli 2019, tekong perahu ini memimpin tiga rekannya melaut di perairan selatan Kebumen. Mereka lantas hendak mendarat ke Pantai Logending ketika melihat gelombang laut selatan tak bersahabat.

Sekitar pukul 20.00 WIB, perahu itu sampai ke perairan Logending. Nahas, ketika sudah dekat pintu masuk atau bridgewater Logending, satu ombak tinggi melabrak perahu yang dikemudikan Syarif.

Perahu terbalik dan menyebabkan empat nelayan tenggelam di laut kidul. Beruntung, tiga orang berhasil selamat usai ditolong oleh nelayan-nelayan yang berada di sekitar lokasi.

Tiga nelayan yang selamat adalah Kawan, Waris, dan Saeful yang berasal dari desa yang sama dengan Syarif. Sayangnya, Syarif, sang tekong perahu, justru raib ditelan ombak.

"Nah, begitu saat akan masuk ke bridgewater itu, pintu masuk itu, dihantam ombak dan terbalik," kata Moelwahyono, Komandan Basarnas Pos SAR Cilacap, Rabu, 10 Juli 2019.

Upaya penyelamatan pun langsung dilakukan oleh nelayan setempat. Namun, gelap malam dan gelombang tinggi menghambat pencarian ini. Tengah malam, pencarian dihentikan.

Pagi harinya, Basarnas memberangkatkan satu regu SAR yang berbekal penyelamatan air lengkap, seperti perahu dan alat selam. Mereka bergabung dengan tim SAR lain yang sudah mencari keberadaan korban tenggelam laut kidul.

 

2 of 4

Temuan-Temuan Korban Tenggelam

Nelayan atas nama Syarif yang menjadi korban perahu terbalik dan tenggelam di pantai Logending ditemukan, Kamis siang (11/7/2019). (Foto: Liputan6.com/Basarnas/Muhamad Ridlo)
Nelayan atas nama Syarif yang menjadi korban perahu terbalik dan tenggelam di pantai Logending ditemukan, Kamis siang (11/7/2019). (Foto: Liputan6.com/Basarnas/Muhamad Ridlo)

Akhirnya, Rabu tengah hari, korban ditemukan dan dievakuasi oleh tim SAR gabungan. Selanjutnya, korban dibawa ke rumah duka.

"Pada pukul 12.20 kondisi MD, posisi diketemukan tidak jauh dari TKP," ucap Moelwahyono.

Melihat kasus ini, bisa saja memunculkan persepsi bahwa pencarian korban tenggalam di laut selatan Kebumen mudah. Kurang dari 24 jam, korban bisa ditemukan.

Namun, rupanya pencarian tak selalu mudah. Terkadang, pencarian orang tenggelam di pantai selatan terkait dengan satu kata sakral, keberuntungan.

Kasus sebelumnya bisa menjadi contoh. Tak sampai sepekan sebelumnya, pada Kamis, 4 Juli 2019, seorang remaja asal Kebonmanis, Cilacap tenggelam di Pantai Kemiren. Ia hilang tenggelam saat berenang bersama seorang rekannya, Akmal (14).

Korban baru ditemukan usai tiga hari pencarian, pada Sabtu (7/7/2019). Yang mengherankan, korban ditemukan masih di sekitar lokasi kejadian.

Moelwahyono mengatakan, laut selatan berkarakter unik. Korban tenggelam Laut Kidul sering kali ditemukan tak jauh dari lokasi, meski sudah hilang berhari-hari. Jaraknya, bisa satu atau dua kilometer dari lokasi. Bisa pula hanya hitungan selemparan batu, ratusan meter.

Sebelumnya, awal Juni 2019, tiga orang tersapu ombak di Pantai Suwuk, Kebumen. Satu orang selamat. Namun, dua lainnya tenggelam ditelan arus laut. Dua korban adalah Arya Kusuma (14) dan Supriyanto (39).

 

3 of 4

Legenda dan Mitologi Laut Kidul

Evakuasi korban pantai Kemiren, Cilacap, Jawa Tengah, 7 Juli 2019. (Foto: Liputan6.com/Basarnas/Muhamad Ridlo)
Evakuasi korban pantai Kemiren, Cilacap, Jawa Tengah, 7 Juli 2019. (Foto: Liputan6.com/Basarnas/Muhamad Ridlo)

Akhirnya, Senin pagi, 10 Juni 2019, salah satu jenazah korban ditemukan. Belakangan korban diidentifikasi sebagai Arya. Ia ditemukan di Pantai Criwik, Kebumen.

Mungkin ini terdengar aneh, tetapi kenyataannya begitu. Pantai Criwik berjarak kurang dari dua kilometer dari Pantai Suwuk, di mana Arya tenggelam, lima hari sebelumnya.

Tak aneh, jika karakter laut selatan yang unik itu menciptakan legenda dan mitos-mitos pada masa lalu. Dan bahkan, sebagian masyarakat di kelompok tertentu masih meyakini legenda dan mitos itu hingga hari ini.

Laut Selatan Jawa atau lebih dikenal dengan Laut Kidul oleh masyarakat Jawa memang begitu berpengaruh terhadap budaya dan adat istiadat masyarakat pesisir selatan. Legenda dan mitologinya, bahkan, berkelindan dengan kekuasaan politik kerajaan-kerajaan kuno di Pulau Jawa.

Kini, barang kali pengaruh Laut Kidul terhadap budaya dan politik di Jawa sudah surut. Namun, cerita-cerita Laut Kidul terkadang masih saja dibicarakan jika terjadi sebuah peristiwa kecelakaan laut atau orang tenggelam.

Terlepas dari legenda dan mitologi yang mewarnai kehidupan masyarakat pesisir, keunikan Laut Kidul sudah menjadi bagian dari peri kehidupan nelayan dan orang-orang yang beraktivitas di sekitarnya. Misterinya terkadang tak terpecahkan, hingga hari ini. 

4 of 4

Mitos Laut Kidul Mengembalikan Korban dengan Deburan Ombak

Ilustrasi – pencarian korban tenggelam di laut selatan. (Foto: Liputan6.com/Basarnas/Muhamad Ridlo)
Ilustrasi – pencarian korban tenggelam di laut selatan. (Foto: Liputan6.com/Basarnas/Muhamad Ridlo)

Tentu saja, ada kalanya, arus laut membawa korban hingga berpuluh-puluh kilometer. Korban tenggelam di Cilacap, misalnya, ditemukan di Kebumen dan bahkan Pantai Sadeng, Yogyakarta, atau sebaliknya.

Makanya, ada kepercayaan lokal yang menyebut bahwa Laut Kidul bisa menyembunyikan sekaligus mengembalikan jasad korban tenggelam dengan deburan ombaknya. Masyarakat modern, memahami kepercayaan itu hanya sebatas mitos.

Penjelasan masuk akal diberikan Moelwahyono. Fenomena penemuan korban tak jauh dari lokasi kecelakaan air sudah menjadi hal umum di laut selatan.

"Arus laut selatan berbeda dengan laut utara. Laut utara cenderung konstan arahnya, kalau selatan bisa berubah," kata Moelwahyono, dalam kesempatan terpisah.

Selain itu, beberapa pantai selatan berimpitan langsung dengan palung. Hal itu lantas menciptakan arus laut bersifat menggulung yang oleh masyarakat disebut sebagai boleran.

Keberadaan boleran ini menyebabkan sejumlah pantai selatan Jawa Tengah, termasuk Kebumen dan Cilacap memiliki pusaran air yang berbahaya. Diduga pusaran itulah yang menyeret korban, dan membuat korban tak hanyut terlampau jauh.

"Jadi hanya berputar-putar saja di situ. Makanya, kita cari ke kanan atau ke kiri, tergantung arusnya ke mana," ujar Moelwahyono.

Keganasan ombak laut selatan terekam dari banyaknya korban tenggelam sepanjang 2018. Sebanyak 22 orang dilaporkan hilang tenggelam di pantai selatan Kebumen.

Ada 21 jenazah korban ditemukan. Namun, keberadaan satu orang lainnya hingga saat ini masih misterius dan dinyatakan hilang di Laut Kidul.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓