Camat Kubu: Kita Capek Padamkan, yang Untung Orang Lain

Oleh M Syukur pada 12 Jul 2019, 21:00 WIB
Diperbarui 12 Jul 2019, 21:15 WIB
Api melumat lahan kosong di Provinsi Riau dan sudah mengepulkan asap tebal.

Liputan6.com, Pekanbaru - Empat hari belakangan hujan mulai turun di Kepenghuluan Segajah Makmur, Kecamatan Kubu, Rokan Hilir. Meski tak deras dan bersifat lokal, keadaan ini membuat masyarakat di sana cukup lega karena titik kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) berkurang.

Sebelum turun hujan, Rokan Hilir menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Riau karena kawasan itu membara. Musim kemarau kering lebih dahulu menyapa wilayah pesisir itu dibanding daerah lainnya sehingga memicu Karhutla.

Biasanya, Karhutla terjadi di pedalaman yang dekat dengan laut dan tidak ada sekat kanal. Tiupan angin membuat api lebih mudah menyebar di gambut berkedalaman enam meter lebih.

"15 hari sebelumnya, kerja kami bersama masyarakat hanya memadamkan api. Alhamdulillah sekarang hujan sudah turun," sebut Camat Kubu Asrul kepada wartawan, Rabu petang, 10 Juli 2019.

Asrul juga menceritakan susahnya memadamkan api di lahan gambut tak bersekat kanal kepada Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foed. Tak hanya soal sumber air, tapi lahan yang dipadamkan itu lahan milik orang lain.

"Yang punya lahan tak ada di lokasi, jadi memadamkan lahan milik orang lain. Ini sudah bertahun-tahun terjadi," sebut Asrul.

Asrul kian jengkel karena bekas kebakaran lahan yang dipadamkan tahun lalu sudah ditanami sawit. Diapun tak bisa berbuat banyak karena bukti pemilik lahan membakar sulit ditemukan.

"Indikasinya sengaja dibakar, tapi sulit dibuktikan. Jadi kerja kami memadamkan saja, keuntungannya didapat orang lain karena tahun berikutnya ditanam," cerita Asrul.

2 of 3

Saran BRG

Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead berbincang dengan Camat Kubu dan aparatur pemerintah di Rokan Hilir.
Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead berbincang dengan Camat Kubu dan aparatur pemerintah di Rokan Hilir. (Liputan6.com/M Syukur)

Siapa-siapa pemilik lahan terbakar, Asrul sangat tahu karena datanya ada di kecamatan. Hanya saja dia tak bisa berbuat banyak karena pemilik lahan tidak pernah ditemukan ketika kebakaran lahan terjadi.

Atas kejadian ini, Nazir meminta Asrul lebih berani. Bukannya menindak dengan melapor ke penegak hukum, melainkan membeberkan data pemilik lahan ke publik sebagai efek jera.

"Ini termasuk tekanan sosial, dipublish saja yang punya lahan," saran Nazir.

Selain itu, Asrul juga mengeluhkan lemahnya penegakan hukum terhadap pembakar lahan. Pasalnya selama ini, pembakar lahan ditangkap hanya petani biasa yang membuka tak lebih satu hektare.

"Yang ratusan hektare malah bebas, tapi beruntung juga kami dalam pemadaman juga dibantu TNI dan Polri. Siang malam memadamkan tanpa kenal lelah," kata Asrul.

Sebagai saran, Nazir meminta masyarakat secara swadaya membangun sekat kanal di lahan gambut. Permohonan bantuan bisa diajukan ke BRG karena sekat kanal termasuk salah satu program agar gambut tetap basah.

Di kepenghuluan itu, ada kelompok masyarakat binaan BRG dalam membuat sekat kanal dan embung sebagai cadangan air ketika musim kemarau tiba. Program ini terbilang efektif membasahi gambut dan mencegah Karhutla.

Meski demikian, adanya sekat kanal bukan berarti Karhutla bisa ditiadakan. Kebakaran tetap terjadi tapi dengan intensitas lebih rendah dan tak sampai ke dasar gambut.

"Tetap terbakar, tapi di permukaannya saja. Lebih mudah dipadamkan dan tidak menyebar karena ada kanal," sebut Nazir.

3 of 3

Desa Peduli Gambut

Perjanjian kerjasama Desa Peduli Gambut antara Badan Restorasi Gambut dengan PT Chevron Pasifik Indonesia.
Perjanjian kerjasama Desa Peduli Gambut antara Badan Restorasi Gambut dengan PT Chevron Pasifik Indonesia. (Liputan6.com/M Syukur)

Menurut Nazir, program sekat kanal tidak hanya ada di Rokan Hilir. Daerah lainnya seperti Bengkalis dan Siak, sudah dibuat ratusan sekat kanal yang dikelola kelompok masyarakat binaan BRG.

"Jika biasanya terjadi hingga enam kali kebakaran, dengan adanya sekat kanal hanya sekali. Dan setiap tahun, dibanding tahun 2015, kebakaran di lahan gambut juga berkurang," sebut Nazir.

Selain pembasahan, BRG juga punya program revegetasi atau menutup gambut terbuka dengan tanaman ramah lingkungan dan revitalisasi ekonomi masyarakat dengan membuat sekolah lapang.

Sekolah ini mendidik kelompok masyarakat bercocok tanam di areal sekat kanal. Masyarakat akan menanam tanaman holtikultura seperi cabai, nanas, bawang dan lainnya.

Terbaru, BRG juga membuat program Desa Peduli Gambut di Bengkalis, Rokan Hilir, Kota Dumai, Siak dan Kampar. Ada 21 desa menjadi target dengan menggandeng PT Chevron Pasifik Indonesia.

Tanda tangan kerjasama ini dilakukan Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Myrna A Safitri. Target restorasi gambut berlangsung hingga 31 Desember 2020.

Program ini meliputi edukasi masyarakat, peningkatan kapasitas melalui berbagai pelatihan, perencanaan tata ruang dan kawasan pedesaan. Selain itu ada juga pemberdayaan ekonomi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana kebakaran gambut.

Lanjutkan Membaca ↓