Mengenal Kampus Alam Kopi 'Sunda Hejo' di Garut

Oleh Jayadi Supriadin pada 08 Jul 2019, 12:00 WIB
Diperbarui 09 Jul 2019, 21:13 WIB
Beberapa varietas kopi unggulan tanah air yang disajikan di cafe Sunda Hejo siap memenuhi permintaan para pengunjung

Liputan6.com, Garut - Pamor kopi dalam negeri yang terus menanjak dalam beberapa tahun ini mendorong komunitas paguyuban kopi ‘Sunda Hejo’, Garut, Jawa Barat, turun gunung memberikan pemahanan dan informasi yang benar seputar salah satu tanaman penghasil kafein tersebut.

Bagi anda penyuka kopi, tak ada salahnya mengunjungi salah satu kampus alam kopi, yang sengaja memberikan informasi soal kopi, dengan mengedepankan potensi kearifan lokal tiap daerah di Indonesia.

Berada di persimpangan Jalan Raya Rancasalak, Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Anda akan mendapatkan informasi menyeluruh mengenai kopi, mulai budidaya, proses panen, pengolahan biji kopi, hingga cara menyeduh dan menyajikan kopi yang baik.

Hamzah Fauzi Nur Amin, pengelola sekaligus pemilik paguyuban kopi Sunda Hejo Garut mengatakan, ide awal munculnya pelatihan kopi, berasal dari masih minimnya pengetahuan warga mengenai kopi.

“Padahal, potensi kopi di Garut, di Jawa Barat, bahkan Indonesia itu sangat besar sekali,” ujar dia, dalam obrolan hangatnya dengan Liputan6.com, di kafé Sunda Hejo, Sabtu (6/7/2019) malam.

Kala itu dia mendamping beberapa siswa calon barista dari Desa Ajaubaki, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) dan First Crack Indonesia dari Jakarta. Robert, panggilan akrab Hamzah di kalangan barista dan petani kopi Tanah Air, tampak melek menjelaskan silsilah kopi.

Menurutnya, sebagai salah satu dari lima produsen kopi terbesar di dunia, komoditas kopi tanah air yang didominasi Arabika, memiliki ragam keunggulan rasa dan keunikan tersendiri, dibanding dengan kopi dari belahan dunia mana pun.

“Makanya kenapa Indonesia masih impor kopi Arabika dari Vietnam, padahal negara lain malah mati-matian mencari kopi Arabika dari Indonesia,” ujar dia sedikit menyentil pemerintah.

Menggunakan kaus oblong hitam kesukaannya, Robert begitu leluasa menjelaskan dengan rinci pelbagai keunggulan kopi Indonesia, terutama kopi Arabika Preanger, yang banyak ditanam di wilayah Priangan, Jawa Barat, bagian selatan.

“Kenapa Preanger? Sebab jika melihat sejarah, termasuk salah satu komoditas kopi unggulan di dunia,” papar dia bangga.

Robert mengatakan, sebagai salah satu produsen sekaligus konsumen kopi besar dunia, sudah saatnya masyarakat memahami dengan baik, potensi kopi yang cukup melimpah saat ini. “Kami memiliki seluruh sampel kopi Indonesia untuk dipelajari,” kata dia.

 

 

 

 

2 of 5

Kongko Sambil Belajar Kopi

Salah seorang barista cafe Sunda Hejo tengah melayani pesanan kopi para pengunjung
Salah seorang barista cafe Sunda Hejo tengah melayani pesanan kopi para pengunjung (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Berlama-lama di kafé sunda kopi punya banyak manfaat. Selain merasakan sensasi minum ragam kopi Tanah Air secara langsung, juga bisa mendapatkan ilmu mengenai kopi secara utuh dari pakarnya."

"Pengunjung juga bisa secara langsung mencoba me-roasting kopi, silakan jika mau," ujar Robert.

Nama Sunda yang dipakai bukanlah suku sunda yang dimaksud, namun busur sunda, yang merupakan struktur geologi sangat aktif yang menjadi pembatas dua lempeng. Sementara Hejo, merupakan anonim dari hijau yang memiliki semangat bersama alam, dengan tujuan menjaga kehijauan dan kelesatrian alam sekitar.

Putri, salah satu pengunjung asal Garut, mengaku senang menikmati sajian kopi Sunda Hejo. Selain varietas kopi yang lebih lengkap, juga suasana kafe mendukung untuk nongkrong. "Tempatnya cukup unik juga," kata dia.

Menggunakan sebagian besar barang bekas aksesoris kendaraan dan pesawat terbang, penampilan kafé memang lumayan nyentrik, sehingga mampu menarik minat pengunjung datang. "Ternyata barang bekas jika otimalkan masih bisa bermanfaat," ujarnya.

Selain sajian kopi yang nikmat, alunan musik pengiring yang disediakan pengelola, mampu menambah kenikmatan tongkrongan anda. 

Robert menambahkan, penggunaan barang bekas dalam ornamen kafé Sunda Hejo, sengaja ditampilkan untuk menggugah masyarakat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. "Jangan asal rusak buang, tapi masih bisa diperbaiki," kata dia.

Dengan penataan seperti itu, para pengunjung yang datang bisa menjadi duta kampanye dalam mengoptimalkan barang bekas di wilayahnya.

 

 

 

3 of 5

Pola Pengajaran

Nampak pengunjung kaula muda tengah menikmati sajian kopi sambil mempelajari ragam kekayaan kopi tanah air di cafe Sunda Hejo, Kadungora, Garut
Nampak pengunjung kaula muda tengah menikmati sajian kopi sambil mempelajari ragam kekayaan kopi tanah air di cafe Sunda Hejo, Kadungora, Garut (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Dalam praktiknya, pola pengajaran kopi yang diberikan kampus alam Sunda Hejo, lebih banyak dilakukan melalui materi dan praktik di lapangan. "Kita bawa langsung ke perkebunan kopi binaan," ujar Robert.

Selama di perkebunan, Robert bakal menjelaskan seluruh informasi mengenai budi daya kopi secara lengkap kepada mereka. "Bahkan, bagaimana cara memetik biji yang baik pun kita berikan, termasuk lainnya," papar dia.

Menurut dia, tanah vulkanis Indonesia sangat baik ditanami kopi, baik robusta maupun arabika, sehingga keduanya bisa tumbuh dengan baik.

"Jika robusta lebih banyak di tanam di daerah dataran rendah, maka arabika lebih cocok ditanam di dataran tinggi," ujar dia menjelaskan.

Saat ini, potensi kopi arabika Indonesia cukup melimpah. Sebut saja kopi Gayo dari Aceh, Enrekang dari Sulawesi, Sawah Lunto dari Sumatera, Kintamani dari Bali, Waerebo dari Flores, hingga Arabika Preanger dari wilayah Jawa Barat, menjadi komoditas unggulan Indonesia.

"Belum kopi lainnya seperti Papua New Guinea, NTT dan lainnya banyak sekali," kata dia.

Aranci Amerita Kaseh, salah satu pengunjung yang tengah mempelajari kopi dari Desa Ajaubaki, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Nusa Tenggara Timur (NTT), mengaku puas dengan informasi yang diberikan.

“Potensi kopi di kami sangat melimpah, tapi masih berbasis kopi hutan belum dibudidaya secara resmi,” ujar dia.

Menurut dia, pola budi daya kopi yang berlangsung di Desa Ajaubaki masih tradisional tanpa bantuan teknologi sedikit pun. “Istilahnya jadi ya kami bersyukur, kalau pun tidak, tidak masalah,” kata dia dia.

Saat ini produk utama perkebunan masyarakat Timor Tengah Selatan masih berkutat pada produksi jeruk kapok, sehingga keberadaan potensi kopi belum banyak dilirik.

“Setahu kami kopi ya dipanen, dikeringkan, diolah, diseduh ya sudah,” kata dia menjelaskan tradisi masyarakat setempat dalam mengoptimalkan kopi.

Namun, seiring banyaknya informasi selama menimba ilmu di Sunda Hijau, banyak sekali muatan yang bisa dikembangkan untuk mengoptimalkan potensi kopi NTT.

“Jelas sangat berguna, saya tentu sangat berterima kasih sekali,” kata dia.

Hal senada disampaikan Octa Thio dari First Crak Indonesia. Menurut dia, pola penyampaian informasi kopi yang disampaikan Sunda Hejo cukup efektif, sehingga mampu menggugah rasa penasaran pengunjung.

“Mereka diajari bagaimana budi daya, mengolah, hingga menyeduh, termasuk tata niaga kopi yang baik, jadi cukup lengkap,” ujarnya.

 

 

4 of 5

Berbasis Kearifan Lokal

Dengan mengusung tema kearifan lokal, paguyuban Sunda Hejo berharap seluruh potensi kopi tanah air bisa berkembang sesuai dengan potensi kearifan lokal masyarakat sekitar
Dengan mengusung tema kearifan lokal, paguyuban Sunda Hejo berharap seluruh potensi kopi tanah air bisa berkembang sesuai dengan potensi kearifan lokal masyarakat sekitar (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Selain mengajarkan budidaya kopi secara lengkap, Robert berharap informasi yang disampaikan mampu menarik minat masyarakat Indonesia, membangkan potensi kopi secara optimal.

“Setiap daerah itu memiliki ciri khas dan kearifan lokal masing-masing,” kata dia.

Dampaknya bisa dilihat, kopi yang dihasilkan lebih beragam untuk menambah khasanah cita rasa produk kopi Indonesia. “Soal arabika kita berani adu dengan kopi mana pun di dunia,” ujar dia.

Robert mengaku, saat ini sudah ada tiga gelombang yang berhasil dididik dari kampus alam kopi Sunda Hejo, mereka sudah menyebar di beberapa tempat, dengan kemahiran utama mengolah kopi.

“Generasi pertama kebanyakan buka usaha sendiri kopi, generasi kedua menjadi barista, generasi ketiga menguasai bagaimana budidaya dan tradisi kopi di Indonesia,” kata dia.

Bahkan untuk menarik minat pengunjung dan calon siswa yang datang, lembaganya ujar dia, mulai mengenalkan potensi kebudayaan tiap daerah, yang berhubungan dengan potensi kopi yang dihasilkan.

“Kalau untuk masyarakat sunda kita berikan kesenian kacapi, silat, upacara adat dan lainnya,” kata dia. 

Dengan upaya itu, mereka tidak hanya bangga dengan produk kopi, tapi tidak melupakan akar rumpun budaya masyarakat setempat.

“Yang lain tergantung keragaman dan budaya daerahnya masing-masing,” ujar dia.

5 of 5

Membantu Konservasi

Paguyuban Sunda Hejo di Rancasalak, Garut, Jawa Barat mampu menyajikan informasi yang lengkap soal kopi, termasuk tempat tongkrongan yang enak di Garut
Paguyuban Sunda Hejo di Rancasalak, Garut, Jawa Barat mampu menyajikan informasi yang lengkap soal kopi, termasuk tempat tongkrongan yang enak di Garut (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Selain transformasi informasi mengenai kopi, keberadaan sunda hejo, diharapkan mampu menyadarkan masyarakat pentingnya menanam kopi, dalam menjaga kelestarian alam sekitar.

“Salah satu pohon konservasi yang paling menguntungkan dalam usia relatif singkat ya tanaman kopi,” ujar dia. 

Sesuai dengan moto sunda hejo, ‘Kopi menyelamatkan hutan, hutan menyelamatkan manusia, dan manusia menyelamatkan kopi,’ diharapkan menjadi pijakan paguyuban dalam mengembangkan kopi ke depan.

“Kami tidak hanya berbisnis, tapi ada pesan pentingnya kelestarian alam yang harus disampaikan,” kata dia.

Saat ini jutaan hektare lahan gambut, belum mampu digarap dengan optimal, dalam menjaga kelestarian alam. “Coba berikan bagi kami untuk ditanami kopi, betapa besar pendapatan negara dari komoditas kopi,” kata dia.

Dengan pasokan cukup melimpah, serta potensi lahan yang terbentang luas dari Sabang hingga Merauke, Robert berharap semakin banyak potensi kopi berkualitas yang bisa dihasilkan. “Kopi Indonesia itu memiliki kenageragaman rasa paling banyak di dunia,” kata dia.

Khusus Sunda Hejo, saat ini pasukan biji kopi yang berhasil diekspor ke luar negeri sudah mencapai 540 ton per bulan, dengan tujuan utama Amerika Serikat, Eropa dan Asia terutama Jepang.

Namun bagi anda yang menyenangi tongkrongan lengkap berbahan kopi, tidak ada salahnya menikmati ragam sajian kopi ‘Klasik Beans Sunda Hejo Coffee’, di beberapa coffe shop Tanah Air saat ini.

 

Simak juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓