Basmi Jentik Nyamuk dengan Limbah Jeruk Nipis

Oleh Huyogo Simbolon pada 05 Jul 2019, 09:00 WIB
Diperbarui 05 Jul 2019, 09:00 WIB
Jemukti

Liputan6.com, Bandung Sejak zaman dulu, buah jeruk nipis dikenal secara luas memiliki sejumlah manfaat yang beraneka ragam. Salah satunya terdapat pada bagian kulit jeruk yang digunakan sebagai penghalau nyamuk.

Baru-baru ini, sekelompok mahasiswa Universitas Padjadjaran berhasil mengembangkan limbah kulit jeruk nipis menjadi produk pembasmi jentik nyamuk. Hal itu dilakukan sebagai upaya menanggulangi penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Para mahasiswa Unpad itu ialah Muhamad Imam Muhajir (FMIPA), Ajar Faflul Abror (FMIPA), Regi Admar Yusup (FMIPA), Sandi Sudjatmiko (FISIP), dan Diani Citra Ayu (Fikom) dengan dosen pembimbing Dr. Euis Julaeha, M.Si.

Mereka membuat produk bernama Jentik Nyamuk Mati yang disingkat menjadi Jemukti. Sesuai dengan namanya, Jemukti merupakan obat yang fokus untuk membasmi anak nyamuk atau jentik. Obat ini bukan berbentuk serbuk, melainkan menggunakan teknologi effervescent.

Lewat teknologi ini, konsumen tidak perlu repot membubuhkan obat ke berbagai genangan air. Dengan mencelupkan tablet effervescent, secara otomatis obat akan melarut dalam air.

"Kalau reaksinya sangat cepat, hanya dalam hitungan detik sudah larut," kata Imam Muhajir kepada Liputan6.com, Kamis (4/7/2019).

Imam menjelaskan, Jemukti menggunakan bahan alami berupa kulit jeruk nipis. Bahan ini diklaim lebih aman dari produk sejenis yang cenderung menggunakan produk sintetis.

Artinya, produk ini memberikan jaminan bahwa hanya mengakibatkan dampak yang minor apabila air yang sudah tercampur produk tertelan oleh manusia.

2 dari 3 halaman

Melalui Serangkaian Percobaan

Uji laboratorium
Imam bersama rekan-rekannya menguji kemampuan kulit jeruk nipis yang telah diekstraksi kemudian menjadi tablet. (Istimewa/Huyogo Simbolon)

Imam bersama Ajar awalnya membeli jeruk nipis sebanyak 5 kilogram. Kemudian jeruk tersebut diekstraksi. Ternyata hasil ekstraksi pertama dengan takaran 1 gram per liter membuat jentik nyamuk banyak yang mati.

"Lalu kami membandingkan ekstrak jeruk dengan produk sintetik dengan takaran yang sama yaitu 2 gram per liter. Memang yang bahan sintetik lebih efektik pada jam awal. Tetapi pada jam kelima, bahan dari jeruk memiliki angka kematian yang sama dengan yang menggunakan sintetik," kata Imam menjelaskan. 

Setelah ekstrak kulit jeruk nipis, percobaan selanjutnya adalah membuat kulit menjadi serbuk. Lalu, Imam dan Ajar mengembangkan lagi serbuk tersebut dengan menggunakan teknologi effervescent.

Setelah menjadi tablet effervescent, Imam dan tim pun melakukan kampanye penggunaan Jemukti untuk memberikan manfaat positif kepada lingkungan warga di kawasan Hegarmanah.

"Untuk produknya sudah dibuat sebanyak 12 sachet. Kami coba tawarkan kepada masyarakat terdekat dulu. Satu sachet kami mematok harga Rp10 ribu untuk berat 20 gram," kata Imam.

Bagi Imam dan Ajar, adanya produk pembasmi jentik nyamuk ini diharapkan selain mampu menekan angka penyakit DBD, juga bisa menjadi solusi untuk mengurangi limbah kulit jeruk.

3 dari 3 halaman

Berawal dari Pengalaman Pribadi

Jemukti
Produk Jemukti siap dipasarkan ke masyarakat. (Istimewa/Huyogo Simbolon)

Sebelum menciptakan produk Jemukti, Imam pernah terkena DBD. Hal itu dialami mahasiswa jurusan Kimia Unpad ini pada saat ia menjalani perkuliahan semester tahun 2018 lalu.

"Waktu itu liburan semester tahun lalu. Saya sendiri kena DBD," ujar Imam.

Mahasiswa asal Purwakarta ini kemudian bersama Ajar ingin mengembangkan cara membasmi jentik naymuk DBD yang sering muncul saat musim hujan tiba.

"Dari situ kami berdua konsultasi ke dosen pendamping, Bu Euis, maka dilakukan penelsuruan literatur. Secara kebetulan dosen pendamping kami itu fokus dalam ekstrak kulit jeruk ditambah juga masyarakat sekitar menjual produk jeruk nipis peras," ujarnya.

Tim pun kemudian dibentuk. Hasil riset tersebut lalu diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PMK) Unpad untuk kategori Kewirausahaan.

Tim PKM-K Jemukti akhirnya berhasil mendapat pendanaan dari Kemenristekdikti. Setelah proposal disetujui, didapatlah dana sebesar Rp7.200.000.

"Dananya sendiri untuk saat ini lebih banyak digunakan untuk uji lab. Walau dana belum habis semua, masih bisa produksi karena kami sudah ada prencanaan dan penggunaan dana," kata Imam.

Langkah selanjutnya, Imam berharap dapat mengembangkan tablet ini dengan perusahaan yang mau bekerja sama.

"Dari kami sendiri ingin mengajukan kerja sama dengan pabrik dalam rangka mencetak tablet. Karena diperlukan alat khusus agar tablet Jemukti- ya bisa tercetak dengan benar," ujarnya.

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓