Derita May, Bocah 5 Tahun Penderita Kelainan Kelamin

Oleh Muhamad Ridlo pada 03 Jul 2019, 15:00 WIB
Bocah perempuan Banjarnegara, May Aretha Elisya (5) didiagnosa Diverticulum of Blader (ekstrofi bladder) atau menderita kelainan kelamin. (Foto: Liputan6.com/Humas Pemkab BNA/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banjarnegara - Layaknya balita lainnya, May Aretha Elisya, terbilang aktif. Perkembangan pengetahuan dan motorik bocah perempuan yang kini tinggal di Desa Karangjambe, Kecamatan Wanadadi, Banjarnegara, Jawa Tengah, ini normal.

Tetapi, sejak lahir hingga berumur lima tahun ini, bocah berusia lima tahun ini didiagnosa menderita Congenital Diverticulum of Blader (ekstrofi bladder) atau menderita kelainan kelamin.

Organ vitalnya cenderung berjenis kelamin perempuan. Namun, organ vital itu bentuknya tidak sempurna dan selalu berair.

Karenanya, May selalu menggunakan pembalut atau pampers. Karenanya, secara naluriah, May membatasi aktivitasnya.

Orang tua May, Ari Asihantini (39), bukannya tak pernah berupaya mengobati May. Pengobatan berjenjang, mulai dari Puskesmas hingga rumah sakit di Banjarnegara telah ditempuh. Namun derita kelainan kelamin May tidak sembuh.

Sang ibunda telah berikhtiar hingga batas kemampuannya. Sejak dua tahun lalu, Ari memang menghidupi keluarganya seorang diri. Sang ayah pergi dan tak lagi peduli dengan keluarganya.

Ari mesti menghidupi keempat anaknya seorang diri. Ia bekerja dengan menjadi buruh yang penghasilannya tak seberapa. Adapun May, diasuh oleh neneknya.

Beruntung, penderitaan keluarga bocah penderita kelainan kelamin ini mendapat perhatian berbagai pihak, termasuk Pemkab Banjarnegara. May menjalani pengobatan mulai dari RSI, RS Dr Sarjito Yogyakarta, dan RS Hasan Sadikin Bandung.

 

2 of 3

Ibunda Sempat Tertipu di RS Sadikin Bandung

Bocah penderita kelainan kelamin, May Aretha Elisya (5) saat bertemu dengan Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono. (Foto: Liputan6.com/Humas Pemkab BNA/Muhamad Ridlo)
Bocah penderita kelainan kelamin, May Aretha Elisya (5) saat bertemu dengan Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono. (Foto: Liputan6.com/Humas Pemkab BNA/Muhamad Ridlo)

Tetapi, pengobatan itu tak lantas mengentaskan May dari penderitannya. Jalan terakhir, May mesti menjalani operasi kelamin.

“Operasi kelamin dan hanya bisa dilakukan di RS Hasan Sadikin Bandung saja karena terkait peralatan medis,” kata Ratmini, petugas dari Puskesmas Wanadadi I, Banjarnegara, Selasa, 2 Juli 2019.

Ternyata, di luar orang-orang baik, ada saja segelintir orang yang memanfaatkan kelemahan orang-orang yang menderita. Di RS Sadikin, pada 2018 lalu, Ari sempat tertipu lantaran terlalu berharap agar operasi anaknya dipercepat.

Ia rela membayar seseorang yang mengaku sebagai karyawan RS Sadikin Rp 4 juta agar operasi anaknya dipercepat. Ternyata, itu hanya bualan dan orang tersebut raib usai berhasil menipu Ari.

Akhirnya, Kelainan kelamin yang diderita May, sampai pula ke telinga Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono. Budhi menerima May bersama ibu, petugas kesehatan dan warga yang mengantarnya di rumah dinas Pringgitan, Selasa (2/7/2019).

Dalam kesempatan itu bupati menegaskan bahwa pemerintah siap membantu pengobatan melalui BPJS dan Jamkesda. Ia juga berjanji bakal mengoptimalkan jejaring dan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang bisa memungkinkan terobosan birokrasi agar masyarakat miskin dapat dijamin kesehatannya.

“Insya Allah Ananda akan segera kita dampingi operasi ke RS Hasan Sadikin Bandung. Masalah pembiayaan, pemerintah membantu melalui BPJS dan Program Jamkesda, untuk biaya operasi dan biaya selama di Bandung nanti,” ucap Budhi.

 

3 of 3

Biaya Operasi Rp 350 juta

Tak tanggung-tanggung, bupati sudah mempersiapkan surat pengantar ke Direktur RS Hasan Sadikin Bandung, Ia juga mengirimkan tembusan surat ke Menteri Kesehatan RI dan Dirjen Pelayanan Medik.

Di samping itu, Budhi juga meminta masyarakat pro aktif melaporkan apabila ada anggota keluarga ataupun warga di sekitar yang memerlukan bantuan dari pemerintah. Ia tak ingin ada rakyat miskin yang tak terfasilitasi.

“Jika ada warga tidak mampu dan membutuhkan pertolongan seperti ini segeralah melapor, masalah seperti ini merupakan tanggung jawab bersama,” katanya.

Survei biaya yang telah dilakukan oleh tim medis Banjarnegara, operasi kelainan kelamin tersebut membutuhkan biaya sekitar Rp 350 juta. Sementara, biaya makan untuk satu orang sekitar Rp 30 ribu. Adapun biaya kamar ditaksir Rp 850 ribu per hari.

Rencananya, operasi ini bakal dilakukan tiga tahap dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu dari Neurologi, bedah tulang, dan bedah anak.

“Mohon sabar menghadapi cobaan ini. Insya Allah kita semua berusaha agar putri Ibu bisa ditangani dengan baik,” bupati berpesan.

Lanjutkan Membaca ↓