Dilintasi Kawanan Gajah, Rumah Warga Porak-poranda

Oleh Rino Abonita pada 28 Jun 2019, 16:00 WIB
Diperbarui 28 Jun 2019, 16:00 WIB
Lagi, Gajah Berkeliaran di Nagan Raya
Perbesar
Kawanan gajah berkeliaran di sekitar pemukiman warga Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya, sejak Selasa malam, 25 Juni 2019. (Liputan6.com/ Rino Abonita)

Liputan6.com, Nagan Raya - Kawanan gajah berkeliaran di sekitar permukiman warga Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya, sejak Selasa malam, 25 Juni 2019. Rumah dan kebun warga yang menjadi laluan gajah-gajah tersebut rusak parah.

Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Ahmad Dadek, ada 6 unit rumah warga yang rusak. Empat unit di Desa Blang Leungo, 2 unit di Desa Blang Tengku.

Warga terpaksa mencari tempat yang aman saat gajah-gajah tersebut berdatangan. Rumah berkonstruksi papan milik warga porak-poranda saat dilalui oleh satwa dilindungi itu.

Begitupun dengan kebun milik warga. Mamalia besar dari famili Elephantidae dan ordo Proboscidea itu dilaporkan berjumlah 12 ekor dan saat ini masih berada di sekitar permukiman.

"Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagan Raya sudah melakukan Koordinasi dengan tim Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Meulaboh untuk melakukan penggiringan gajah kembali ke hutan," kata Dadek, kepada Liputan6.com, Kamis sore, 27 Juni 2019.

Kejadian serupa juga terjadi pada awal tahun. Selain merusak rumah yang dilaluinya, belasan gajah liar juga merambah areal pertanian dan perkebunan warga Desa Blang Tengku dan Tuwie Meulesong pada Januari lalu.

 

2 dari 2 halaman

Gajah Sering Disalahkan

Lagi, Gajah Berkeliaran di Nagan Raya
Perbesar
Kawanan gajah berkeliaran di sekitar pemukiman warga Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya, sejak Selasa malam, 25 Juni 2019. (Liputan6.com/ Rino Abonita)

Konflik gajah versus manusia terbilang kompleks. Gajah sering disalahkan, padahal, ekspansi perkebunan baik oleh korporasi maupun warga telah mengalihfungsikan hutan menjadi lahan perkebunan.

Pembukaan lahan perkebunan seringkali tidak memperhatikan populasi satwa di hutan. Banyak perkebunan yang memangkas koridor atau home range (wilayah jelajah) satwa-satwa tersebut.

Belalai gajah bisa merobohkan sebatang pohon dan mengangkat beban hingga 300 kilogram. Hewan berbobot tronton itu mudah saja membuat apa pun yang diinjaknya penyek.

Di balik itu, banyak gajah mati dengan kondisi mengenaskan. Gading hewan yang semestinya dilindungi itu dicuri, sementara pemiliknya ditinggal dalam kondisi sekarat.

Catatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, ada 11 ekor gajah yang tewas pada tahun 2018. Rata-rata mati diracun atau tersengat arus listrik.

Kebanyakan ditemukan di kawasan hutan lindung yang ada di Aceh. Kendati demikian, angka tersebut mengalami penurunan dibanding tahun 2017 sebanyak 13 ekor.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait