Kematian Petani Berujung Pembantaian Buaya di Siak, Ini Kata BBKSDA Riau

Oleh M Syukur pada 21 Jun 2019, 13:00 WIB
Diperbarui 23 Jun 2019, 10:13 WIB
Buaya tangkapan masyarakat Sungai Lakar, Kabupaten Siak, karena memangsa manusia.

Liputan6.com, Pekanbaru- Balai Besar Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menurunkan tim ke Sungai Lakar, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, untuk mengatasi konflik buaya dengan masyarakat setempat. Hal ini menyusul meninggalnya petani bernama Martoyo alias Keling pada Selasa malam, 18 Juni 2019, pukul 22.30 WIB.

Kejadian juga berujung kematian terhadap buaya yang diduga memangsa korban. Perutnya dibedah beberapa warga untuk mengambil bagian tubuh korban Keling.

Saat ini, masyarakat masih terus mencari buaya lainnya yang disebut sebagai pemangsa utama Keling ketika mengikat kayu. BBKSDA tak ingin ada buaya lagi dibunuh masyarakat untuk mencari sisa tubuh korban lainnya.

Menurut Kepala BBKSDA Riau Suharyono, timnya sudah tiba di lokasi untuk menenangkan masyarakat. Sosialisasi intens dilakukan agar masyarakat tidak bertindak anarkis ketika melihat buaya di kanal yang mengalir ke Sungai Lakar.

"Agar tidak anarkis, terkait tindakan sebelumnya kami hargai sebagai rasa empati masyarakat untuk mencari korban," jelas Suharyono di Pekanbaru, Kamis petang, 20 Juni 2019.

Selain sosialisasi, BBKSDA memasang sejumlah papan peringatan di beberapa titik. Papan itu berisi imbauan agar masyarakat tidak beraktivitas di kanal supaya tak ada korban lain.

Tak hanya itu, masyarakat diminta tidak beraktivitas secara berlebihan di kanal yang bisa memancing kehadiran buaya. Masyarakat diharap tidak menimbulkan bau yang bisa merangsang buaya datang.

"Yang paling penting itu jangan menangkap buaya lagi," pinta Suharyono.

2 of 2

Jenis Buaya Belum Teridentifikasi

Buaya hasil tangkapan nelayan karena meresahkan masyrakat pinggiran Sungai Siak, Kota Pekanbaru.
Buaya hasil tangkapan nelayan karena meresahkan masyrakat pinggiran Sungai Siak, Kota Pekanbaru. (Liputan6.com/M Syukur)

Hingga kini, Suharyono belum bisa mengidentifikasi jenis buaya yang dibunuh masyarakat sekitar. Identifikasi sulit dilakukan karena moncong buaya terluka parah karena dipukul.

"Dari video yang kami terima, itu buayanya sudah hancur. Jadi belum jelas jenisnya, apakah sinyulong atau muara," kata Suharyono.

Sebelum kejadian, BBKSDA pernah menerima laporan kemunculan buaya di sungai itu. Namun, lokasi yang disebutkan berbeda dengan tempat Keling diterkam buaya.

Secara umum, tambah Suharyono, perairan di Riau masih banyak dihuni buaya. Hal ini wajar karena buaya memang hidup di sungai sehingga tindakan yang bisa dilakukan hanyalah sosialisasi.

"Bahkan di Pekanbaru saja, ada kemunculan buaya beberapa waktu lalu," kata Suharyono.

Sekadar informasi, konflik buaya dengan manusia acap kali terjadi di Riau. Beberapa kasus berujung kematian, seperti kejadian di Rokan Hulu, Kepulauan Meranti, Rokan Hilir, dan terakhir Siak.

Di Riau, BBKSDA mengidentifikasi ada dua jenis buaya yaitu sinyulong dan muara. Buaya sinyulong biasanya lebih suka memakan ikan dan jarang memakan manusia.

Sementara buaya muara, biasanya lebih aktif menyerang manusia karena punya ukuran lebih besar. Buaya ini mendiami sungai besar di Riau yang bermuara ke laut.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓