Kondisi Kakek Pemakai Ikat Pinggang Penahan Lapar Usai Banjir Konawe Utara

Oleh Ahmad Akbar Fua pada 21 Jun 2019, 07:00 WIB
Diperbarui 21 Jun 2019, 07:00 WIB
Kakek Tahir, lansia pemakai ikat pinggang penahan lapar, berbaring di tenda pengungsi di Konawe Utara.(Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Liputan6.com, Konawe Utara - Tahir (80), kakek pemakai ikat pinggang penahan lapar sempat hilang kontak saat banjir Konawe Utara, Sabtu (1/6/2019) hingga Jumat (14/6/2019). Lansia yang bekerja sebagai pemanjat kelapa itu, diketahui berdomisili di Desa Laroonaha, Kecamatan Oheo, kabupaten Konawe Utara.

Saat banjir melanda, Tahir yang sudah renta dan tak mampu berdiri tegak lagi, langsung dibawa kerabatnya mengungsi. Dikabarkan mengungsi di dekat lokasi pemakaman umum, Tahir kemudian tak terdengar kabarnya.

Setelah hampir tiga pekan, muncul kabar dari kerabatnya, Tahir dalam keadaan selamat usai banjir Konawe Utara. Kerabatnya juga membenarkan, Tahir hanya bertahan dengan makan nasi, mi instan, dan biskuit selama mengungsi.

Lisratin, kerabatnya yang berhasil dihubungi mengatakan, Tahir sudah kembali di rumah keluarganya Kecamatan Oheo. Saat ini, keluarga sementara membersihkan rumah dan halaman yang penuh lumpur sisa banjir Konawe Utara.

"Selama mengungsi, susah jaringan telepon. Sampai hari ini pun, kadang masih putus jaringan," ujar Lisratin.

Dia mengatakan, Tahir dan keluarganya dalam keadaan sehat-sehat. Meskipun, kekurangan pakaian bersih.

"Mereka mengungsi hanya pakaian di badan. itupun, bangun tenda di samping lokasi kuburan," kata Lisratin.

Dalam video yang beredar, Tahir terlihat sedang berbaring hanya menggunakan kaos singlet dan celana pendek di dalam tenda darurat. Tenda berdiri di pinggir pemakaman umum di Kecamatan Oheo.

Selain tenda yang ditempati Tahir, ada beberapa tenda di lokasi itu. Menurut informasi, ada puluhan warga yang menginap di wilayah yang sama saat banjir setinggi dua meter lebih merendam kecamatan Oheo.

Diketahui, kakek Tahir merupakan lansia asal Konawe Utara yang kedapatan menggunakan ikat pinggang penahan lapar. Ikat pinggang milik Tahir, terbuat dari sabuk berbahan kain yang diikatkan di perut.

Kondisi pria korban banjir Konawe Utara itu terungkap ketika istrinya, Nuru (65) dirawat di rumah sakit karena terjatuh dan pingsan diatas bara api. Dia mengaku, menggunakan ikat pinggang untuk mengendalikan rasa lapar jika tak memiliki makanan.

2 dari 2 halaman

Kondisi Nuru, Lansia Yang Pingsan Diatas Bara Api

Kakek Tahir dan istrinya, Nuru saat di rumah sakit.(Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)
Kakek Tahir dan istrinya, Nuru saat di rumah sakit.(Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Nuru, istri kakek Tahir juga sempat viral usai terjatuh dan pingsan di atas bara api, Rabu (27/3/2019). Lansia asal Konawe Utara itu, harus menjalani operasi bedah plastik usai terkena siraman air panas dan terbakar bara api.

Ditemui di rumah sakit, terungkap kondisi keduanya yang membuat haru. Nuru hanyalah ibu rumah tangga biasa. Dia mengalami sakit yang menyebabkan lengan kirinya tak leluasa bergerak.

Sejak masuk RS, Nuru sudah menjalani tga kali bedah plastik. Terakhir, dilakukan penempelan kulit pada bagian tubuhnya yang melepuh karena terbakar.

Namun, masalah muncul setelah operasi terakhir. Tangan kirinya yang sudah ditempel kulit baru, ternyata sulit digerakkan.

Kata dokter yang menangani, perlu operasi sekali lagi untuk membuat lengannya bagus. Persendian di lengan kiri, akan menjalani bedah ringan.

"Tapi, kami tak bisa dulu karena tak ada biaya. Sebab, biaya bolak balik rumah sakit dari kampung ke rumah sakit, tidak sedikit," ujar kerabatnya, Lisratin.

Kondisi suaminya Tahir, tak jauh berbeda. Meskipun sudah renta, Tahir tetap bekerja sebagai pemanjat kelapa dan penjaga kebun milik warga di kampungnya. Pria asal Nusa Tenggara Timur itu, dibayar dengan sistem bagi hasil.

 Saksikan juga video pilihan berikut ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓